
Satu Minggu berlalu hari ini semua keluarga Deandra akan pulang ke kediaman mereka masing-masing, begitupun dengan Cya wanita itu berjalan menuruni anak tangga dengan menyeret koper nya.
"Mi Cya sudah selesai." Ujar nya, mami Cya menatap putri bungsu nya.
Selamam gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA itu menangis di pelukan mami nya, Cya merasa sedih karena ia tidak bisa dekat dengan kakak ipar nya seperti teman-teman Cya dekat dengan para kakak ipar nya.
Mami Cya hanya bisa tersenyum manis kepada putrinya, ya Cya memiliki kakak ipar dari kakak kandungnya yang sudah menikah namun mereka tidak begitu dekat.
"Yasudah kalau Cya sudah selesai pamit sama mama sayang." Ucap mami Cya, meminta putrinya untuk pamit kepada mama Deandra.
Dean menatap Cya dengan sendu ia merasa tidak tega kepada gadis itu yang selalu mengeluh kesepian, Anes wanita itu masih di kamar nya.
"Ma Cya pulang dulu ya mama baik-baik disini kalau ada apa-apa mama bisa hubungi Cya." Ujar nya, mata bulat Cya berkedip lucu membuat mama tersenyum seakan sedang menatap Kenzie.
"Iya sayang Cya juga baik-baik ya nurut sama mami papi." Ucap mama, Cya mengangguk ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Anes.
Saat semua orang sudah selesai saling berpelukan mereka berjalan menuju pintu utama, namun seseorang bersuara memanggil nama Cya.
"Lucya." Panggil Anes, semua sanak saudara Dean menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Anes yang berjalan ke arah mereka.
Cya gadis itu membalikkan tubuhnya dengan satu tangan yang memegang koper, Anes berdiri dan tersenyum manis kepada Cya.
"Kakak." Lirih Cya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anes, ia senang menatap mata bulat Cya.
"Aku, aku mau pulang." Ucap Cya, menatap para keluarga yang terlihat bingung.
"Pulang?" Tanya Anes, Cya mengangguk lugu ia tak mau memaksa Anes untuk menerima kehadirannya.
"Hmmm." Balas nya, Anes berjalan pelan mendekati Cya.
"Bukankah kamu ingin dekat denganku? Apa sekarang kamu berubah pikiran." Ucap Anes, mami Cya tersenyum semalam Dean sudah mengatakan ingin mengajak Cya untuk tinggal dengannya.
Awalnya mami menolak karena takut jika putrinya akan merepotkan Anes, namun Dean meyakinkan jika ini adalah permintaan Anes sendiri.
"Hah." Balas Cya tertegun.
"Kamu tidak ingin tinggal dengan kakak?" Lirih Anes, mata Cya terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan Anes.
"Kak." Lirih nya, kakak ipar Cya menatap adik dari suaminya yang tersenyum haru.
"Kemarilah tinggal bersamaku aku juga menyayangimu." Ucap Anes merentangkan kedua tangannya, tanpa menunggu lama Cya melepaskan koper nya dan masuk dalam pelukan Anes.
"Kakak." Lirih nya, Anes memeluk lembut Cya dan mengecupi kepala gadis cantik itu.
"Maafkan aku karena kemarin tidak menjawab perkataan kamu, tapi sungguh bukan berarti aku tidak menyukai kamu. Kamu akan memiliki tempat tersendiri di hatiku hmmm." Balas Anes, Cya mengangguk dan tersenyum.
"Cya." Panggil sang mami.
"Iya mi." Sahut mami.
"Nurut dengan kak Anes dan Kak Dean ya jangan nakal jangan merepotkan, jika mami tahu Cya merepotkan kak Anes maka mami akan menjemput Cya untuk pulang." Ucap mami, Cya mengangguk air matanya menetes Anes tahu Cya adalah gadis cantik yang tulus.
...
Sudah tiga hari Cya tinggal di rumah Anes wanita itu benar-benar membuat Anes terhibur, Cya yang suka dengan boy group yang berasal dari negara lain itu selalu melakukan tingkah random yang membuat Anes tertawa.
Namun saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah, Cya dan Anes sedang menonton drama kesukaan mereka.
"Nona ini jus dan camilan nya." Ucap Ike.
"Mbak Ike." Panggil Cya.
"Ada apa." Balas Ike.
"Tadi ada kak Joe menjemput kak Dean." Ucap Cya, Anes menoleh dan tersenyum kecil kepada Cya.
"Nona." Lirih Ike.
"Nona mau ke mana?" Tanya nya.
"Saya dan Cya akan pergi untuk membeli beberapa perlengkapan baby, kamu ikut saja ya." Ucap Anes.
"Oh kalau itu boleh nona Ike akan ikut dengan nona." Ujar nya, merekapun langsung bersiap-siap untuk pergi.
Tak hanya Ike ada Nana dan Cya juga yang akan mengantar Anes, Cya dan yang lain tidak tahu jika Deandra akan menyusul mereka.
Saat sampai di mall Anes berjalan memasuki beberapa toko, sampai akhirnya mereka tak sengaja bertemu dengan Yuna.
"Hai wow nona muda Gavriel kita bertemu lagi, eh perut anda sudah semakin membesar." Ucap Yuna, Anes menatap tajam Yuna yang berdiri di hadapannya dengan angkuh.
"Saya tidak mengerti kes*alan apa yang sedang menimpa saya sampai harus bertemu dengan kamu." Ucap anes, Yuna tertawa kecil menatap Nana, Ike dan Cya yang ada di samping Anes.
"Wow ternyata asisten pribadi anda bertambah setelah wanita pengg*da itu." Ucap Yuna, Anes tersenyum sinis mendengar perkataan Yuna.
"Yuna kau tidak pernah berkaca atau gimana, bukankah yang wanita pengg*da itu adik kamu." Ucap Anes, Yuna mengeraskan rahangnya ia mengepalkan tangan mendengar perkataan Anes.
"Jaga ucapan mu Aneska." Teriak Yuna menunjuk wajah Anes, Cya yang tak terima kakak nya di bentak pun mencengkeram kuat tangan Yuna.
"Jangan berteriak kepada kakakku dan jangan pernah kau berani mengangkat tangan di hadapannya, atau aku akan membuat tanganmu terlepas dari tempat nya." Ucap Cya, Yuna meringis kesakitan karena cengkraman kuat Cya.
"Anak kecil lepaskan tanganku." Teriaknya.
"Aku sudah besar dan bukan anak kecil." Sengit Cya menghempaskan tangan Yuna dengan kasar, mata nya menatap nyalang kepada Yuna.
"Si*l kau dengan kakak mu sama saja." Ucap Yuna.
"Kau tidak salah bicara." Ucap Anes.
"CK, aku tidak pernah salah bicara. Satu lagi aku dengar keponakan tuan muda Gavriel meninggal, apa kau sengaja memb*nuh nya karena takut para keluarga tidak menyayangi anakmu." Ucap Yuna, Anes mengepalkan tangannya mendengar perkataan Yuna.
Matanya merah menahan tangis Yuna benar-benar wanita yang tidak memiliki hati, ia hanya bisa mengatai dan mencibir saja.
"Jaga perkataan kamu Yuna." Ucap Anes, Yuna tertawa renyah sampai sebuah tangan mendarat dengan mulus di pipi mulus nya.
Plaaaakkk....
"Assshh." Pekik Yuna, ia menatap Nana yang kini berdiri di hadapannya.
"Jaga sikap mu nona sebelum kau menyesalinya, kau berbicara seenak mulutmu karena Jordan menolak mu begitu? Harusnya kau tahu kenapa Jordan tidak memilihmu itu karena kamu bukanlah wanita yang layak untuk dicintai." Tegas Nana membuat Anes dan Ike tercengang.
"Beraninya kau." Ucap Yuna mengangkat tangan nya, namun Nana dengan cepat memegang tangan Yuna.
"Apa masalahmu dengan nona Anes sampai kau begitu gencar ingin menyakitinya, jika kau tidak terima Jordan menolak mu bukankah masalah mu itu denganku?" Ucap Nana, Yuna terdiam mendengar perkataan Nana.
"Na sudah tidak ada gunanya kita berbicara dengan orang yang tak memiliki rasa malu seperti dia." Ucap Anes, Nana menghempaskan tangan Yuna dengan keras dan merekapun meninggalkan Yuna yang diam mematung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊