
Anes memutuskan untuk membawa suaminya pulang ke rumah, niat hati ingin minggat dari rumah namun saat melihat keadaan Dean yang mengkhawatirkan Anes pun memutuskan untuk mengurus Deandra.
"Apakah Daddy belum bangun?" Tanya Alden.
"Belum." Balas Anes.
"Kapan Daddy akan bangun, dad bangunlah aku janji tidak akan nakal lagi terkecuali kepada wanita-wanita yang menggoda Daddy." Ucap Alexa, Anes tertawa kecil mendengar perkataan putrinya.
"Kau puas sudah menyerangnya hmmm." Ucap Anes.
"Tidak aku belum puas karena wajahnya masih utuh." Ucap Alexa.
"Benar harusnya kau tadi mematahkan hidungnya." Ucap Alden.
"Kau meminta aku mematahkan hidungnya sementara kamu tidak membantu aku sama sekali." Ucap Alexa.
"Tubuh kecilku di peluk erat oleh mommy, kau tidak tahu Alexa sebesar apa kekuatan mommy." Ucap Alden, Ike dan Nana yang ada disana ikut tertawa.
"Nona bagaimana keadaan wanita itu?" Tanya Ike.
"Saya tidak tahu ke terakhir kali saya lihat rambutnya benar dibuat botak oleh Alexa, kau tahu Alexa memotong rambutnya tidak rapi pitak-pitak." Ucap Anes, Nana dan Ike tertawa renyah mendengar nya.
"Sttt, nanti bayi besar aku bangun." Ucap Anes, Ike dan Nana pun menutup mulutnya.
"Saya yakin nona dia akan mengalami trauma yang disebabkan oleh nona Alexa." Ucap Ike, Anes menggelengkan kepalanya lalu menatap Alexa.
"Kakak Alexa ayok kita bermain." Ucap Ara.
"Ayok." Ajak Alexa, para bocah pun memutuskan untuk pergi bermain.
"Kakak." Panggil Cya.
"Ada apa Cya." Sahut Anes.
"Aku dengar Alexa menyerang seseorang siapa?" Tanya Cya.
"Lusi." Jawab Anes.
"What?" Pekik Cya, Anes mengernyit heran menatap Cya.
"Ada apa kenapa kamu begitu terkejut." Ucap Anes.
"Kak bagaimana bisa Lusi tahu alamat kak Dean, apakah kakak tidak ingin mencari tahu tentang Lusi." Ucap Cya.
"Tidak bukankah dia mantan Deandra." Ucap Anes.
"Ya, tapi dia tidak memberikan kesan indah, yang memberi kesan indah kepada kak Dean hanya kak X." Ucap Cya, Anes mengangguk ya ia tahu karena x yang membuat Dean dulu tidak menjalin hubungan dengan Intan dan tidak mudah untuk menerimanya.
"Hmmm aku tahu." Ucap Anes.
"Kenapa semua masalah datang dalam waktu bersamaan." Ucap Cya, Anes terdiam mendengar perkataan Cya.
"Apa maksudnya?" Tanya Anes.
"Saham perusahaan cabang milik kak Dean yang bermasalah, lalu desain perhiasan kakak ditiru orang lain dan sekarang kemunculan Lusi yang secara tiba-tiba bukankah itu aneh." Ucap Cya, Anes tediam mengingat semua kejadian yang terjadi.
"Maksud kamu." Ucap Anes ia masih tidak paham, otak nya sedang lemot untuk saat ini.
"Aku tidak yakin tapi aku yakin ada dalang dibalik semua ini." Ucap Cya.
"Benar nona selain tuan anda juga harus hati-hati, Alden Alexa bukankah tuan selalu menjaga privasi kedua anak itu tapi nona mengajaknya ke perusahaan." Ucap Nana, ahh bagaimana bisa Anes melupakan itu.
"Kita bisa minta kak Joe menghapus jejak cctv perusahaan tentang Alden dan Alexa yang datang ke kantor, dan aku rasa para karyawan pun tidak akan mengingat wajah mereka." Ucap Cya, Nana mengangguk menyetujui perkataan Cya.
"Aku harap begitu." Ucap Anes.
"Memang harus begitu." Ucap Cya, Anes dan Nana menatap Dean yang masih terlelap dalam tidurnya.
...
Di tempat lain terlihat dua wanita yang duduk berhadapan, yang satu menangis tersedu-sedu karena rambutnya rusak akibat kelakuan bocah kecil.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika istri dan anak Deandra begitu menakutkan." Ucap Lusi.
"Kau saja yang bo*oh bertindak terlalu gegabah!" Ujar wanita itu.
"Kau tahu istri Deandra men*mpar ku dengan keras, dan dia bahkan lebih cantik dari pada aku." Lirih nya, wanita yang duduk di depannya itu tersenyum smirk.
"Kau bilang anaknya menyerang kamu, tapi apakah kamu melihat seperti apa wajah kedua anaknya?" Tanya wanita itu.
"Tidak." Jawab Lusi polos.
"Tidak? Bagaimana bisa tidak kau berada dalam satu ruangan dengan mereka." Teriak wanita itu.
"Bo*oh kau benar-benar bo*oh." Ujar nya.
"Bo*oh lalu apa bedanya dengan kamu yang lebih bo*oh, sudah cukup aku harus bagaimana sekarang? Rambutku hanc*r sementara aku masih terikat kontrak." Ucap Lusi.
"Pakai wig." Ucap wanita itu.
"Wig? Bagaimana jika seseorang memegang kepalaku bukankah wig itu akan terlepas." Ringis Lusi membayangkan betapa malunya ia jika semua itu terjadi.
"Jahit saja wig itu kepada kepala kamu." Ujar nya sinis.
"Shitt, kau tahu semua ini terjadi karena kamu." Sengit Lusi.
"Lusi kau bisa menyerang kedua bocah itu, jangan pedulikan bagaimana jika bocah itu terluka." Ujar wanita itu.
"Bo*oh melihat anak kecil membuat aku berpikir bagaimana jika anakku yang melakukan nya, aku tahu mereka melakukan itu karena takut jika mama nya terluka karena aku." Ucap Lusi.
"Kalau begitu terima saja konsekuensinya!" Tegas wanita itu dan berjalan pergi meninggalkan Lusi, Lusi meremat tangan nya ia benar-benar kesal saat ini.
Malam hari Deandra terbangun dan berniat pergi ke kamar mandi, Anes yang melihat nya langsung merain tangan Deandra.
"Biar aku bantu." Ucap Anes, Dean menatap Anes yang memasang wajah datar nya dan menatap kedua anaknya yang duduk di sofa dengan santai.
"Kamu masih marah?" Tanya Dean.
"Masuklah aku akan menunggu kamu disini." Ucap Anes, Deandra menghela nafasnya dan masuk kedalam kamar mandi.
"Mommy." Panggil Alexa dan Alden.
"Hmmm." Sahut Anes.
"Jangan mudah luluh oke, biarkan Daddy berusaha membujuk mommy." Ucap Alden.
"Benar tapi jika Daddy membelikan emas batangan, berlian atau pulau tolong langsung saja maafkan dia." Ucap Alexa, membuat Alden mendecih.
"Kenapa yang ada di pikiran kamu hanya emas dan berlian." Protes Alden.
"Tentu saja itu adalah cara memperkaya mommy maka aku akan selalu mengingat itu." Ucap Alexa.
"Tapi lama-lama kau akan membuat Daddy bangkrut Alexa." Sengit Alden.
"Kau yakin Alden Daddy bisa bangkrut." Ucap Alexa.
"Tentu tidak." Balas Alden, Alexa tertawa dan mendorong kening Alden.
"Bo*oh." Ceplos Alexa, Alden tertawa kecil dan menggaruk kepalanya sementara Anes wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sudah?" Tanya Anes.
"Hmmm." Balas Deandra, Dean berjalan kembali ke tempat tidur.
"Kau lapar tidak?" Tanya Anes.
"Tidak aku tidak lapar." Ucap Dean, Anes mengangguk dan mengupas buah jeruk untuk suaminya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Dean.
"Belajar kami ada ulangan besok." Ucap Alexa.
"Baiklah belajar yang rajin." Ucap Dean, Alexa mengangguk dan tersenyum tipis.
Sementara Alden hanya mengangguk saja, Dean tidak bisa membayangkan jika hari ini ia tak bisa melihat kedua anak dan istrinya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊