Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 230


Saat Alden pulang dari sekolah dengan cepat Alexa menghampiri kakak kembarnya, wajah Alexa yang masih sedikit pucat terlihat antusias saat melihat Alden yang berjalan memasuki rumah.


Alden yang melihat wajah Alexa mengernyit heran apakah sakit membuat adik nya sedikit tidak war*s, Alexa tersenyum manis kepada kakak kembarnya bahkan hal itu jarang sekali dilakukan oleh Alexa.


"Geli banget liat nya kenapa senyum-senyum si." Protes Alden sambil terus berjalan, Alexa mengerucutkan bibirnya karena Alden malah berkata sesuatu yang tidak ingin ia dengar.


"Alden." Panggil Alexa, Alden tidak menanggapi lelaki tpan itu memilih untuk pergi ke kamar nya.


"Ucap salam dulu anak ganteng dikira ini goa main nyelonong aja hmmm." Ucap Anes, membuat Alden nyengir kuda dan mengucap salam kepada mommy nya dan Anes menjawab salam Alden.


"Gitu dong kan pintar anak mommy, gimana sekolah nya hari ini." Ucap Anes.


"Lancar-lancar saja bagaimana keadaan Alexa?" Ucap Alden, Anes tersenyum dan menatap Alexa yang berdiri di belakang Alden.


"Tanya langsung ke orang nya lah kenapa malah nanya ke mommy." Ucap Anes, Alden menggelengkan kepalanya dan mengangkat sebelah tangannya.


"Gak gak perlu jawaban makasih." Ucap Alden ia sadar jika Alexa ada di belakang nya.


"Lagi siapa yang mau jawab pede banget jadi orang." Sengit Alexa, Alden menoleh menatap Alexa dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Lagian gak ada yang mau nanya sama kamu." Ucap Alden.


"Mommy Alden nya nakal." Rengek Alexa, membuat Anes menghela nafasnya.


"Alexa sakit sama sehat ga berubah adu mulut terus kalian apa enggak capek." Ucap Anes.


"Alexa yang mulai." Ucap Alden, membuat Alexa melebarkan matanya.


"Mana ada kamu yang mulai ya bukan aku." Kesal nya.


"Itu di dapur pis*u sama penggorengan masih utuh gak sekalian aja perang hmmm." Ucap Anes, Alexa dan Alden terdiam Alden menatap tajam adiknya semenjak Alexa menatap kesal Alden.


"Mimpi apa aku punya kakak kaya Alden." Ucap Alexa.


"Mom aku rasa Alexa bukan adik aku mommy harus cek ke rumah sakit tempat mommy lahiran, kali saja Alexa tertukar." Ucap Alden.


"Alden." Teriak Alexa.


"Pusing bang kepala mommy dengar kalian ribut terus, adiknya lagi sakit masih aja di godain." Ucap Anes memegang kepalanya.


"Aku bicara fakta mom lagian dari sikap nya aja aneh keras kepala banget." Ucap Alden, seakan lupa jika sang mommy lebih keras kepala.


"Alden ishh." Geram Alexa melepaskan sendal nya dan melemparkannya kepada Alden.


"Gak kena, gak kena wlee." Ucap Alden menjulurkan lidahnya, saat Alexa berniat untuk mengejar Alden yang berlari ke kamar nya Deandra tiba-tiba saja menangkap tubuh putrinya.


"Biarkan saja Alden pergi kamu sedang dakit jangan lari-lari." Ucap Deandra, Alexa mengerucutkan bibirnya membuat Deandra dan Anes tertawa.


"Kamu kok pulang cepat sayang?" Tanya Anes, kini mereka sudah duduk di ruang keluarga.


"Aku sengaja pulang cepat kepikiran Alexa terus, tadi gimana apa kata dokter?" Ucap Deandra, Anes menatap Alexa yang duduk di pangkuan sang Daddy. Anes merasa suaminya sangat memanjakan sang putri.


"Tidak apa-apa Alexa hanya kelelahan saja dan terlalu lama berada di bawah sinar matahari, mungkin karena kemarin dia di hukum karena tidak mengumpulkan tugas." Ucap Anes, Deandra menatap wajah Alexa yang masih pucat.


"Sudah makan?" Tanya Dean kepada putrinya.


"Sudah, Daddy aku tidak suka obat-obat itu semua rasanya pahit." Ucap Alexa, membuat Deandra tersenyum.


"Kamu harus minum obat agar sembuh oke, jika kamu tidak meminum obat bagaimana bisa sembuh." Ucap Deandra.


"Mungkin Alexa berharap hanya dengan bertatapan dengan dokter saja akan membuat nya sembuh kembali." Ucap Alden yang tiba-tiba muncul.


"Lagian aneh orang sakit itu minum obat xa." Ucap Alden, Alexa mencebikan bibirnya mendengar perkataan Alden.


"Ngomong terus heran." Ucap Alexa, Deandra dan Anes tertawa menanggapi perdebatan kecil antara kedua anaknya.


"Ya lagian jadi orang males bener cuma minum obat xa apa susah nya." Cibir Alden.


"Nye-nye-nye." Balas Alexa, Anes tertawa dan mengusap kepala putrinya.


"Sudah-sudah kenapa berdebat terus, Alden cukup Alexa sedang sakit." Ucap Deandra mendekap tubuh Alexa.


"Iya iya sakit lah orang minum obat aja gamau gimana mau sembuh." Ucap Alden, Anes tahu putranya itu khawatir dengan keadaan Alexa.


Sementara itu di kediaman Joe terlihat Ara yang sedang duduk di meja dapur menatap mbak yang sedang memasukan makanan ke kotak makanan, Ike menatap heran putrinya.


"Kamu sedang apa Ara?" Tanya Ike, Ara menoleh menatap sang mami.


"Aku sedang meminta mbak membuat bubur, membuat puding coklat, puding buah dan kue memangnya kenapa si mi." Ucap Ara, Ike menganga mendengar perkataan Ara.


"Buat apa memangnya perut kamu muat makan makanan sebegitu banyak?" Ucap Ike, Ara menggelengkan kepalanya gadis cantik itu benar-benar tanpa ekspresi seperti papi nya tapi kenapa kelakuan nya 11 12 dengan Ike.


"Mami tidak tahu jika kakak Alexa sedang sakit hmmm, bagaimana mami ini aku ingin menjenguk kak Alexa tidak mungkin dengan tangan kosong kan." Ujar nya, Ike menatap kotak makanan yang berada di atas meja.


"Ini mana muat ganti yang lebih besar tempat nya." Ucap Ike, kali ini gantian Ara yang mengaga karena perkataan mami nya.


"Mi Ara nanti bawa nya berat jangan aneh-aneh deh, tangan Ara cuma dua ya mi ya." Ucap Ara, Ike menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Bsa diam suara kamu terlalu berisik." Ucap Ike, Ara mencebikan bibirnya membuat Ike tersenyum tipis bahkan sangat tipis.


"Ini bawa." Ucap Ike, Ara tercengang melihat kotak makanan yang lebih besar.


"Ini mami mau ngasi makan satu RT apa gimana mi? Kenapa gak satu kompleks saja sekalian." Crocos Ara.


"Mami juga ingin nya seperti itu tapi di komplek ini hanya da tiga rumah saja, sudah ini bawa hati-hati dijalan nya." Ucap Ike, Ara mengangguk pasrah ia tak bisa menolak perkataan ibunda ratu jika Ara berani menolak siap-siap saja Ike akan memberikan ceramah yang tidak ada ujungnya. Dan itu sudah dapat dipastikan jika kuping Ara akan merah karena ocehan mami nya, adik Ara menatap kakak nya sementara Ara menatap adik nya datar.


"Mingkem dek khawatir ada cicak lewat terus masuk ke mulut kamu." Ucap Ara, adiknya yang terkenal cengeng langsung berkaca-kaca.


"Kakak kok gitu." Ujar nya.


"Nangis nangis heran mami pas lahirin kamu gimana konsep nya cengeng bener." Cetus Ara, lihatlah gadis cantik itu seakan memiliki dendam pribadi kepada adiknya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊