Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 234


Di kediaman Joe terlihat Ara yang sedang menonton televisi dan adiknya menghampiri Ara, adiknya yang selalu muncul tanpa ekspresi itu selalu menarik perhatian Ara.


"Mukanya bisa biasa aja gak? Gausah datar-datar begitu cakep engga ngeselin iya." Ucap Ara, adiknya itu menatap Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Kak aku bilangin mami ya jahat terus sama aku." Ujar adiknya.


"Bilang aja sana kakak gak takut." Ucap Ara.


"Mami kakak nakal mi." Teriak adik Ara, sementara Ara tersenyum mendengar itu kini menjahili adiknya menjadi sangat menyenangkan untuk Ara.


"Kak jangan nakal ah." Ucap Ike.


"Loh siapa yang nakal aku gak nakal adik aja yang suka ngadu." Ucap Ara, Ike menghela nafasnya sampai kapanpun anak kedua nya tidak akan benar di mata Ara.


"Aku gak suka ngadu." Ucap adik nya yang tidak terima.


"Gak suka ngadu tapi manggil-manggil mami itu apa namanya dek konser?" Ucap Ara, adik Ara yang mulai lelah dengan kelakuan kakak nya pun hanya melengos begitu saja.


Ara dan Ike tertawa melihat bocah kecil yang duduk di sofa sebrang sana, Ike menatap anak nya dan tersenyum manis.


"Bagaimana di sekolah tadi?" Tanya Ike.


"Tidak menyenangkan." Ujar nya.


"Kenapa begitu?" Tanya Ike.


"Tidak apa-apa mami tidak perlu khawatir." Ucap Ara, Ike mengangguk dan mengelus kepala Ara dengan lembut.


Dan di sebuah perusahaan besar para papa baru saja keluar dari ruang meeting, Joe dan Jordan berjalan di belakang Deandra sementara Dean lelaki itu berjalan dengan sangat berwibawa.


"Permisi tuan." Ucap seorang karyawan wanita.


"Ada apa?" Tanya Dean.


"Nyonya sudah menunggu anda di ruangan tuan." Ujar nya, ya wanita itu adalah sekretaris Deandra.


"Nyonya maksud kamu mama saya?" Tanya Dean, wanita itu mengangguk.


"Benar tuan." Balas sekretaris Deandra.


"Untuk apa mama sampai datang ke kantor, biasanya mama akan datang ke rumah." Ucap Deandra.


"Mungkin ada hal penting yang ingin mama sampaikan kepada kamu Dean." Ucap Joe.


"Benar tidak mungkin mama datang jika tidak ada hal penting." Ucap Jordan, tanpa ba-bi-bu Deandra langsung melangkah kan kaki menuju ruang kerja nya.


"Ma." Panggil Dean.


"Dean maafkan karena mama datang kesini menemui kamu." Ucap mama, Deandra mengangguk dan duduk di samping mama.


"Ada apa mama kesini." Ucap Deandra.


"Nadiza sakit nak mama mohon kamu temui Diza." Ucap mama.


Deandra menatap mama nya dan menghela nafas nya, ia mulai tidak suka dengan mama yang meminta bantuan tanpa sepengetahuan Anes.


"Mama tidak datang kerumah?" Tanya Dean, mama menggelengkan kepalanya membuat Deandra terdiam.


"Tidak mama tidak mau Anes tahu jika Nadiza sakit." Ucap mama.


"Kenapa?" Tanya Deandra.


"Ini semua atas permintaan Liza nak dia tidak ingin Anes bertemu dengan Nadiza, karena Liza mengatakan jika Anes pernah mengancam Liza istri kamu akan memberi tahu Nadiza bagaimana sikap Liza. Dan Liza khawatir akan mental Nadiza bukan hanya Liza mama juga khawatir sayang, mama tahu Anes sangat menyayangi Kenzie menurut mama bukan sesuatu yang tidak mungkin Anes bisa melakukan itu." Ucap mama panjang lebar.


"Mama percaya dengan apa yang dikatakan oleh Liza?" Ucap Deandra, mama diam dan menatap putranya.


"Dean mama tahu kamu sangat mencintai Anes tapi tidak bisakah kamu juga mempedulikan Nadiza." Ucap mama, Deandra tertawa kecil mama nya sedikit berubah akibat ulah Liza yang selalu pura-pura baik Dean benci itu.


"Dean tidak peduli bagaimana Nadiza lahir tapi bagaimanapun juga Diza itu adiknya Kenzie." Ucap mama, Deandra menggelengkan kepalanya.


"Maaf ma aku tidak bisa menemui anak itu jika tanpa Anes dan tanpa sepengetahuan Anes, sekalipun nanti aku memberi tahu Anes aku tidak bisa aku tidak ingin membuat Anes kecewa karena sikap mama. Satu lagi jangan bersikap seperti ini, karena aku tidak tahu sampai kapan papa akan menerima perubahan mama aku rasa mama tahu jika papa tidak menyukai Liza!" Tegas Deandra, mama diam ya suaminya yang tak lain papa Dean memang sudah beberapa kali marah kepada mama.


Papa Dean sudah sering mengingatkan jika Liza belum benar-benar berubah, tapi entah mama yang terlalu baik atau mudah di bohongi sampai mudah percaya dengan sikap Liza.


Papa juga memberikan ancaman jika mama masih bersikap seperti itu papa tidak akan segan-segan untuk meninggalkan mama, papa merasa sudah tak ada beban lagi apalagi Dean sudah menikah dan menemukan wanita yang sangat tepat.


Jika si kantor ada mama yang sedang memohon kepada Deandra, di kediaman Anes ada papa Gavriel yang sedang bermain dengan kedua cucu nya.


"Opa kenapa Oma tidak ikut?" Tanya Alexa.


"Oma kamu sibuk opa sendiri tidak tahu kesibukan apa yang dia lakukan." Ucap tuan Gavriel.


"Pa ini teh nya." Ucap Anes.


"Terimakasih sayang." Ucap tuan Gavriel, Anes mengangguk dan tersenyum manis.


"Oiya papa kesini ingin memberikan sesuatu untuk Alexa dan Alden." Ucap tuan Gavriel, mengeluarkan beberapa berkas dan menyerahkan nya kepada Anes.


"Apa ini?" Tanya Anes.


"Kamu buka dan lihat saja." Ucap papa.


Saat membuka map itu mata Anes membulat sempurna, ia menatap papa nya tak percaya dengan beberapa lembar kertas yang ada di tangan nya.


"Pa ini apa?" Ucap Anes, papa mengangguk dan tersenyum manis.


"Papa tidak ingin memberikan semua ini kepada Deandra sayang, jadi papa ingin semua yang papa miliki jatuh ke tangan Alden dan Alexa." Ucapnya, Anes menggelengkan kepalanya dan memberikan berkas-berkas itu kembali kepada papa.


"Enggak pa Anes gak bisa terima ini." Ucap Anes menolak dengan baik.


"Kenapa?" Tanya papa.


"Pa cucu papa bukan hanya Alexa dan Alden tapi ada anak kak Liza, Anes tahu itu meskipun Anes belum pernah melihat nya." Ucap Anes.


"No Aneska cucu biologis papa hanya Alden dan Alexa tidak ada lagi, anak Dean hanya dua yaitu mereka yang saat ini duduk disamping papa." Ucap tuan Gavriel, ya Alexa dan Alden memang duduk di samping kiri dan kanan tuan Gavriel.


"Pa mereka masih terlalu kecil Anes tidak bisa menerima ini." Ucap Anes.


"Anes tolong terima papa tidak tahu usia papa sampai mana, papa sangat menyayangi Deandra dan papa tahu Dean begitu menyayangi kedua anaknya jadi tolong kamu terima." Ucap papa, Anes menunduk dalam ia bingung harus bagaimana.


"Pa Anes tidak bisa menerima ini sekarang menurut Anes sebaiknya papa bicarakan dulu dengan Dean, Anes tidak bisa mengambil keputusan sepihak." Ucap Anes, papa mengangguk dan tersenyum manis kepada menantu kesayangan nya.


"Kamu pegang dulu berkas-berkas nya nanti papa yang akan bicara dengan suami kamu." Ucap papa, Anes mengangguk ia tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan papa mertua nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊