
Anes mengetuk ruang kerja Axel dan membuka pintu nya, Axel menatap Anes yang masuk bersama dengan Deandra. Axel tersenyum apakah ini yang di sebut gunung es yang sudah mencair.
"Kamu sudah datang ternyata." Ucap Anes, wanita itu duduk di sofa ruang kerja Axel.
"Cih, kamu pikir aku akan selalu telat ke kantor." Ucap Axel, Anes tertawa kecil dan mengedarkan pandangannya.
"Seperti ada yang beda." Ucap Anes, Axel tertawa kecil mendengar perkataan Anes.
"Aku mengubah interior ruangan nya." Ucap Axel, Anes mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ohh, oiya ini berkas yang kamu minta kemarin." Ucap Anes.
"Ini sudah semua, dan ya Anes kamu sudah menyiapkan tema pemotretan untuk Intan?" Ucap Axel.
"Sudah aku sudah menyiapkan yang terbaik untuk Intan, nanti sekretaris aku yang akan mengatur nya." Ucap Anes, Axel mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong-ngomong ini kamu tumben bawa bayi gede." Ucap Axel, Anes menoleh menatap Dean yang sibuk dengan ponselnya.
"Ya anggap saja aku baru menemukan nya di pinggir jalan tadi." Ucap Anes, Dean menatap Anes ia terkejut mendengar perkataan Anes.
"Ngarang." Ucap Deandra, Axel tertawa kecil karena ternyata Dean mendengar apa yang dikatakan oleh Anes.
"Cih, yasudah El kalau begitu aku langsung pergi. Karena Dean ada meeting pagi ini." Ucap Anes.
"Iya-iya, jaga bayi gede nya baik-baik ya." Goda Axel, Anes tertawa kecil sementara Deandra hanya tersenyum tipis saja.
Dean dan Anes berjalan memasuki lift, Anes menatap Dean yang berdiri di samping nya. Dean yang merasa ada seseorang yang sedang menatap nya pun menoleh ke samping keduanya jadi saling menatap.
"Ada apa? Kenapa kamu seperti ini, apa ada yang sedang kamu sembunyikan?" Tanya Anes, Deandra menelan saliva ia takut Anes marah dan pergi.
"Tidak ada." Ucap Deandra.
"Dean jangan bohong, aku tahu kamu selama ini kamu terlihat cuek dan dingin. Tapi kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti ini." Ucap Anes.
"Saya sudah bilang tidak ada apa-apa Anes." Ucap Deandra, Anes diam ia tidak mau berbicara lagi.
Pintu lift terbuka Dean dan Anes berjalan dengan beriringan, dari kejauhan Dean melihat Intan yang baru memasuki perusahaan.
Dean langsung mendorong tubuh Anes dan menghimpit nya ke dinding, Anes yang terkejut memegang jas Deandra.
"Aaaaa." Pekik Anes, kini tubuh Anes sudah bersandar di dinding. Deandra menundukkan kepalanya menatap Anes, dan Anes mendongak menatap wajah Deandra.
"Kenapa lagi?" Tanya Anes, saat keduanya saling menatap.
"Saya belum menc*um kening kamu." Ucap Deandra.
"Hah? Ngapain biasanya juga kamu tidak pernah melakukan itu." Ucap Anes.
"Tapi sekarang saya ingin." Ucap Dean.
"Dean jangan aneh-aneh deh, lagian aku akan ikut pergi dengan kamu untuk apa pakai ci*m kening segala." Ucap Anes, Deandra tersenyum tipis dan semakin menunduk membuat Anes tercengang.
Saat bibir Dean hampir saja menyentuh kening Anes seseorang memanggil nama Anes, membuat Deandra memejamkan matanya.
"Nona Anes." Panggil Intan, Anes menolehkan wajahnya kesamping tangan kanan Deandra.
"Intan." Balas Anes, sementara Deandra masih dalam posisi yang sama mengukung Anes dan menundukkan kepalanya.
"Nona sedang apa?" Tanya Intan, Anes tersenyum kikuk.
"I_ini tadi mencari uban." Ucap Anes, tangan nya langsung meraih rambut Dean.
Intan mengalihkan pandangan nya kepada Deandra yang memunggunginya, Intan tersenyum manis kepada Anes.
"Nona ada-ada saja, kalau begitu saya permisi dulu nona." Ucap Intan, Anes mengangguk dan tersenyum manis.
"Dean minggir." Ucap Anes, Dean pun langsung sedikit menjauh dari tubuh Anes.
Intan yang mendengar Anes menyebut nama Dean menoleh dan ia hanya bisa melihat punggung Deandra, sementara tangan Dean berada di atas kepala Anes.
"Itu suami nona Anes?" Tanya Intan.
"Iya itu tuan muda suami nona Anes, memang baru sekarang si tuan muda datang kesini. Mungkin khawatir jika nona pergi sendiri." Ucap karyawan yang bersama dengan Intan.
"CK, uban mana uban." Ucap Deandra, mengacak rambut Anes.
Sementara Dean tertawa kecil dan mengejar Anes, di dalam mobil Anes tidak bersuara sedikitpun. Deandra menoleh menatap Anes, tiba-tiba saja Dean memegang tangan Anes.
"Maaf ya kalau saya membuat kamu kesal." Ucap Dean.
"Kamu kenapa si Dean, apa yang sedang kamu sembunyikan?" Tanya Anes.
"Nes tunggu waktu yang tepat ya, aku akan menjelaskan semuanya kepada kamu." Ucap Deandra.
Sementara itu di perusahaan milik Dean Joe dan Jordan terkejut mendengar jika Dean mengantar Anes ke kantor nya, mereka tidak habis pikir dengan Deandra yang nekat ingin menjauhkan Anes dari Intan.
"Saya yakin Joe kalau Dean benar-benar cinta sama Anes." Ucap Jordan.
"Lagian mun*fik kalau Dean masih gak ada perasaan apa-apa kepada Anes, sementara mereka tinggal serumah dan Anes juga selalu bertingkah lucu." Ucap Joe.
"Nah itu dia, Dean juga kaya nya sudah melupakan Intan. Buktinya dia gak mau ketemu Intan." Ucap Jordan.
"Lagian si Intan bisa-bisanya kerja di perusahaan milik istri dari Dean." Ucap Joe.
"Woy kebalik harusnya gini, bisa-bisanya Dean nikah sama bos nya Intan." Ucap Jordan, kedua lelaki itu tertawa.
"Jangan lupakan mama Deandra yang memiliki selera lebih bagus daripada anak nya." Ucap Joe, kedua lelaki itu sedang berbincang di ruang kerja Joe.
Tiba-tiba saja Deandra masuk dan mendudukkan tubuhnya di sofa, Joe dan Jordan mengernyit menatap Dean.
"Kamu kenapa de?" Tanya Jordan
"Hampir ketemu Intan tadi." Ucap Dean, Joe dan Jordan pun mendekati Dean.
"Terus gimana?" Tanya keduanya kepo.
"Ya gak gimana-gimana lah." Jawab Deandra.
"Katanya kamu mau ajak Anes, mana tuh Anes sekarang?" Tanya Jordan.
"Di ruang kerja saya." Jawab Dean, Jordan langsung tersenyum dan berdiri dari duduk nya.
"Mantap." Ucap Jordan.
"Mau kemana kamu?" Tanya Dean, menatap Jordan dengan tajam.
"Ketemu Anes lah mumpung ada disini." Ucap Jordan.
"Temuin aja gak apa-apa, tapi siap-siap saja kamu pulang tanpa kepala!" Ucap Deandra, membuat Joe menahan tawa nya.
"Yaampun de jiwa psycopath kamu meronta-ronta kah." Ucap Jordan.
"Intan saja saya jauhin dari Anes, bisa-bisanya kamu mau mendekati Anes." Ucap Dean.
"Iya tahu ia Dean udah cinta sama Anes, sudah memang kalau sudah cinta orang mau nyapa saja tidak boleh." Ucap Jordan, Dean meraih pot bunga yang berada di atas meja.
"Ngomong sekali lagi." Ucap Deandra, Jordan tertawa puas.
"Ampun de ampun, elah gitu aja ngamuk waak." Ucap Jordan.
"Ingat Jo apa yang sudah menjadi milik Dean, itu anti di sentuh oleh orang lain." Ucao Joe, Jordan tersenyum manis bagaimana pun caranya ia akan membuat Dean menunjukkan rasa cintanya kepada Anes.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊