
Keadaan di dalam Dungeon itu sangat gelap. Hanya ada sedikit cahaya disana yang berasal dari gelombang sihir gerbang Dungeon.
Udara yang dingin dan lembab disertai suasana hening, membuat keadaan Dungeon itu sangat mencekam.
Tim raid hanya bisa mendengar suara nafas mereka yang terdengar berat akibat perasaan gugup yang ada bersama mereka.
Saat baru tiba di dalam Dungeon tadi, kapten tim mendengar suara hentakan kaki mereka pada lantai, menggema disekitarnya. Ia dapat menebak bahwa mereka kini sedang berada di dalam sebuah goa.
Tim raid masih tidak bergerak. Kapten tim memerintahkan semua orang untuk duduk berjongkok, sementara dia menyalakan lampu portable berbahan energi sihir.
Kapten tim mengangkat lampu itu ke atas kepalanya dan memantau situasi di sekitar mereka.
Saat kapten tim menganggukkan kepalanya, beberapa orang mengambil lightstick dan melemparkannya ke berbagai arah hingga kini tempat itu menjadi lebih terang.
Dengan memberikan kode menunjuk ke 5 arah berbeda, 5 Hunter kelas Tank bergegas pergi ke arah-arah tersebut tanpa berbicara sepatah katapun.
15 menit kemudian, kelima Hunter itu kembali pada tim mereka.
“Aman...”
"Aman...”
"Tidak ada monster sejauh 50 meter di depan.”
Saat kelima Hunter tersebut sudah mengatakan situasi sejauh yang baru saja mereka pantau, kapten tim mulai berbicara.
“Dilihat dari keadaan Dungeon ini, sepertinya monster-monster yang menjadi penghuni Dungeon adalah tikus-tikus raksasa atau laba-laba pemangsa.” Ucap pria brewok yang merupakan kapten tim. Dia adalah Hunter kelas Mage dengan peringkat D, tertinggi di antara Hunter lainnya yang rata-rata berperingkat E dan F.
“Aku berharap bukan laba-laba beracun atau ular-ular beracun.” Ucap salah satu Hunter.
“Tidak, aku tidak menemukan jejak jaring laba-laba atau jejak ular.” Sahut salah satu Tanker yang tadi bertugas memantau. Pernyataannya kemudian dibenarkan oleh keempat Tanker lainnya.
“Bagus. Mari berharap penghuni Dungeon adalah tikus-tikus raksasa karena bau dari goa ini seperti kotoran tikus.” Ucap ketua tim.
Biasanya, penghuni Dungeon dengan level E seperti tempat mereka berada saat ini adalah ketiga monster itu.
Sepengetahuan ketua tim, bertarung melawan tikus-tikus raksasa lebih mudah dibandingkan harus bertarung melawan laba-laba beracun atau ular beracun, terutama karena mereka tidak memiliki Hunter kelas Healer.
“Ingat fokus utama kita hanyalah mencari kristal sihir dan tumbuhan sihir atau tulang-tulang monster yang sudah mati. Usahakan hindari pertarungan melawan monster semaksimal mungkin.”
Mendengar ucapan ketua tim, Anna merasa sedikit senang. “Ternyata tingkat keserakahan mereka tidak terlalu tinggi. Mereka masih memikirkan nyawa.” Pikirnya.
Karena ada 5 lorong goa terpisah, kapten membagi tim itu menjadi 5 kelompok kecil, dengan masing-masing tim membawa seorang Tanker.
Kapten tim menghampiri Ren dan berbicara padanya. “Kau bisa melindungi pacar mu dan membiarkannya untuk lari lebih dulu jika hal buruk terjadi?” Tanya pria brewok itu dengan tatapan serius. Dia tidak sedang bercanda atau menggoda pemuda itu.
Ren agak ragu untuk menjawabnya. Namun, karena dia takut kebohongan Anna akan terungkap dan nantinya akan dimarahi habis-habisan, dia akhirnya mengangguk sebagai jawabannya.
Melihat keraguan di wajah Ren, kapten tim malah menjadi ragu. Ia kemudian memberikan perintah.
"Kalian berdua akan satu tim dengan ku.”
Dia kemudian menatap seluruh anggota dan membagikan 1 jam tangan untuk tiap tim.
“Jika ada bahaya menghadang di depan, segera kembali ketempat ini, apapun yang terjadi. Dan juga kita harus ingat. Walaupun masih aman untuk menambang, tetap kembali kemari sebelum tiga jam. Kalian mengerti?”
Mereka semua mengangguk sebagai jawabannya.
Tim itupun akhirnya berpencar ke 5 arah berbeda.
•••
Tim yang dipimpin oleh pria brewok, yang terdiri 4 orang, akhirnya menemukan kristal sihir setelah berjalan hampir satu jam lamanya.
Dia memerintahkan Tanker untuk berjaga-jaga sementara dia sendiri pergi untuk memeriksa keadaan disekitar mereka.
Setelah 10 menit berlalu, akhirnya pria itu kembali dan mengajak Anna dan Ren untuk menambang kristal sihir.
“Baiklah, keadaan aman. Mari kita mulai menambang.” Ucap pria brewok.
Anna dan Ren mengambil perlengkapan tambang mereka yang tergantung di samping ransel besar yang mereka gendong. Kemudian, bersama-sama dengan pria brewok, mereka mulai mencangkul kristal-kristal sihir yang tertanam di lantai dan dinding goa.
Sambil terus mencangkul, pria brewok memperhatikan ‘pasangan kekasih’ itu dan tersenyum saat melihat dua muda-mudi itu tampak mencangkul dengan penuh semangat.
“Apakah kalian sedang mengumpulkan biaya untuk menikah?” Tanya pria brewok, menggoda mereka.
“Ap-... tidak...” Sahut Ren tergagap dan membuat arah pukulannya pada bongkahan kristal jadi meleset.
Sementara Tanker yang mendengar itu tertawa. Tanker itu berjalan mondar-mandir memeriksa keadaan selama ketiga orang lainnya sibuk menambang.
“Ku harap kalian berdua bisa akur sampai benar-benar memasuki usia dewasa.” Ucap pria brewok. “Berapa usia kalian berdua?”
Ren agak kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu, sementara Anna tersenyum dan menganggap pembicaraan itu lucu.
“Delapan belas.” Sahut Anna dan Ren kemudian, dengan hampir bersamaan.
“Ckckck... kalian masih sangat muda tapi sudah bekerja keras. Sangat hebat.”
Ketiga Hunter itu terus mencangkul kristal sihir, sementara Tanker akan mulai mengumpulkan bongkahannya saat kristal itu sudah mulai menumpuk.
•••
Setelah setengah hari mencangkul, akhirnya hal yang sangat dikhawatirkan Anna, tiba.
Anna dapat merasakan energi sihir bergerak menuju ke arah mereka.
Ia kemudian menghentikan kegiatannya dan berdiri tegak sambil melakukan peregangan tubuh.
Mengira gadis itu kelelahan, ketua tim mengajak mereka untuk beristirahat.
“Kita istirahat dulu.” Ajak ketua tim.
Merekapun beristirahat dan membongkar isi tas untuk mengambil botol minum mereka masing-masing.
“Ada banyak ransum dan botol minuman. Aku suka bekerja dengan tim pasar gelap ini. Jika mereka memberi waktu tiga hari, mereka menyediakan stok ransum yang benar-benar cukup untuk tiga hari.” Ucap pria brewok memuji tim pasar gelap.
“Aku juga menyukai bekerja dengan mereka, sangat berbeda dengan tim pasar gelap sebelumnya yang menyediakan ransum hanya untuk setengah dari waktu raid kita.” Sahut Tanker.
“Ya. Kita benar-benar harus berhemat pada saat itu.” Sahut pria brewok mengingat kejadian itu.
Sementara mereka terus mengobrol, Anna semakin gelisah karena pria brewok yang merupakan Hunter berperingkat paling tinggi di antara mereka, belum menyadari datangnya bahaya.
"Apakah Hunter berperingkat D masih payah dalam mendeteksi energi sihir?"
Anna kemudian menghampiri Ren dan duduk tepat di sebelahnya. Karena ia ingin berbicara pada Ren secara diam-diam, maka Anna menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.
Ren terkejut dan hendak menghindari Anna dengan bergeser menjauh dari tempat duduknya, namun gagal saat Anna mengapit tangannya.
“Diamlah sebentar.” Pinta Anna dengan suara setengah berbisik.
Mendengar itu, Ren akhirnya menurutinya. Dia berpikir gadis itu kelelahan atau mengantuk dan Ren akhirnya memakluminya.
“Kau seorang Mage?” Tanya Anna kemudian.
“Y-ya...” Ren menjawab dengan suara sedikit bergetar. Ia agak gugup karena baru pertama kali ada seorang wanita yang berjarak sedekat itu dengannya selain kakaknya.
“Apa keahlian mu? Api? Es? Debuff?"
“Es...”
“Hmmm ok...” Sahut Anna.
Dia tau Ren adalah pria yang sangat gigih saat bertarung dan bertahan hidup di ujian penerimaan di Akademi. Kebetulan tim Ren saat itu mengikuti ujian sebelum timnya, jadi Anna bisa menonton aksi Ren.
Karena itu juga, dia sangat menyayangkan jika pria itu harus mati di tempat ini. Ren adalah salah satu dari 18 calon siswa yang berhasil lulus ujian akhir penerimaan Akademi yang tadi pagi dia saksikan telah berjuang dengan sangat gigih dan membantu rekan-rekan satu timnya, walaupun sayangnya pada akhirnya hanya Ren sendiri yang berhasil lulus dari 10 anggota timnya tersebut.
Selain itu, dari cerita Rin yang ia dengar, mereka hanya tinggal berdua karena kedua orang tua mereka meninggal akibat Dungeon Break besar 11 tahun lalu.
Untuk itulah saat mendengar percakapan mereka di telepon yang ingin melakukan raid ilegal, Anna benar-benar mengkhawatirkan pria itu dan juga Rin yang nantinya akan ditinggal sendiri jika hal buruk terjadi pada adiknya saat mengikuti raid ilegal.
Anna mengangkat kepalanya dari pundak Ren untuk menoleh pada kapten tim.
“Dia benar-benar sudah sangat dekat. Mengapa pria itu belum menyadarinya?” Pikir Anna yang mulai kesal.
“Hahaha... indahnya masa muda.” Ucap Tanker saat baru menyadari dan melihat gadis bertopi itu duduk bersender di lengan Ren.
Pria brewok juga ikut tertawa.
Namun, tawa pria brewok lenyap seketika, saat dia menyadari energi sihir yang sangat besar, baginya, datang mendekati mereka.
Tubuhnya bahkan sampai gemetar.
Pria brewok langsung memasukkan kristal sihir yang mereka tambang kedalam ranselnya secepat mungkin, sambil memerintahkan 3 anggotanya untuk membereskan hasil tambang mereka.
“C-cepat beres-beres.”
Tanker terdiam sesaat sebelum akhirnya mengerti dan membantu memasukkan hasil tambang ke dalam ransel.
Sementara Anna juga melompat dan membereskan hasil tambang begitu dia melihat pria brewok itu akhirnya menyadari kehadiran monster.
Pria brewok menatap pada Anna yang sedang memasukkan kristal sihir dengan cepat ke dalam ransel. Ia kemudian berbicara dengan tergagap.
“K-kau tidak usah bantu. Lari… lari saja...” Perintah pria brewok sambil menatap Anna.
“Ayo kita pergi bersama." Sahut Anna yang sebenarnya mengkhawatirkan ketiga rekannya itu.
“Kami harus membawa ini. Ada tagihan yang harus di bayar pada tim pasar gelap. Kau pergilah cepat!" Perintah pria brewok memaksa.
Anna menggelengkan kepalanya, menyesali saat melihat pria brewok masih memikirkan tanggung jawabnya saat nyawanya dalam bahaya.
Tapi, waktu sudah sangat sempit. Anna kemudian menarik lengan Ren yang masih memasukan kristal sihir kedalam ranselnya. “Ikut bersama ku.”
“Apa? Kau lari lah dulu...”
“Cepat...! Kita telambat...” Ucap Anna saat melihat sosok Minotaur berjalan dengan setengah berlari mendekati mereka.
Tanker dan pria brewok menoleh ke arah Anna memandang dan bersamaan mereka jatuh terduduk dan menjatuhkan kristal sihir yang berada di tangan dan ransel mereka.
“Mi-minotaur?!”
"B-bukankah ini Dungeon level E?"
"Tim pasar gelap pasti salah mengukur energi sihir gerbangnya!"
Seketika wajah mereka pucat pasi. Minotaur adalah monster yang biasanya berada di Dungeon dengan level C.
Untuk Minotaur jenis biasa sendiri, biasanya berada di peringkat C jika disesuaikan dengan penilaian level seorang Hunter.
Karena itu, sudah pasti jika Minotaur bukanlah lawan yang dapat mereka hadapi. Dan lagi, mereka saat ini hanya berempat.
“K-kita akan mati...” Gumam pria brewok yang gemetar ketakutan.
•••