Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 186 - Elf Klan Api


Saat Peral baru saja keluar dari tenda Sylph, salah satu Elf yang baru saja tiba di depan tenda milik Peral langsung menoleh dan berlari kecil menghampiri Peral.


"Ada apa?" tanya Peral yang merasa bingung saat melihat salah satu pengawal kepercayaan pemimpin klan berada di wilayahnya.


“Tuan Peral, pemimpin meminta Anda untuk menemuinya.”


"Apa?" Peral sedikit terkejut.


Baru dua hari lalu ia bertemu dengan pemimpin klan dan diminta untuk terus berpatroli di sepanjang sungai, menjaga pertahanan klan.


Biasanya, pemimpin tidak akan memanggil panglima yang sudah di berikan tugas dalam jangka waktu beberapa bulan setelahnya.


“Apa ketua meminta ku menghadap sekarang?” tanya Peral.


“Ya, tuan.”


Peral diam sebentar, memikirkan kemungkinan hal penting apa yang pemimpin klan miliki sampai harus memanggilnya di pagi buta seperti ini.


"Apakah ada masalah?" tanya Peral pada utusan itu.


"Saya tidak tahu, tuan. Pemimpin hanya meminta untuk memanggil Anda."


Peral akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku akan pergi bersama mu.”


Keduanya kemudian pergi menuju tenda terbesar yang berada agak jauh dari tenda milik Peral dan Sylph berada.


Ketika mereka sudah tiba di sana, Peral tidak melihat adanya pasukan di sekitar tenda, dan ia pun kini bisa merasa sedikit lega.


Tadinya, Peral khawatir jika ada berita serangan dari klan lain hingga membuat pemimpin klan memanggilnya pagi-pagi sekali.


Kekhawatiran Peral bukan tanpa sebab. Hilangnya tempat berlindung milik Klan Api, membuat mereka sangat rentan terhadap serangan klan lain.


Mereka kini tidak memiliki hutan untuk menyembunyikan diri dari sergapan lawan. Hingga, andai saja ada klan lain datang untuk menyerang, mereka tentu akan sangat kesulitan untuk bertahan.


Peral kemudian memasuki tenda pemimpin klan. Ia sedikit terkejut sekaligus merasa malu ketika melihat panglima veteran Legalos sudah berada di sana mendahuluinya.


"Maaf jika saya terlambat." Ucap Peral, dengan wajah sedikit memerah karena malu.


Pemimpin klan dan panglima senior itu langsung tertawa ketika melihat Peral tampak merasa bersalah seperti itu.


“Duduklah, Peral,” Zobyr, pemimpin klan, langsung mempersilahkan Peral bergabung bersama mereka di tempat duduk sederhana yang sama sekali tidak menjunjukkan kemewahan seperti biasanya, dari ruangan seorang pemimpin klan.


“Bagaimana dengan wanita itu?” tanya Legalos, setelah Peral duduk di dekatnya, mendahului kepala klan yang sebenarnya juga ingin menanyakan hal yang sama.


“Dia belum bangun, tuan Legalos.” Sahut Peral.


“Aneh, bagaimana ada makhluk yang bisa tertidur begitu lama jika dirinya baik-baik saja?”


Peral diam-diam menarik nafas panjang, bingung harus menjawab ataupun mengomentari pertanyaan Legalos, yang ia sendiri juga tidak mengetahui penyebabnya.


Walaupun Zobyr juga agak penasaran, namun ia tahu bahwa mereka semua tidak mengetahui apa penyebabnya. Jadi, dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai tahanan itu.


Zobyr akhirnya mulai berbicara dan mengatakan niatnya memanggil Peral untuk menemuinya.


"Peral. Pemimpin dari klan Tanah dan Klan Es sudah menghubungi ku dan kami sudah menentukan tanggal pertemuan antar klan.” Ucap Zobyr.


Mendengar itu, raut wajah Peral berubah menjadi lebih serius.


"Kau benar." Zobyr diam sebentar, lalu melanjutkan, “Aku sebenarnya tidak ingin mengirimkan salah satu dari kalian ke sana, tapi kita tidak memiliki anggota lain yang cakap sebagai perwakilan.”


Peral mengangguk pelan.


Ia tahu, pertemuan antar utusan klan sangat berbahaya. Bisa saja ada salah satu klan yang menyiapkan jebakan untuk menyingkirkan pesaing mereka.


Biasanya, panglima perang tidak dipilih sebagai utusan. Masing-masing klan tidak ingin panglima perang mereka berada di luar wilayah klan mereka sendiri.


Penyebabnya tak lain karena adanya zona perang yang sewaktu-waktu bisa mengisolasi wilayah mereka. Jadi, panglima perang harus terus berada di wilayah mereka, untuk berjaga-jaga dan mereka biasanya hanya diizinkan pergi sejauh wilayah perbatasan saja.


Biasanya, Kalan Api akan mengirimkan Fael, Eleanor dan Glynka sebagai utusan. Sayangnya, mereka di duga telah tewas dalam misi memata-matai Klan Angin yang telah musnah saat wilayah klan tersebut berada di dalam zona perang.


Mengetahui musnahnya Klan Angin, masing-masing klan akhirnya lebih intens untuk melatih kekuatan dan menjaga agar panglima perang mereka tidak sampai dikirimkan dalam peperangan di wilayah lain.


Namun, pertemuan yang akan tiga klan lakukan kali ini sangatlah penting, sehingga Klan Api terpaksa harus mengirimkan salah satu panglima yang menjadi kepercayaan pemimpin klan untuk pergi ke sana di bandingkan memilih salah satu penatua untuk menggantikan tugas Fael, Eleanor dan Glynka.


“Kapan pertemuannya, ketua?” tanya Peral.


“Hanya dua bulan lagi sebelum jangka waktu ramalan terjadi. Jadi, kami para ketua telah memiliki kesepakatan untuk mengirimkan utusan ke wilayah netral dalam satu minggu,” Sahut Zobyr.


Peral mengangguk. Ia tahu, pilihan yang tersisa hanya dirinya. Klan tidak mungkin mengizinkan Legalos pergi ke pertemuan tersebut.


“Saya akan pergi," ucap Peral, sebelum pemimpin klan memerintahkan.


“Tidak. Aku memanggil mu ke sini justru untuk meminta perserutuan agar kau dapat memimpin para tentara untuk menjaga wilayah kita, menggantikan Legalos.”


"Apa?"


“Aku yang akan pergi. Pemimpin memanggil mu untuk menanyakan kesanggupan mu untuk menjaga wilayah kita seandainya wilayah kita tiba-tiba masuk dalam zona perang.” Ucap Legalos, menjelaskan.


Sebagai seorang panglima perang veteran, Legalos memiliki pengalaman bertempur dan kekuatan bertarung di atas Peral.


Selama ini, wilayah Klan Api sudah 2 kali berada di dalam zona perang. Legalos selalu berhasil membasmi bangsa pemburu dan menghancurkan pilar sihir untuk membuat wilayah mereka tetap aman.


Mendengar itu, Peral tentu saja sangat terkejut. Dia sama sekali tidak memiliki masalah jika harus pergi ke pertemuan dan di jebak oleh klan lain di sana.


Dia lebih senang mati sendirian dalam jebakan lawan, di bandingkan mengorbankan seluruh anggota klan jika dia menjadi pemimpin perang menggantikan Legalos.


Peral lebih mementingkan wilayah klannya tetap aman di bawah komando Legalos yang memiliki pengalaman tempur yang tidak perlu dipertanyakan lagi.


“Tapi…, saya masih belum memiliki pengalaman bertempur di dalam zona perang,” ucap Peral, dengan nada tidak setuju.


Peral baru saja menggantikan ayahnya yang telah pensiun. Ia memang pernah ikut bertempur di dalam zona perang, namun hanya sebagai pemimpin sebuah regu pemanah saja.


Selain karena pengalamannya yang kurang, Peral juga khawatir karena bangsa pemburu tampaknya semakin kuat. Hal itu di buktikan dari musnahnya Klan Angin yang tidak menyisakan 1 anggota pun sebagai penerus.


"Aku percaya, kau pasti bisa memimpin para prajurit jauh lebih baik dari ku, Peral." Ucap Legalos, memberikan kepercayaan diri pada pemuda yang berusia sepantaran dengan putrinya itu.


Karena tidak memiliki pilihan lain, Peral akhirnya menerima tanggung jawab yang sangat berat tersebut, walaupun ia memiliki banyak keraguan.


Tiga hari kemudian, setelah persiapan dilakukan dengan baik, Legalos dan dua pengawal kepercayaannya akhirnya berangkat menuju dataran tengah. Tempat netral yang biasanya dijadikan wadah pertemuan antar klan.


•••••••