
Keesokan harinya Anes meminta tolong kepada Ike dan suster untuk pergi ke supermarket, Ike dan suster pun mengiyakan perkataan Anes dengan semangat mereka akan berbelanja perlengkapan dapur dan rumah.
"Ini list yang kemarin kamu buat kan ke." Ucap Anes, memberikan selembar kertas.
"Benar nona." Balas Ike.
"Oiya kamu hubungi Cya apa saja yang ingin dia beli jadi bisa sekalian saja." Ucap Anes lagi, Ike mengangguk mengiyakan perkataan Anes.
Setelah kepergian Ike dan suster Steven dan Nia datang ke rumah Anes dengan beberapa paper bag di tangan nya, Nana yang melihat itu hanya tersenyum tipis.
"Hai na dimana Anes?" Tanya Steven dan Nia, yang saat itu melihat Nana sedang duduk di ruang tamu dengan menggendong Alexa.
"Nona ada di dalam sedang mengambil makanan." Ucap Nana, merekapun duduk di ruang tamu.
"Loh Steven Nia kalian kesini, sayang sekali Cya sedang tidak ada di rumah." Ucap Anes.
"Ah nes kita bukan mau bertemu dengan Cya, tapi ingin melihat anak kamu." Ucap Nia.
"Oiya maaf saya kira tadi mau bertemu dengan Cya, karena gadis cantik itu belum pulang dari sekolah nya." Ucap Anes, Nia dan Steven pun mengangguk.
"Ah nes." Panggil Nia.
"Iya ada apa." Sahut Anes.
"Apakah kamu berkenan untuk memberikan salah satu anak kamu kepadaku, melihat kamu mengurus anak aku rasa aku juga ingin memiliki anak." Ucap Nia, Anes terdiam mendengar perkataan Nia.
"Maaf Nia ini anakku bukan barang yang bisa kau minta dengan mudah nya." Ucap Anes.
"Tapi nes Steven ini kan saudaranya Dean apa kamu tidak mau membantu kami." Ucap Nia lagi, Steven hanya diam menatap Anes.
"Nia justru karena itu ini anakku dan Deandra bukan anakku dengan Steven, mau dia saudara Deandra atau bukan aku tidak akan memberikan anakku." Ucap Anes.
"Tapi kenapa kau membiarkan Nana merawat nya." Ucap Nia, Nana mengernyit heran kenapa jadi membawa-bawa namanya.
"Mengurus apa Nana hanya membantu aku menjaga salah satu anakku, dan itupun dia yang kemari dia tidak membawa anakku keluar dari rumah sedikitpun." Ucap Anes.
"Nes ayolah biarkan Nia merawat salah satu anakmu." Ucap Steven.
"Maaf Steve aku tidak bisa, lagi pula kenapa Nia tidak hamil saja bukankah itu lebih bagus." Ucap Anes.
"No nes, aku masih ada kontrak kerja dan tidak mungkin untuk hamil. Jika aku hamil lalu bagaimana dengan karier ku?" Ucap Nia.
"Itu urusanmu bukan urusanku Nia, yang jelas aku tidak akan memberikan anakku kepada siapapun. Lagi pula kenapa kalian berbicara ini denganku bukan dengan Deandra." Ucap Anes, Steven dan Nia bungkam ia tak mungkin berbicara dengan Deandra yang ada mereka malah kena bogeman.
"Baiklah lupakan hal ini." Ucap Steven.
"Honey." Rengek Nia.
"Apa kau ingin aku yang membicarakan ini kepada suamiku?" Ucap Anes.
"Ti_tidak perlu nes lupakan saja." Ucap Steven, Nia mendengus karena Steven malah mengurungkan niatnya untuk mengadopsi anak Anes dan Deandra.
Anes tersenyum miring dikira Anes tidak mampu membiayai dua anak nya, apakah mereka lupa jika Cya saja saat ini menjadi tanggung jawab Anes dan Deandra? Ah dasar nya saja Nia yang selalu ingin memiliki apa yang Anes miliki menyebalkan sekali, begitulah isi pikiran Anes saat ini.
....
Di sebuah supermarket Ike dan suster terlihat berjalan mengambil troli belanjaan, Ike membagi tugas agar semuanya lebih cepat selesai.
"Mbak Ike akan pergi ke bagian daging dan sayuran ya, mbak ke yang lain saja seperti perlengkapan bumbu dan yang lainnya." Ucap Ike.
"Siap boss." Balas suster, merekapun berjalan terpisah dengan tujuan masing-masing.
"Nona sepertinya suka daging yang seperti ini." Ucap Ike, memilih beberapa daging.
Ike yang terlalu fokus dengan memilih daging yang ingin ia beli pun tidak menyadari jika ada seseorang yang berdiri di belakangnya, orang itu memperhatikan Ike yang terus berdiskusi dengan dirinya sendiri sampai akhirnya.
"Aaaaaaaaa." Teriak Ike karena terkejut dengan kehadiran Joe yang tiba-tiba ada di belakang nya.
"Apa aku mengejutkan kamu?" Tanya Joe tanpa dosa.
"Kesi*lan macam apa ini yaampun." Gumam Ike, Joe tersenyum tipis menatap wajah mungil Ike.
"Kamu kenapa tidak pernah menjawab telepon saya? Kamu juga kemarin memilih gaun dengan asal." Ucap Joe, bodoamat Ike tidak peduli ia ingin menjauh dari Joe.
Jantung nya sangat tidak aman karena terus berdegup kencang, Ike mengusap wajah nya dengan frustasi.
"Cukup." Ucap Ike menutup mulut Joe dengan tangan nya, Joe mengernyit karena tangan Ike bau daging.
"Lepaskan tangan kamu bau." Ucap Joe, akhirnya Ike melepaskan tangan nya.
"Tuan bisakah anda memberikan ketenangan untuk saya? Setelah lamaran anda yang tiba-tiba itu cukup membuat saya stress dan anda malah meminta saya memilih gaun? Bagaimana saya bisa berpikir jika keadaan hati dan pikiran saya tidak sejalan." Ucap Ike.
"Bagaimana jalan pikiran kamu?" Tanya Joe, ia ingin memancing Ike yang sepertinya tidak konsentrasi.
"Pikiran saya mengatakan tidak karena anda adalah lelaki tanpa ekspresi, saya bukan nona Anes yang bisa mengimbangi lelaki seperti anda dan tuan muda." Ucap Ike, Joe tersenyum tipis menatap Ike.
"Lalu hati kamu?" Tanya Joe, Ike menatap Joe dengan geram.
"Hati saya ahhh sudahlah saya lelah jantung saya bisa melompat dari tempat nya kalau seperti ini." Gumam Ike, Joe tersenyum lagi ia benar-benar melihat perbedaan antara Ike dan Intan.
"Apakah jantungmu berdebar jika berdekatan dengan saya?" Goda Joe, Ike mendongak menatap wajah tampan Joe.
"Jika jantung saya tidak berdebar itu artinya saya mati tuan." Ucap Ike, tolong Joe wanita polos inikah yang ingin kau jadikan istri.
"Dulu kamu selalu mengatakan ingin melihat Deandra junior, apa kamu tidak ingin mengatakan jika kamu ingin melihat Joe junior." Bisik Joe, membuat Ike menelan saliva nya dengan sulit.
Ike merasa tenggorokan nya tercekat, apakah ini karma karena ia selalu menggoda Anes dalam urusan Deandra junior dan Aneska junior.
"Tidak terimakasih." Ucap Ike.
"Ke padahal kita bisa membuatnya bukan." Goda Joe lagi.
"Mbak Lia Ike sudah selesai mbak." Teriak Ike, Joe tertawa kecil melihat Ike yang berteriak.
"Ke saya tidak mengajak kamu berpacaran tapi saya ingin langsung menikah dengan kamu." Ucap Joe lagi.
"Tuan bisakah anda diam, ya nikah tuan nikah jangan sampai tidak menikah." Cibir Ike, ahh Joe ingin sekali menarik Ike kedalam pelukannya.
Tunggu ada apa dengan Joe? Bukankah selama ini Joe tidak pernah banyak bicara, tapi kenapa dengan itu ia terlihat sangat cerewet.
Entahlah menggoda Ike menjadi kebiasaan nya saat itu, karena bagi Joe itu cukup menyenangkan dan sangat baik untuk suasana hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊