Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 119


Saat Anes akan melangkahkan kakinya ke pagar balkon, Nana memegang tangan Anes hingga membuat Anes menoleh menatap nya.


"Ada apa lagi na?" Tanya Anes.


"Nona biarkan saya yang melompat lebih dulu, setelah itu baru nona saya akan menangkap tubuh nona agar tidak terjatuh." Ucap Nana, Anes menatap Nana dengan sendu.


"Na saya berat bagaimana jika kamu tertimpa oleh tubuh saya." Ucap Anes.


"Tidak masalah, nona jangan langsung melompat nona harus merangkak pelan-pelan." Ucap Nana, Anes mengangguk ia setuju dengan pendapat Nana.


Nana wanita itu merangkak pelan-pelan hingga bergelantung, Anes memperhatikan Nana yang akhirnya melompat ke bawah.


"Ashhh." Desis Nana, melihat Nana yang terduduk di tanah membuat Anes khawatir.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Anes pelan-pelan.


"Hmmm, ayok nona hati-hati." Ucap Nana, Anes pun melangkahkan kakinya dan merangkak dengan hati-hati.


Nana melihat Anes yang menggelantung, Anes memejamkan matanya berharap jika ia dan anaknya akan baik-baik saja.


"Lompat nona." Ucap Nana, Anes pun melepaskan tangan nya yang memegang pagar balkon.


"Akhhh." Desis nya, Anes berada di gendongan Nana ia melihat Nana yang menahan berat tubuh nya.


"Turunkan saya na." Ucap Anes, dengan hati-hati Nana menurunkan Anes.


"Kita berhasil nona." Ucap Nana.


"Benar na kita berhasil kamu seperti pangeran yang menyelamatkan tuan putri." Ucap Anes, Nana tertawa kecil mendengar perkataan Anes.


"Hei kalian." Teriak Denis dari balkon, Anes dan Nana menengadah ke atas melihat Denis yang menatap nya dengan tajam.


"Lari na lari." Ucap Anes, kedua wanita itu berlari kedalam hutan mereka tidak ingin tertangkap oleh Denis.


"Kalian kejar mereka." Teriak Denis, para orang suruhan Denis pun mengejar Anes.


Di ruangan rahasia nya Denis menatap laki-laki yang tadi berbincang dengan nya, ia memukul wajah lelaki itu.


"Katamu mereka tidak akan bisa pergi kemanapun, tapi nyatanya mereka bisa melarikan diri. Kau lihat hanya dua wanita saja sudah bisa menipu kalian semua, aku sudah mengatakan jangan menyepelekan Aneska kenapa kalian tidak mendengarku." Teriak Denis, lelaki itu murka saat melihat Anes lari dari pandangan nya.


"Maafkan saya tuan tadinya saya berpikir mereka tidak akan pergi kemanapun, karena selama ini mereka hanya berkeliling di sekitar rumah saja." Ujar nya.


"Bo*oh, jika mereka berkeliling di sekitar rumah itu artinya ada yang sedang mereka rencanakan. Mereka sedang mencari tahu siapa aku sebenarnya dan aku yakin saat ini Anes sudah mengetahui kebenaran nya." Ucap Denis, ia benar-benar marah kepada orang-orang yang ia percaya untuk menjaga Anes.


Sementara itu Anes dan Nana mencari tempat persembunyian, mereka tidak ingin menyerahkan diri lagi.


"Nona." Panggil Nana sambil berlari.


"Hmmm." Sahut Anes.


"Yang-yang tadi itu ketua gangster di pulau X." Ucap Nana terengah-engah.


"Apa?" Pekik Anes.


"Iya itu-itu ketua nya nona." Balas Nana, Anes bungkam ia memikirkan sesuatu yang baru saat ini.


"Denis Rivaldo Alberto, pantas saja sampai saat ini belum ada yang menemukan kita na. Ternyata lawan nya juga tidak main-main." Ucap Anes tertawa kecil, Nana tercengang ia sedang ketar-ketir saat ini tapi kenapa Anes malah tertawa.


"Nona stop kita harus segera mencari tempat bersembunyi, nona tidak bisa terus berlari nona." Ucap Nana, Anes dan Nana melihat sekeliling yang di rasa masih aman.


"Kita ke sana sepertinya disana ada bangunan tua." Ucap Anes, Nana mengangguk mengikuti Anes yang berlari ke arah kanan.


"Dimana mereka." Ucap orang-orang yang mengejar Anes.


"Seharusnya mereka belum jauh dari tempat ini." Balas yang lainnya.


"Ayok kita dengan berpencar kamu dan dia ke kanan saya dan yang lainnya ke kiri." Ucap orang itu.


Di tempat lain Anes menatap bangunan tua dan masuk kedalam nya, Nana bergidik melihat bangunan yang terasa horor itu.


"Nona apa kita harus bersembunyi disini?" Tanya Nana.


"Hmmm, tidak ada tempat lagi selain tempat ini na." Ucap Anes.


Orang-orang itu memasuki bangunan yang tadi dimasuki oleh Anes, Anes dan Nana bersembunyi di belakang lemari yang sudah tidak terpakai.


Nana merasakan jantungnya akan melompat keluar, sementara itu Anes membekap mulut Nana agar tidak mengeluarkan suara.


Derap langkah terdengar semakin mendekat dan Nana memejamkan mata nya, Nana membayangkan bagaimana jika ia dan Anes ketahuan.


"Disini tidak ada orang ayok kita cari ke tempat lain." Ucap seseorang yang sudah menggeledah bangunan tua itu.


"Emmm ayok." Ujar nya, Anes tidak melepaskan tangan nya dari mulut Nana sebelum memastikan jika orang-orang itu sudah benar-benar pergi.


"Aman." Bisik Anes.


"Nona kita harus apa sekarang." Ucap Nana.


"Tentu saja beristirahat aku lelah berlari sejak tadi." Ucap Anes, ia keluar dari persembunyiannya dan duduk di lantai.


"Nona itu kotor." Ucap Nana, Anes hanya tersenyum tipis.


"Na apakah aku sudah menjadi ibu yang baik, mereka baru singgah di perutku tapi masalah datang begitu saja." Ucap Anes, meskipun ia terlihat kuat tetap saja Anes memiliki ketakutan kehilangan calon anak-anak nya.


"Nona sejauh ini anda sudah menjadi wanita kuat, anda bisa melarikan diri dan melindungi mereka." Ucap Nana, Nana melihat kaki Anes yang berdarah.


"Kaki nona terluka." Ucap Nana.


"Tidak masalah." Balas Anes, ia memegang perutnya yang terasa lapar.


"Nona kenapa?" Tanya Nana.


"Aku lapar." Jawab nya, Nana menatap kasihan kepada Anes.


"Bagaimana kita bisa mendapatkan makanan." Gumam Nana, Anes tersenyum manis.


"Tidak apa-apa aku bisa menahan nya." Ucap Anes, Nana menunduk lalu menatap nona muda nya.


"Harusnya sebelum kabur tadi kita mengambil banyak makanan dulu agar nona tidak kelaparan." Ujar nya, Anes tertawa kecil.


"CK, kau pikir kita mau piknik." Ucap Anes, Nana tertawa kecil melihat wajah Anes yang tersenyum manis.


Dalam keadaan seperti ini Anes masih bisa tersenyum dengan manis, Nana tahu dalam hatinya Anes ingin sekali menangis. Nana bahkan sering mendengar Anes menangis dalam diam setiap malam, mungkin karena sedang mengandung nona nya itu menjadi lebih cengeng.


Atau mungkin Anes merindukan Deandra entahlah Nana tidak tahu pasti akan hal itu, saat ini yang terpenting adalah Nana harus menjaga Anes.


"Nona istirahatlah saya akan menjaga keamanan disini." Ucap Nana.


"Tidak." Jawab Anes menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Nana.


"Tidak apa-apa hanya saja prasaan saya tidak tenang na." Ucap Anes.


"Nona kita akan baik-baik saja, saya janji akan melindungi nona dan twins." Ucap Nana, Anes mengangguk ia tahu Nana akan melakukan apapun untuk dirinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊