Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 293 - Pembicaraan Anna Dan Miyuki


Morgan Lloyd langsung berdiri dari kursinya di meja makan saat melihat Anna tiba-tiba muncul dihadapannya saat ia sedang menikmati sarapan.


Arthur Lloyd yang sedang menginap di kediaman utama keluarga Lloyd dan sedang sarapan bersama ayahnya juga terkejut melihat kedatangan Anna, apalagi cara kemunculan Anna yang secara tiba-tiba seperti itu.


Tanpa memerdulikan keterkejutkan kakek dan pamannya, Anna menarik salah satu kursi dari bawah meja makan lalu duduk disana dengan tenang.


"K-kau! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau begitu santai bolak-balik kesini? Ini bukan rumahmu lagi!" bentak Morgan Lloyd.


Setelah membentak Anna, Morgan berputar mengelilingi meja panjang itu, bermaksud untuk menyeret Anna keluar dari mansion utama keluarga Lloyd, bahkan perlu melemparnya keluar gerbang yang berada jauh di depan sana.


Tapi, saat ia sudah berada di belakang Anna dan baru hendak mencengkeram pundak gadis itu, ia tiba-tiba saja sudah duduk di kursi di seberang Anna.


"A-apa yang terjadi? Kenapa aku bisa...," Morgan yang kebingungan, hanya bisa memelototi Anna. Ia ingin bangkit berdiri lagi, namun tubuhnya seakan terlem di kursi itu.


"Anda sepertinya sudah sangat pikun, kan? Tuan Lloyd?" ucap Anna. Ia kemudian menoleh pada Arthur, "Benar kan paman?"


Arthur sejak tadi hanya diam dengan tubuh gemetar setelah melihat Anna tiba-tiba muncul di situ. Karena ia takut, Arthur akhirnya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Anda sudah tahu kalau saya bisa saja membunuh Anda dengan mudah, tapi Anda masih berani berniat kasar pada saya?" ucap Anna lagi sembari menatap tajam pada Morgan.


Morgan tidak terima dikatai seperti itu oleh seorang yang sangat ia benci. Ia akhirnya mengumpatkan kata-kata kasar, namun ia langsung terdiam saat Anna membelah meja dihadapan mereka menjadi dua.


Morgan masih hendak mengumpat, namun ia langsung terdiam saat melihat Brandon Lloyd yang seharusnya tidur dengan tenang di kamar tiba-tiba terbang melayang dan berhenti dihadapannya.


"Berani mengumpat lagi, tubuh putra kesayangan Anda ini akan terbelah seperti meja ini," ucap Anna, dengan nada mengancam yang sungguh-sungguh.


Anna memang berniat melakukannya jika Morgan masih berani meneriakinya dengan kasar lagi. Ia tahu, hanya hal ini yang akan membuat Morgan yang sangat membencinya itu bisa diam.


°°°


"Apa maksudmu datang kesini?" tanya Morgan akhirnya, sambil berusaha menahan diri untuk tidak berbicara sambil berteriak pada Anna.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Anna mengambil smartphone nya. Ia kemudian mengetik-ngetik di layar, lalu tak lama kemudian menunjukkan layar itu pada Morgan.


"Itu uang yang pernah Anda berikan pada saya beserta semua saham yang Anda berikan juga. Saya sudah mentransfer semuanya kembali pada Anda."


Morgan memerhatikan layar smartphone Anna sebentar sebelum ia menatap Anna kembali.


Ia ingin bertanya lagi, namun Anna berbicara lagi mendahuluinya.


"Walaupun energi Mana Anda tidak terkontaminasi energi Mana iblis, tapi energi Mana Anda itu sangat tidak berguna. Gerbang-gerbang Dungeon juga tidak akan ada lagi. Jadi saya akan memusnahkan energi Mana yang Anda miliki," ucap Anna.


Ia tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di belakang Morgan.


Anna menyentuh ubun-ubun pria renta itu lalu menarik keluar semua energi Mana nya. Ia juga melakukan hal yang sama pada Arthur, sebelum akhirnya lenyap dari tempat itu meninggalkan Morgan dan Arthur yang berteriak histeris, menahan rasa sakit saat energi Mana mereka sedang dalam proses pemusnahan, juga karena marah atas tindakan Anna tersebut.


•••


Anna langsung pergi ke ruang bawah tanah untuk memeriksa kemajuan peningkatan experience dan energi Mana Gina, Kevin, Bimo dan avatar Rin.


Melihat peningkatan pesat yang terjadi pada mereka, Anna cukup senang. Terutama saat ia pergi ke dunia buatannya dan melihat kristal sihir untuk peningkatan experience itu masih sangat banyak.


"Sepertinya mereka akan mendekati kekuatan Nobara jika kristal-kristal ini nanti habis," ucap Anna saat Miyuki juga masuk ke dunia buatan menyusulnya.


"Sepertinya begitu," ucap Miyuki, sambil ikut menatap gunungan kristal sihir yang masih ada.


"Aku penasaran. Bagaimana caramu bisa meningkatkan energi Mana sebesar milikmu? Kristal yang diberikan bangsa Elf ini jauh lebih banyak dibandingkan menambang dalam 3 tahun. Tapi jika semuanya disatukan pun, energi Mana yang terkumpul bahkan tidak akan mencapai 10% energi Mana mu."


Miyuki melirik pada Lorelei yang sedang melatih Nobara, Fael dan Gina.


"Sepertinya inti Mana yang nona Lo berikan padaku dulu itu yang melipat gandakan kapasitas energi Mana ku."


Anna mengangguk-angguk pelan.


"Kalau begitu masuk akal."


Miyuki menoleh pada Anna lagi.


"Kau sendiri, seberapa besar kapasitas energi Mana mu?"


Anna mengetuk-ngetuk bibirnya dengan ujung jari telunjuknya.


"Mungkin seratus kali lipat kapasitas milikmu."


"Huh?!"


"Tsk... Kalau begitu, kau tidak akan pernah bisa kehabisan energi Mana..."


"Tidak juga. Aku sebenarnya pernah kehabisan energi Mana dan aku hampir mati jika dewa Ogun, dewi Ezili dan dewi Ann tidak menolongku."


"Apa saat kau bertarung dalam perjalananmu? Musuh seperti apa yang kau hadapi?"


Anna tersenyum canggung lalu menggaruk-garuk kepalanya, merasa malu.


"Alam semesta."


"Huh?"


"Aku kehabisan energi Mana saat melakukan perjalanan antar galaksi."


"..."


"Hal itu tidak diperbolehkan oleh hukum dewan pengawas para dewa. Jadi itu benar-benar hampir membunuhku."


"Tsk... Pantas saja. Kau memang ceroboh."


"..."


"Anna..."


"Ya?"


"Menurutmu..., apa kita bisa menang? Kau pernah melihat enam pertempuran sebelumnya, kan? Bagaimana kekuatan musuh kita itu?"


Anna menggelengkan kepalanya lagi sembari tersenyum pahit. Ia menatap Miyuki lekat-lekat dan mengaguminya di dalam hati.


Ditatap seperti itu, tentu saja membuat Miyuki risih.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja..., aku tidak tahu perjuangan seberat apa yang sudah kau jalani," sahut Anna sambil tersenyum pahit.


"Tsk... Tidak ada hal yang berat selama ini. Kenapa kau malah berbicara seperti itu? Kau bahkan belum menjawab pertanyaan ku."


"Maksudku..., jika kau memiliki ingatan dari enam kehidupanmu sebelumnya, harusnya kau tahu sekuat apa lawan kita nanti," sahut Anna lagi.


Miyuki mengeryitkan kedua alisnya, menatap Anna dengan bingung.


"Apa maksudmu?"


Masih mempertahankan senyum pahitnya Anna akhirnya memberitahu Miyuki mengenai apa yang terjadi di enam kehidupan sebelumnya.


"Sebenarnya, hanya kau sendiri yang masih berjuang bertarung melawan semua pasukan iblis sebelum kau mati dan dewi Ann akhirnya datang untuk menghancurkan para penyerang itu beserta galaksi kita."


Miyuki tidak memberikan tanggapan apa pun. Ia menatap Anna dengan tanda tanya besar di dalam benaknya.


Walaupun Anna tidak menjelaskan lebih rinci, namun Miyuki juga tidak menanyakannya lagi lebih jauh. Karena itu, Anna juga tidak lanjut memberitahu detail yang terjadi di enam kehidupan sebelumnya mengenai para iblis itu.


Tapi, setelah mereka diam hampir selama 3 menit, Miyuki akhirnya bertanya lagi.


"Apa yang kau lakukan di enam kehidupan sebelumnya?"


Anna menatap Miyuki dulu sebelum menjawabnya. Ingin melihat apakah ekspresi Miyuki selaras dengan nada suaranya, yang terdengar dan dapat Anna rasakan sangat peduli padanya. Ia benar-benar ingin melihat seperti apa ekspresi Miyuki saat gadis imut itu sedang mengkhawatirkan seseorang.


Anna tertawa nyaring setelah melihatnya. Ia kini akhirnya tahu, ekspresi Miyuki memang selalu datar, apa pun isi hatinya.


"Huh? Kenapa kau tertawa?"


"Tidak... Tidak apa-apa," sahut Anna di sela tawanya sebelum akhirnya tertawa lebih nyaring lagi.


"Tsk... Kau memang menyebalkan."


Setelah puas tertawa, barulah Anna menjawab pertanyaan itu.


"Aku selalu mati di enam kehidupan sebelumnya saat terjatuh dari gedung itu."


•••••••