Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 189 - Selamat Tinggal


"Tunggu, tunggu! Jangan bunuh dia!" Seru Reinhard Bern, seraya mengangkat kedua tangan ke depan tubuhnya, bermaksud mencegah tindakan Sylph.


Sylph memang tidak mengerti apa yang Reinhard katakan. Namun, dari bahasa tubuh pria itu, dia mengerti bahwa lawannya sedang memohon agar dia tidak membunuh tahanan mereka.


"Rei, kenapa kau ingin bernegosiasi dengan monster ini? Kita harus segera membunuh mereka dan kembali pada tim utama." Tegur salah satu Hunter yang tidak senang dengan tindakan Reinhard.


"Itu benar. Lagian, bukan kah dia Anna? Kita akan mendapat hadiah besar jika berhasil membawa kepalanya!" Ucap Hunter lainnya.


Namun, Reinhard memelototinya. Ia tidak senang dengan teguran itu dan tetap ingin menyelamatkan Anna.


"Ada urusan yang belum ku selesaikan dengannya," ucap Reinhard.


Ia kemudian menatap Anna seraya tersenyum licik.


'Jadi para Elf berhasil membuatnya tak berdaya seperti ini? Aku akan memotong kedua kaki dan tangannya sebelum ku ajak sedikit bermain-main.'


Reinhard menghentikan tindakan Sylph bukan karena benar-benar ingin menyelamatkan Anna. Reinhard berniat untuk sedikit menyiksa Anna sebelum membunuhnya, mengingat perbuatan yang Anna lakukan yang telah membuatnya harus terkurung berbulan-bulan di penjara Hunter.


Bukan hanya pada dirinya saja. Apa yang Anna lakukan juga telah membuat keluarga nya mendapatkan imbas dan menanggung hinaan dari kalangan Hunter kelas atas, setelah Anna membongkar peristiwa yang terjadi di Asian Soul.


'Aku tidak akan membiarkannya mati dengan mudah sebelum menyiksanya!'


Reinhard mengalihkan pandangannya pada ketiga Elf di hadapannya. Senyum licik nya semakin mengembang karena ia tahu, ketiga Elf tersebut memiliki energi Mana satu tingkat di bawahnya.


Reinhard akhirnya mengambil ancang-ancang untuk menyerang dan membuat gerakannya terlihat dengan sangat jelas.


Setelah melihat lawannya semakin mewaspadainya, ia pun mulai menyerang.


Reinhard mengarahkan pedangnya dengan gerakan lambat menuju salah satu Elf yang berada di samping Sylph dengan gerakan menusuk yang jelas mengarah ke dadanya.


Itu adalah cara licik yang biasa ia gunakan saat sedang bertarung melawan musuh yang lebih lemah darinya. Ia membuat gerakan yang agak lambat agar terlihat oleh lawan, hanya sekedar untuk menipu mereka.


Saat Elf itu bersiap untuk menangkis serangannya, Reinhard tiba-tiba berbelok arah dan melesat cepat menusuk ke arah Sylph.


Tentu saja Sylph sangat terkejut ketika pria itu tiba-tiba merubah arah serangan dan menambah kecepatannya.


Sylph buru-buru bergerak mundur untuk menghindari serangan kejutan itu. Namun, karena ia kurang waspada, usahanya untuk menghindari serangan menjadi sia-sia karena ujung pedang Reinhard sudah berada tepat di dekat lehernya.


Tappp...


Reinhard menyeringai lebar saat merasakan ujung pedangnya berhasil mengenai di leher lawan.


Namun, saat ia hendak menarik kembali pedangnya dan berniat untuk langsung menyerang dua Elf lain, pedang itu sama sekali tidak bisa bergerak, tertahan oleh sebuah kekuatan yang sangat besar.


Penasaran dengan kekuatan yang menahan gerakannya, Reinhard melihat ke arah bilah pedangnya dan terkejut saat melihat bilah pedangnya terapit di antara dua jari ramping yang kemudian menarik pedangnya dengan paksa.


Hanya dengan satu gerakan menarik, kedua jari ramping itu berhasil merebut pedang dari genggaman Reinhard dengan sangat mudah, hingga membuat Reinhard kaget dan langsung melompat mundur beberapa meter.


Anna tiba-tiba membuka kedua matanya lalu duduk secara perlahan. Ia kemudian menoleh ke arah Sylph yang sedang terengah akibat merasa takut ketika ujung pedang tadi hampir menembus lehernya.


"Aku bukan musuh kalian. Duduk saja dan jangan ikut campur," ucap Anna pada Sylph.


Sylph menatap balik Anna dengan mata melebar, terkejut ketika makhluk itu tiba-tiba bangun dan berbicara menggunakan bahasanya.


"A-anna... Kau sudah sadar?" ucap Reinhard dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya, tubuhnya juga mulai gemetar akibat rasa takutnya.


Reinhard tahu, ia kini sudah tidak akan memiliki peluang untuk melakukan niat liciknya pada Anna, saat gadis itu sudah dalam keadaan sadar.


Anna mengacuhkannya.


Lalu, dengan gerakan lembut, Anna kemudian berdiri, tanpa menopang tubuhnya.


Tubuhnya tiba-tiba saja terangkat dengan ringan seakan ada tangan yang tidak terlihat yang telah menariknya untuk bangkit dari tanah.


Anna kemudian menoleh pada 3 Hunter yang perlahan-lahan bergerak mundur, berusaha menjauhinya, sebelum tatapannya kembali dan berhenti pada Reinhard Bern.


Dengan tatapan dingin, Anna melangkah perlahan menghampiri Reinhard.


"Mereka membebaskan mu dan memberi memberi mu energi Mana iblis?"


Baru bertatapan dengannya saja, Reinhard sudah bergidik ngeri, terutama saat ia merasa energi Mana di tubuhnya bergejolak tidak normal, saat Anna mulai berjalan menghampirinya.


Saat mereka bertemu di aula Asian Soul dulu, Reinhard merasa bingung ketika semua Hunter kuat dapat Anna kalahkan dengan mudah, padahal ia tahu bahwa Anna memiliki energi Mana yang sangat kecil dan tampak sangat lemah.


Tapi sekarang, ia akhirnya menyadari betapa kuatnya aura energi Mana yang Anna miliki karena Energi Mana iblis yang ada di dalam tubuhnya dapat mendeteksi aura mengerikan yang Anna miliki.


Energi Mana iblis di tubuhnya malah terasa seakan-akan menolak untuk berada dekat di sekitar Anna, hingga membuat Reinhard seakan di paksa untuk mundur menjauh.


"Sekarang, apa kau bisa merasakannya?" tanya Anna tiba-tiba. "Tubuh mu terasa semakin panas, kan?"


"A-apa maksud mu?"


"Energi Mana iblis di tubuh mu. Kau merasa tidak nyaman saat berada dekat dengan ku, kan?"


"... Tapi, kenapa..."


"Aku sudah mengatakan pada dunia bahwa mereka adalah iblis. Dan kau..., sepertinya kau malah bergaul dengan mereka."


Sambil berbicara, Anna terus berjalan mendekati ketiga Hunter dengan sangat perlahan.


Cara berjalannya itu malah membuat Reinhard dan kedua rekannya merasa bertambah takut dan tentu saja mereka juga terus melangkah mundur.


"A-anna... ki-kita harus bicara dulu..."


"Aku sengaja menunjukkan aura energi Mana milik ku hanya ingin agar kau merasa menyesal sebelum aku membunuh mu."


"A-apa..."


"Selamat tinggal."


Wush...


Reinhard tiba-tiba merasakan angin dingin melintas pada kulit lehernya.


Plukk... Plukkk...


Tak lama kemudian, Reinhard menyadari bahwa tubuh itu adalah tubuhnya sendiri, yang kini sudah kehilangan kepala.


Reinhard juga melihat ada dua tubuh lain di samping tubuhnya yang juga telah kehilangan kepala mereka.


Ia akhirnya menemukan kepala kedua rekannya jug sudah berada di tanah, tepat di dekat kaki masing-masing tubuh tersebut.


Sebelum pandangannya menggelap dan kehilangan kesadarannya sama sekali, Reinhard akhirnya sadar bahwa Anna telah memenggal lehernya.


Setelah membereskan urusannya dengan ketiga Hunter itu, Anna berbalik dan menatap ketiga Elf yang gemetar ketakutan saat melihat komunikasi yang terjadi antara Anna dan ketiga Hunter.


Dari bahasa tubuh ketiga Hunter itu saja, mereka bisa tahu betapa kuatnya wanita yang selama ini tertidur di dalam tenda Sylph.


Ketiga Elf itu melihat tubuh Hunter-hunter yang kini sudah terkapar di tanah dengan tatapan bergetar. Mereka tahu bahwa ketiga Hunter itu memiliki energi Mana satu sampai dua tingkat di atas mereka.


Jadi, saat Anna bisa memenggal leher ketiganya dengan sangat mudah, ketakutan mereka semakin menjadi-jadi.


Namun, saat Sylph melihat tatapan dingin Anna tiba-tiba menghilang ketika tatapan mereka saling bertemu, Sylph bisa merasa sedikit lega.


Ia tahu, Anna tidak bermaksud mencelakainya.


"Tunggu sebentar," ucap Anna pada Sylph, yang ia tahu sedang ketakutan.


Anna kemudian membuka gerbang dunia ciptaannya, lalu memanggil beberapa nama setelah gerbang itu terbuka penuh.


Sylph agak kaget ketika Anna menyebut beberpa nama yang sangat tidak asing di telinganya.


Tak lama kemudian, dari dalam gerbang, muncullah 6 sosok Elf. Dan benar saja, 3 nama yang Anna sebutkan tadi sama dengan Elf yang Sylph kenal.


"Ele!" seru Sylph, saat ia melihat Eleanor yang adalah teman bermainnya sejak mereka masih kecil.


"Sylph!" seru Eleanor yang kemudian berlari ke arah Sylph dan memeluknya erat.


Melihat wajah haru dari dua Elf wanita itu, Anna jadi teringat pada teman-temannya di Bumi yang sudah dalam beberapa minggu ini tidak ia temui.


Ingatan itu pada akhirnya membawanya kembali pada Ren yang telah tewas, hingga ia pun mengalihkan pandangannya pada Elf lain.


Anna mengalihkan tatapannya menuju Fael, yang tampak sedang menatap jauh ke sebuah arah dengan kening berkerut.


"Kau lihat mereka?" tanya Anna pada Fael.


Fael menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya hanya bisa merasakan energi sihir mereka, dewi agung." Sahut Fael.


Namun, saat Fael menyadari bahwa bukan pertempuran di kejauhan itu yang Anna maksud, Fael akhirnya mengikuti arah telunjuk Anna, yang mengarah pada 3 kepala yang berserakan di tanah.


"Ya, dewi agung?" Sahut Fael lagi, seakan mengerti maksud Anna dan bersiap menunggu perintah.


"Penggal leher semua makhluk itu dan lemparkan semua kepalanya keluar gerbang."


Fael menatap Anna dengan ragu.


"Tapi, bukankah mereka dari bangsa Anda, dewi agung?"


Anna tersenyum miris.


"Mereka sudah tersesat. Bunuh saja."


"Akan saya lakukan." Ucap Fael yang kemudian pergi bersama Cirdan dan Nyrna, yang ia minta untuk pergi bersamanya.


Anna kini beralih pada Glynka.


"Kau bisa melihat makhluk yang sedang bertempur dengan pasukan Peral itu?" tanya Anna pada Glynka.


Glynka mengangguk.


Anna kemudian menatap ke arah di mana pasukan Peral sedang berusaha menembus dinding pertahanan yang dibuat oleh Hunter yang sedang mati-matian bertahan dari amukan mereka.


"Kau sekarang sudah bisa melihat sejauh lima mil?"


Wajah Glynka memerah dan ia menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah tersipu. "Jarak pandang saya sekarang sampai sepuluh mil lebih, dewi agung." Sahut Glynka.


Anna mengangguk, seraya tersenyum senang.


"Tapi, apa panah mu bisa menembus dinding pertahanan mereka?"


Glynka menatap kembali ke kejauhan, untuk mengamati kepadatan energi sihir yang melindungi tubuh para Hunter.


"Pelindungnya tidak terlalu kuat." Sahut Glynka, setelah ia melakukan pengamatan.


"Lakukanlah sekarang," Anna memerintahkan.


Glynka mengambil busur dan satu anak panah, lalu mulai membidik.


"Bukankah mereka ada dua belas?" Ucap Anna, yang sedikit merasa bingung saat Glynka hanya menggunakan 1 anak panah.


Glynka melontarkan anak panahnya terlebih dahulu, sebelum ia menjawab pertanyaan itu.


"Satu sudah cukup, dewi agung."


Anna akhirnya mengikuti gerakan anak panah, yang melesat dengan tak kasat mata itu, pergi sejauh 5 mil menuju area pertempuran.


Beberapa detik setelahnya, Anna terlihat kagum saat panah itu akhirnya berhasil menembus jantung seorang Hunter, lalu berbelok arah ke Hunter lain dan melakukan hal yang sama pada semua Hunter.


"Kau maju dengan sangat pesat!" Puji Anna, seraya menatap Glynka dengan dua mata nya yang berbinar.


Di tatap seperti itu, membuat wajah Glynka semakin merona dan salah tingkah.


Sementara itu, Sylph dan dua pengawalnya yang tidak memiliki jarak pandang sejauh Glynka dan Anna, hanya menatap mereka dengan wajah bingung.


Selain itu, mereka sebenarnya tidak terlalu memerhatikan apa yang sedang Anna dan Glynka bicarakan. Mereka lebih mengambil sikap waspada, sambil mengawasi salah satu Elf bertubuh tinggi dan ramping, yang masih berdiri dengan tenang di depan gerbang.


Mereka mengenal Elf tersebut. Dia adalah pemimpin dari Elf Klan Angin yang selama ini menjadi musuh dari Elf Klan Api.


•••