Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 92


Malam hari Anes menyiapkan makan malam untuk mertuanya, mama keruang makan dan melihat Anes, Ike dan Nana yang terlihat sedikit sibuk.


"Sayang sudah biar Ike dan mbak saja yang mengerjakan nya." Ucap mama.


"Tidak apa-apa ma aku sudah biasa melakukan ini kok." Jawab Anes.


"Enggak sayang sudah ya kamu duduk saja, Ike bisa mengerjakan semuanya. Iyakan ke." Ucap mama.


"Benar nyonya, nona muda memang seperti itu selalu ingin membantu pekerjaan rumah." Ucap Ike, mama menatap Anes dengan lembut.


"Ada apa hmmm, kenapa kamu selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah. Mama menikahkan kamu dengan Deandra bukan untuk bekerja di rumah sayang, mama ingin kamu menjadi pendamping Dean agar Dean menjadi lebih baik." Ucap mama, Anes tersenyum manis kepada mama.


"Ma gak apa-apa lagi pula ini bukan pekerjaan yang berat, Anes juga gak keberatan kok justru Anes suka melakukan semuanya." Ucap Anes, mama tersenyum manis kepada Anes.


"Seandainya Liza seperti kamu mama pasti akan merasa bangga, selama ini Liza tidak pernah mau membantu pekerjaan rumah. Jangankan membantu pekerjaan rumah, untuk mengurus Kenzie saja Liza tidak bisa meluangkan sedikit waktu nya." Ucap mama, wajah mama memperlihatkan kekecewaan yang mendalam.


Anes tahu dan merasa wajar jika mama kecewa, bahkan selama Anes tinggal pun wanita itu tidak pernah terlihat dekat dengan Kenzie.


"Ma mungkin memang kak Liza sedang sibuk, sekarang kan sudah ada Anes mama tidak perlu khawatir tentang Kenzie ataupun Deandra." Ucap Anes, mama merasa terharu mendengar perkataan Anes.


"Aduh sayang nya mama." Ucap mama, wanita itu merentangkan kedua tangannya dan memeluk Anes.


"Mama jangan banyak fikiran ya, nanti kalau mama sakit semua orang akan sedih." Ucap Anes.


"Tentu saja mama sudah merasa lebih tenang saat ada kamu di rumah ini." Ucap mama, sampai tiba-tiba Dean dan Liza masuk kedalam rumah secara bersamaan.


"Aku pulang." Ucap Deandra, Anes menatap Dean dan Liza.


"Kenapa itu muka di tekuk gitu." Ucap mama, bertanya kepada putranya.


"Tidak apa-apa." Jawab Deandra.


"Sudah pulang ma." Ucap Liza, mencium pipi kiri dan kanan mama.


"Hmmm, dari mana saja kamu za." Ucap mama.


"Aku habis berkumpul dengan teman-teman ma." Ujar nya.


"Kurangi lah kumpul-kumpul nya za, sekarang kan kamu sudah ada teman nya di rumah. Ada Anes dirumah za, kamu harus mencontoh Anes yang suka sekali membantu para pelayan di rumah." Ucap mama.


"Ma kan ada pelayan kenapa harus ikut bantu-bantu si, gak usah cari muka lah." Ucap liza, mama menghela nafasnya dan menatap Anes.


"Mama kaya gak tau saja Liza kan tidak punya muka, di omongin kaya gitu mikir enggak emosi iya. Ayok sayang." Ucap Deandra, lelaki itu langsung menarik tangan Anes dan mengajak nya ke kamar. Sementara Liza menatap tajam Dean dan Anes.


"Ma aku ke kamar dulu." Ucap Anes, mama menatap Dean yang merangkul pinggang ramping Anes. Mama yang melihat itu merasa terkejut dan bahagia.


"Ike tadi saya tidak salah dengar kan saat Dean memanggil Anes dengan sebutan sayang." Ucap mama.


"Enggak nyonya itu asli, real jika tuan muda sudah jatuh cinta kepada nona muda." Ucap Ike.


"Sudah sejauh apa hubungan mereka?" Tanya mama.


"Nyonya mau tahu saja apa mau tahu banget?" Tanya Ike.


"Tentu saja saya sangat ingin tahu." Ucap mama.


"Nyonya sampai tahap tuan muda yang tidak bisa jauh dari nona muda, bahkan tuan muda sering merasa cemburu jika nona sedang bersama dengan tuan muda Kenzie." Ucap Ike, mama menutup mulutnya tidak percaya.


"Iya nyonya, bahkan saat tuan Ken meminta nona Anes untuk mengambil layangan nya di atas pohon. Tuan muda yang sedang keluar langsung pulang, dan dia sangat khawatir melihat nona muda." Ucap Ike, mama merasa bahagia mendengar kemajuan dari hubungan putranya.


"Cih, sangat berlebihan." Ucap Liza, mama mulai kesal dengan sikap Liza.


"Jaga sikap kamu za, kamu tahu jika sikap kamu ini menyinggung perasaan Anes dan Dean mengetahui itu mama dan papa tidak bisa membantu kamu. Jangan merengek saat Dean menarik semua fasilitas yang kamu miliki saat ini, mama rasa mama tidak perlu menjelaskan lagi jika semua informasi adalah hak milik Deandra." Ucap mama, Liza menatap mama dengan kesal.


"Itu semua terjadi karena mama terlalu memanjakan Deandra." Ucap Liza, mama mengernyit heran.


"Lalu siapa yang bisa mama manjakan selain Dean? Kamu tahu hanya Dean yang mama miliki, mama tidak bisa mempercayakan semuanya kepada kamu. Lihat diri kamu yang bisanya hanya berkumpul dan bersenang-senang saja." Ucap mama, tak lama kemudian papa, Dean dan Anes kembali ke ruang makan.


"Kamu pulang za, papa kira kamu sudah lupa jalan pulang." Ucap papa, Liza diam ia benar-benar merasa tersudutkan sekarang.


"Kalian kenapa si, semenjak kehadiran Anes kalian semua suka menyudutkan aku. Apa yang istimewa dari Anes." Ucap Liza, Deandra menatap Liza.


"Bisa untuk tutup mulutmu, pendapatmu tidak berguna disini." Ucap Deandra, mama diam mereka menyantap makanan mereka dengan tenang.


"Apa katamu? Mana Dean yang dulu Dean yang selalu menjaga jarak dengan wanita ibl*s ini. Cih, kau berhasil di pengaruhi oleh dia." Ucap Liza, Deandra yang sudah tidak bisa memendam rasa kesal nya pun menatap Liza dengan tajam.


"Aku bilang tutup mulutmu apa kau t*li." Ucap Deandra.


"Memangnya kenapa jika aku berbicara." Ucap Liza, Deandra menggebrak meja makan dan bangun dari duduknya. Tindakan Dean membuat semua orang terlonjak kaget, termasuk Anes dan Liza.


Braaakkk... Dean menatap tajam Liza, sementara Anes mama menunduk mereka tidak mau ikut campur urusan Dean dan Liza.


Papa melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di kursi, sedang enak-enak makan harus dibuat terkejut dengan kekesalan Dean terhadap Liza.


"Berani lagi kamu menjelekan Anes di hadapanku, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku sebarkan semua berita yang aku dapat tentang kamu, jangan lupa pergi dari rumah dan tinggalkan semua fasilitas yang kamu pakai!" Kesal Dean, Anes meraih tangan Deandra yang lelaki itu gunakan untuk menunjuk wajah Liza.


"Dean hey tenang, jangan seperti ini." Ucap Anes, wanita itu bangun dari duduknya dan mengusap dada Deandra agar sabar.


"Apanya yang sabar, wanita itu kebiasaan selau menjelekan kamu tanpa menyadari dirinya yang seperti j*l*ng." Ucap Deandra, Liza menatap Dean dengan mata berkaca-kaca.


"Sssttt, sudah kita ke kamar ayok." Ajak Anes, wanita itu menarik tubuh Deandra perlahan.


"Ma pa aku dan Dean ke kamar duluan." Ucap Anes, mama dan papa mengangguk sementara Liza menatap benci Deandra.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊