
Keesokan harinya sore hari Deandra datang kerumah mama diikuti oleh Joe di belakang nya, Dean menatap Liza yang terbaring di tempat tidur dengan tubuh kurus nya.
"Untuk apa kau kesini?" Tanya Liza menatap benci Deandra, lelaki itu tersenyum sinis kepada Liza.
"Aku kira kau sudah berubah Liza ternyata tidak, kau masih sama seperti yang dulu wanita berhati ib*is." Sengit Deandra, Joe tercengang mendengar perkataan Deandra.
Oiya Liza belum tahu jika Anes dan Dean sudah memiliki anak, karena Dean sengaja meminta mama untuk menyembunyikan semua ini. Dan mama menyetujui itu, mama juga ingin Anes dan kedua anaknya aman.
"Pergi kau dari sini." Teriak Liza, Deandra menggelengkan kepalanya teriakan Liza membuat mama datang ke kamar itu.
"Liza ada apa hmmm kenapa kamu berteriak seperti itu." Ucap mama.
"Suruh Dean pergi ma." Lirih Liza.
"Apa hakmu menyuruh saya untuk pergi dari rumah saya, ini rumah saya Liza apa menjalani hukuman itu membuat kamu lupa ingatan." Ucap Deandra, Liza menatap tajam Dean lelaki itu benar-benar sudah banyak berubah.
Apakah Anes berhasil membuat Dean membencinya, sepertinya Anes benar-benar berhasil meracuni pikiran Dean begitulah pikir Liza.
"Pergi kamu dari sini urusi saja istrimu yang tidak bisa memiliki anak itu." Teriak Liza, membuat rahang Deandra mengeras.
Mama yang sadar akan perubahan air muka Dean pun menatap tajam Liza, ia merasa bersalah kepada Dean karena lagi-lagi Liza menjelekan Anes.
"Jaga ucapan kamu Liza, dengan sikapmu yang seperti ini saya menjadi yakin akan kembali mengurungmu." Ucap Deandra, membuat Liza menelan saliva nya dengan sulit.
"Liza jaga bicaramu jangan membuat Dean marah." Ucap mama.
"Tapi Dean yang duluan ma, wanita itu sudah berhasil menghasutnya. Apa yang Anes berikan untuk kamu Dean?" Teriak Liza, karena emosi Deandra mendekati Liza dan mencengkeram erat kedua pipi Liza.
"Tidak pantas wanita seperti kamu mengatai Anes, jelas saya lebih membela nya dia wanita baik dan lembut. Tidak seperti kamu sadar kau Liza sadar karena kamu kita semua kehilangan Kenzie, jika bukan karena mama sudah saya Pat*hkan leher kamu." Geram Deandra.
"Dean cukup." Teriak mama.
"Dean come on jangan seperti ini." Ucap Joe.
"Bun*h saja dia hidup pun sudah tak guna." Ucap papa yang tiba-tiba masuk ke kamar Liza.
"Sak_it." Ringis Liza.
"Pa minta Dean untuk melepaskan Liza pa." Lirih mama.
"Cih, anak itu tidak ada berubah nya. Setelah menerima hukuman yang cukup lama dia masih berani menjelekan Anes, apa kau tak punya malu." Ucap papa, air mata Liza mengalir deras di pipinya.
"Ma hiks... Sakit ma." Lirih nya.
"Sekali lagi saya mendengar kamu menjelekan Anes maka akan saya pastikan kamu menyusul Kenzie secepat mungkin Liza." Ucap Deandra, ia menghempaskan wajah Liza ke samping.
"Hiks... Ada apa dengan kalian kenapa kalian begitu membela Anes hah, dia orang luar di keluarga ini tapi kalian begitu menyayangi nya." Teriak Liza.
"Karena Anes mampu membuat kami bahagia tidak seperti kamu yang hanya bisa membuat kami malu." Sengit papa, Liza terdiam ia menundukkan kepalanya.
"Aku pulang dulu pa." Ucap Dean, bahkan lelaki itu tak menyapa mama yang sedang memeluk Liza.
"Hati-hati dijalan dan salam untuk Anes." Ucap papa, Deandra mengangguk dan pergi begitupun dengan Joe yang setia menemaninya.
...
Malam hari Cya sedang berada di kamar Anes, gadis cantik itu menatap Anes yang merebahkan tubuhnya ia tahu jika Anes sedang merasa lelah.
"Istirahat lah kak Dean akan segera kembali." Ucap Cya.
"Terimakasih banyak karena Cya mau membantu kakak." Ucap Anes.
"Tidak masalah Cya senang karena bisa membantu kakak." Ucap Cya, gadis remaja itu mengecup pipi Anes lembut.
"Good night kakakku sayang." Ucap Cya, Anes mengangguk dan menatap kepergian Cya.
Gadis cantik itu berjalan menuju dapur ada Ike dan suster disana, Cya duduk di antara mereka bergosip pun dimulai Cya mulai ketularan suka bergosip.
"Mbak Ike tahu kalau kak Liza sudah ada di rumah lagi." Ucap Cya.
"Tahu tapi kenapa nyonya harus berbaik hati kepada nona Liza, jelas-jelas nona Liza yang sudah membuat nona muda bersedih." Ucap Ike.
"Kenapa kak Liza hanya menyayangi anak keduanya, dulu saat ada Kenzie ia tak pernah seperti ini." Ucap Cya.
"Sepertinya anak yang ini beda." Ucap Ike.
"Apakah anak yang ini terbuat dari emas atau berlian?" Ceplos Cya, Ike dan suster tertawa mendengar perkataan Cya.
"Anak yang ini berbeda dengan Kenzie." Ucap Anes, membuat Cya terkejut bukankah kakak nya itu akan tidur.
"Apa bedanya?" Tanya Cya.
"Kalau yang ini ka pusat nya orang kaya Cya." Ucap Anes, ia mengambil minuman di kulkas.
"Hah." Sahut Ike dan suster.
"Memangnya ayah Kenzie bukan orang kaya?" Tanya Cya, Anes hanya mengedikan bahu nya saja.
"Ini benar-benar aneh." Ucap Cya, merekapun berbincang bersama.
Sementara itu di kediaman Jordan Nana dan suaminya itu sedang duduk di ruang tengah, Jordan meletakkan kepalanya di pangkuan Nana.
"Sayang cepatlah bersarang di perut mami kamu." Ucap Jordan, membuat Nana tertawa mendengar perkataan suaminya.
"Apakah anakmu itu seperti hewan sayang kenapa harus bersarang." Ucap Nana.
"Lalu jika bukan bersarang apa mengendap?" Tanya Jordan, Nana menyentil kening suaminya.
"Tidak seperti itu konsep nya anak kamu manusia hey bukan hewan." Ucap Nana, Jordan terkekeh kecil lalu bangun dari posisi nya.
Lelaki itu menarik tangan Nana tingga membuat Nana berada di atas tubuh nya, keduanya saling bertatapan dan mendekatkan wajah sampai akhirnya_
"Aaaa mami gak lihat beneran mami gak melihat nya." Pekik mami Jordan, membuat kedua sejoli itu terkejut dan membenarkan posisi nya.
"Mami kalau gak lihat ya gak usah teriak lah mi, gak tau apa anaknya kaget." Dengus Jordan.
"Lagian kamu ada kamar ngapain mau main disini hmmm." Ucap mami.
"Ya_ya gimana ya orang gak sadar." Ucap Jordan.
"Untung mami teriak kan coba kalau tidak sudah pasti kebablasan kamu." Ucap mami.
"CK, iya juga si bener." Ucap Jordan, Nana menundukkan kepalanya ia merasa malu karena terpergok oleh mami mertua nya.
"Yasudah sebaiknya kalian lanjutkan di kamar saja sana." Ucap mami, Jordan tersenyum tipis mami memang paling peka.
"Yasudah." Ujar nya, langsung menarik tangan Nana dan mengajak nya untuk pergi ke kamar.
"Dasar anak-anak." Kekeh mami Jordan, wanita itu duduk di sofa dan menonton film kesukaan nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊