Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 251 - Melanjutkan Perjalanan


Melihat lawan dari manusia setengah dewa pujaan mereka masih berdiri tegak di area pertarungan, jutaan pasang mata dari prajurit kerajaan yang menyaksikannya tentu saja terbelalak.


Mereka kini bimbang apakah mereka harus tetap diam saja ditempat mereka berada atau maju menyerang wanita ramping itu secara bersamaan.


Namun, puluhan juta prajurit itu akhirnya memutuskan untuk tidak sembarangan bertindak saat melihat apa yang wanita ramping itu lakukan pada Herakles sambil berseru nyaring mengancam mereka.


"Jika kalian berani bergerak, aku akan meledakkan tubuhnya!" ucap Anna dengan lantang, sembari menerbangkan Herakles di dekat tubuhnya. Ia melakukan hal itu hanya dengan memanipulasi udara di sekelilingnya saja.


"Anna, ayo kita pergi sekarang sebelum dewa Zeus datang. Kita masih memiliki banyak waktu untuk pergi ke perbukitan itu dan memeriksa goa di sana," ajak dewi Ezili yang sedang bertengger di pundak Anna.


"Kita masih punya waktu?"


"Ya. Saat ini harusnya dewa peranglah yang datang. Tapi, karena mereka sedang ditahan, maka kita memiliki waktu untuk pergi ke perbukitan itu," sahut dewa Ogun.


Anna akhirnya ingat, ada jeda waktu cukup lama sebelum dewa Anu dan dewi Ki datang. Mereka malah mungkin akan datang lebih lama lagi jika saat itu dewan pengawas para dewa tidak berada di sana.


Hal itu juga terjadi saat ia berada si kuil suci bangsa Elf. Dewi Yolin juga datang sangat terlambat setelah dewa Eru menampakkan diri.


Anna akhirnya memberi tanda pada Lorelei dan Nordic yang kemudian mengajak 460.000 pasukan berkuda untuk langsung bergerak pergi mengikuti Anna yang kini terbang terlebih dahulu masuk ke dalam kerajaan.


Walaupun 460.000 pasukan berkuda itu sangat mengganggu para warga di dalam tembok kerajaan, namun tak ada satupun dari mereka yang protes atau berani menghalangi jalan.


Apalagi saat mereka melihat Herakles yang tak sadarkan diri telah dibawa Anna sebagai sandera.


Baru setelah mereka berada di perbatasan antara kerajaan itu dan wilayah perbukitan, Anna akhirnya meninggalkan Herakles yang pingsan di sana, lalu mereka pun melanjutkan perjalanan lagi.


•••


Anna dan para pengikutnya akhirnya tiba di sebuah goa yang sangat besar, yang menurut Nordic adalah satu-satunya jalan menuju inti planet.


Goa itu bahkan bisa menampung semua pasukan berkuda saat mereka masuk kedalamnya bersama-sama.


"Kenapa Anda membawa mereka, nenek guru?" tanya Anna pada Lorelei saat melihat pasukan berkuda itu ikut masuk bersama mereka.


"Mereka yang ingin ikut. Biarkan saja. Mereka memiliki energi Mana yang cukup. Kita tidak perlu khawatir mereka akan pingsan berebutan udara di dalam sana," sahut Lorelei.


Rombongan besar itu akhirnya turun ke dalam inti planet melalui lorong goa yang memutar-mutar seperti tak ada habisnya.


Untungnya, di sepanjang lorong yang sangat lebar itu ada banyak obor yang menerangi jalan dan membuat perjalanan mereka bisa menjadi lebih cepat.


Di sepanjang perjalanan, mereka menemukan banyak mayat dari segala jenis makhluk, juga bau busuk yang menyengat.


Dari kondisi mayat-mayat itu, Anna tahu bahwa makhluk-makhluk itu bukan mati karena pertarungan. Mereka sepertinya mati sebagai makanan pemangsanya.


'Ini sangat menjijikkan.'


•••


Setelah mereka berjalan dengan terburu-buru selama beberapa puluh menit, mereka akhirnya sampai ke ruangan besar yang pernah mereka lihat. Itu adalah ruangan dimana dewi Lyn dan dua dewa perang dari bangsa Titans pernah berada. Di ruangan itu juga mereka terakhir kali melihat keberadaan dewi Lyn sebelum akhirnya pengelihatan itu terputus.


Melihat keadaan yang sangat sepi, Anna dan para pengikutnya akhirnya turun lagi ke tempat terdalam.


Tempat terdalam itu tidak memiliki obor sama sekali, hingga mereka harus membawa obor sebagai penerangan.


Sampai akhirnya, mereka tiba juga di dekat inti planet dan tidak menemukan apa pun di sana selain kawah dari lahar yang menyala dan menyebabkan hawa di dalam goa sangat panas.


"Apa mereka sudah pindah dari tempat ini?" tanya Anna pada dewi Ezili.


"Aku tidak tahu. Yang pasti sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di tempat ini," sahut dewi Ezili.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


"Ayo kita berkeliling dulu di tempat ini dan memeriksa siapa tahu ada jejak yang tertinggal."


Tapi, hanya Anna, dewi Ezili, dewa Ogun, Lorelei dan Nordic saja yang memeriksa tempat itu sedangkan ratusan ribu prajurit diminta untuk tetap menunggu diam di atas kuda mereka masing-masing.


Setelah memeriksa tempat itu secara keseluruhan, sayangnya mereka tidak menemukan jejak apa pun disana.


"Apa kita kembali sekarang, dewi Ezili?" tanya Anna. Ia sebenarnya sangat kecewa karena tidak bisa menemukan jejak apa pun di tempat itu.


"Sebentar," sahut dewi Ezili. Ia kemudian melompat ke pundak Anna, sebelum akhirnya berbicara pada Nordic.


"Nordic, apa kau membawa bola kristal mu?"


"Saya membawanya, dewi Ezili," sahut Nordic.


"Ayo kita melakukan ritualmu lagi dan memeriksa tempat ini sekali lagi," pinta dewi Ezili.


Nordic akhirnya mengeluarkan bola kristal yang kini hanya seukuran sebuah kelereng dari balik jubahnya. Namun, saat bola kristal itu sudah ia letakkan di telapak tangannya, bola kristal itu tiba-tiba mengembang sampai hampir seukuran sebuah bola basket.


Nordic kemudian meletakkan bola kristal di lantai goa dan meminta mereka untuk mendekat.


Mereka akhirnya duduk di lantai goa, mengelilingi bola kristal, lalu meletakkan salah satu telapak tangan di atas bola itu. Apa yang mereka lakukan persis seperti yang mereka lakukan di goa Nordic di tempat suku Miyu.


Sayangnya, sihir Nordic tidak bekerja. Sosok berjubah ungu sepertinya telah menghapus jejak mereka dengan sihirnya karena tahu bahwa ada yang bisa melacak keberadaan mereka.


"Sayang sekali," keluh dewi Ezili yang akhirnya memiliki rasa putus asa yang sama dengan Anna.


"Sekarang, kita sebaiknya kembali dan bersiap-siap. Dewa Zeus mungkin akan datang sebentar lagi," dewa Ogun mengingatkan.


Namun, saat mereka sudah bersiap untuk kembali naik ke atas, Nordic tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang memiliki aliran energi sihir dari sudut dinding goa.


"Tunggu dulu," pinta Nordic.


"Ada apa?"


"Sebentar. Saya merasakan ada aliran energi sihir yang sangat samar disana," ucap Nordic seraya menunjuk ke suatu arah.


Di antara mereka berlima, hanya Nordic sendiri yang tidak mengunci energi Mana. Jadi, ia tentu bisa merasakan energi Mana sekecil apa pun dengan sangat sempurna.


Nordic akhirnya pergi ke tempat yang ia curigai dan ia terkejut saat menemukan aliran sihir yang sangat tipis berasal dari sebuah lubang kecil yang hanya sebesar lubang jarum.


"Ada apa Nordic? Kau menemukan sesuatu?" tanya dewa Ogun dengan tidak sabaran saat melihat Nordic berjongkok diam di depan dinding goa.


"Tolong tunggu sebentar," pinta Nordic.


Pria berambut putih itu kemudian merapalkan sihirnya dan tak lama kemudian...


Wushhhhhh...


Sebuah gerbang sihir muncul di hadapannya.


"Gerbang sihir?"


"Ya. Meraka sepertinya meninggalkan sebuah lubang kecil untuk tanda agar mereka bisa kembali ke tempat ini," sahut Nordic.


"Apakah dewi Lyn berada di dalam sana?"


"Apa kita pergi ke sana?"


"Tentu saja. Ayo kita pergi," sahut Anna, yang akhirnya memiliki harapan lagi untuk menemukan keberadaan dewi Lyn.


•••••••