
Setelah Anna, para pengikutnya dan ratusan ribu pasukannya melewati gerbang, mereka langsung berhadapan dengan ribuan monster raksasa yang memiliki tubuh sehitam langit malam tanpa bintang, yang kini menatap mereka dalam diam.
Sama seperti para penghuninya, planet sedikit gelap. Hanya ada sedikit sinar seperti cahaya rembulan disana.
Tapi, karena tubuh mereka yang besar-besar itu, Anna dan semua pengikutnya dapat melihat mereka dengan cukup baik saat mereka mulai bergerak menghampiri.
"Apa kau tahu kita sedang berada dimana?" tanya Anna pada dewi Ezili sembari memerhatikan monster-monster raksasa yang berlarian mendekat.
"Kita berada di dimensi berbeda lagi. Ini dimensi milik iblis," sahut dewi Ezili.
"Jadi mereka ini yang memberikan kekuatan pada para malaikat tersesat?"
"Bukan mereka. Yang memberikan kekuatan pada para malaikat tersesat itu berada di dimensi yang lain lagi. Mereka memiliki warna kulit tubuh merah."
"Ah..., begitu... Aku mengerti."
"Apa kau pernah bertemu mereka?"
"Ya. Mereka memiliki beberapa tingkatan berdasarkan warna kulit dan tanduknya, kan?"
"Kau benar."
"Hei, apa yang kalian bicarakan?! Mereka sudah dekat!" ucap dewa Ogun, mengkhawatirkan ratusan ribu tentara di belakang mereka yang memiliki energi Mana jauh lebih lemah dibandingkan ribuan monster itu.
"Jangan khawatir. Biar aku yang mengurus mereka. Jika kita menggunakan energi Mana disini, kita tidak akan mengalami sakit kepala, kan?"
"Ya! Cepatlah!"
"Conqueror of Darknes, part 1. Punishing Hand!"
Wussshhh...
BOOOOMMMM!!!
Seperti yang di harapkan, begitu telapak tangan raksasa keemasan muncul dari langit dan jatuh menimpa iblis-iblis itu, tubuh mereka langsung meledak seketika.
"Betapa senangnya saat aku bisa menggunakan energi Mana ku lagi dengan sangat bebas." Ucap Anna sembari menyeringai lebar.
Sementara Anna sedang bernostalgia dengan energi Mana nya, Lorelei dan Nordic yang berdiri dibelakangnya terdiam mematung.
Mereka menatap Anna dengan rasa tidak percaya.
"Ada apa?" tanya Anna, saat melihat tatapan aneh mereka.
"Energi Mana mu sangat mengerikan...," sahut Lorelei dengan suara bergetar.
"Anda bisa merasakannya, nenek guru?"
"T-tentu saja. Malaikat bisa merasakan energi Mana dewa, sama seperti iblis," sahut Lorelei.
Nordic juga mengangguk, membenarkan.
Para malaikat dan iblis memang bisa merasakan energi Mana dewa yang ada pada Anna, sama seperti para malaikat tersesat yang langsung berhati-hati saat mereka merasakan energi Mana Anna.
Karena itulah, iblis-iblis di planet itu langsung berdatangan saat mereka merasakan energi Mana Anna.
Dihadapan Anna dan pasukannya, tampak puluhan iblis yang sedang beterbangan di langit gelap dengan sepasang sayap hitam mereka.
Bisa merasakan kekuatan mereka dari tempatnya berdiri, Anna agak merasa ngeri juga.
"Mereka sangat kuat. Apakah mereka ini dewa perang di planet ini?
"Mereka ini sepertinya sekelas malaikat." Sahut dewi Ezili.
"Malaikat?"
"Ya. Dewa iblis tidak akan turun tangan sebelum para malaikatnya kalah. Sistem di dimensi iblis berbeda dengan sistem di dimensi para dewa," dewi Ezili menjelaskan.
Anna mengangguk kecil. Ia kemudian mengeluarkan tombak Igigi, bersiap untuk bertarung menghadapi puluhan malaikat itu.
"Tunggu giliranmu. Biar kami dulu yang menghadapi mereka," ucap dewa Ogun yang kemudian berubah ke wujud aslinya. Demikian juga dengan dewi Ezili.
"K-kalian..."
Dewa Ogun dan dewi Ezili mengabaikan keterkejutan Anna pada wujud mereka. Keduanya kini fokus untuk menyerang lawan yang sudah mulai menyerang mereka terlebih dahulu.
Dewa Ogun mengarahkan telapak tangannya pada 3 malaikat iblis yang menghampiri. Kemudian, dari telapak tangannya, badai lidah api menyambar-nyambar dan langsung menghanguskan tubuh para penyerang itu.
Woooossshhhhh...
Sementara dewa Ogun membakar semua iblis yang mendekat, dewi Ezili menyerang dengan mendatangi mereka secara langsung, untuk mencegah para malaikat iblis yang berniat mendatangi 460.000 pasukan Anna datang mendekat.
Dewi Ezili menghilang dan muncul kembali di atas puluhan malaikat iblis itu sambil menabur tetesan air seperti air hujan di atas kepala mereka.
Setelah menabur rintikan hujan itu, dewi Ezili muncul kembali di samping Anna.
Sementara itu di atas sana, air hujan itu tiba-tiba berubah menjadi air bah yang langsung menelan semua malaikat.
Namun, air bah itu tiba-tiba membeku dan bersamaan dengan itu juga tubuh para malaikat iblis membeku dan jatuh menuju daratan dengan sangat cepat.
Blasssshhhhh...!
Saat balok es itu tiba di daratan, balok es itu tiba-tiba saja mencair dan menghancurkan tubuh semua malaikat iblis.
Sementara itu, dari sekeliling mereka, ratusan ribu pasukan iblis yang menunggangi hewan yang mirip burung unta sudah berdesakan menghampiri.
"Aku urus di sabelah kiri," ucap dewi Ezili.
Mendengar itu, dewa Ogun langsung berpaling ke arah kanan.
Dengan hampir bersamaan, dewi Ezili dan dewa Ogun melakukan serangan.
Gerakan yang mereka lakukan sama persis. Mereka melambaikan tangan ke udara, seakan sedang menaburkan benih ke sebuah ladang pertanian.
Tapi, apa yang mereka hasilkan berbeda.
Di sisi dewi Ezili, Anna dapat melihat air bah yang tiba-tiba muncul dari langit. Air itu jatuh dengan sangat deras membanjiri ribuan pasukan iblis yang datang mendekat, lalu membekukan mereka semua.
Kebekuan itu hanya terjadi sesaat karena setelahnya es tebal itu kembali mencair bersamaan dengan mencairnya seluruh tubuh para penyerang.
Sementara di sisi serangan dewa Ogun, hujan belerang berjatuhan dari langit. Namun, hujan belerang itu langsung berubah menjadi api yang berkobar-kobar begitu mereka tiba di daratan.
Seluruh tubuh pasukan yang terbakar api itu langsung menguap tanpa mereka sempat mendengar teriakan pasukan itu sekalipun.
"Sihir yang mengerikan. Apa ada yang bisa menghindarinya?" pikir Anna, yang takjub saat melihat kekuatan asli kedua dewa itu.
"Kita mungkin akan melakukan ini sepenjang hari. Ini mungkin agak melelahkan," keluh dewa Ogun. Ia dapat merasakan banyaknya energi sihir yang datang mendekat dari sekeliling mereka.
"Lorelei, di atas kita," ucap dewi Ezili, saat merasakan serangan datang dari atas.
Anna menoleh ke atas. Di sana, ia dapat melihat hujan meteor yang datang dari luar angkasa menuju ke arah mereka.
Saat Anna masih memerhatikan hujan meteor itu, di atas kepala mereka tiba-tiba muncul sebuah gerbang hitam yang sangat besar, yang menaungi seluruh bagian atas kepala mereka dan menelan meteor-meteor itu kedalamnya.
Setelah semua meteor habis tertelan kedalam gerbang, Lorelei merentangkan kedua tangannya, ke arah pasukan iblis yang baru bermunculan lagi di kejauhan.
Lalu, gerbang besar itu tiba-tiba terbagi dua dan pergi ke arah pasukan-pasukan itu.
Gerbang itu kemudian memuntahkan ribuan meteor yang tadi masuk kedalamnya, dan menghancurkan tubuh seluruh pasukan iblis yang berada di jalur lontaran.
Setelah Lorelei selesai, kini giliran Nordic.
Nordic mengambil bola kristal dari dalam jubahnya, lalu melemparkan bola kristal itu ke udara.
Bola kristal kemudian terbelah menjadi ribuan dan pergi menuju pasukan iblis yang berdatangan tanpa putus.
Bola kristal itu hanya berada disana dalam sekejap mata kemudian meledak menjadi asap berkilauan dan jatuh menghujani ribuan pasukan iblis.
Setelah pasukan iblis itu terkena butiran mengkilat yang berasal dari ledakan bola kristal, mereka semua ambruk.
"Sihir racun yang mengerikan," gumam Anna, mengagumi sihir Nordic.