Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 108


Setelah selesai mandi kedua manusia itu turun untuk makan malam, meskipun hanya berdua Anes dan Deandra selalu menyempatkan untuk makan malam bersama.


Terkadang Anes merasa kesepian karena di pernikahan nya yang sudah menginjak usia enam bulan ia belum juga hamil, Anes menatap Deandra yang sedang makan dengan tenang.


Anes tahu jika Dean tidak lagi membahas soal anak karena ingin menjaga prasaan nya, dan disini Anes paham sisi terlemah Anes selain keluarga adalah suaminya.


Sekuat apapun Anes dan setegar apapun wanita itu ia akan merasa rapuh jika orang mengatakan tentang anak di hadapannya, apalagi ia tahu betul bagaimana Deandra yang sangat menginginkan sosok malaikat kecil yang lucu-lucu itu.


"Kamu kenapa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Dean, ia menggenggam tangan Anes dengan lembut.


"Enggak kok aku gak apa-apa." Ujar nya, di sudut lain Ike, Nana dan suster yang menyaksikan itu saling memeluk satu sama lain.


"Mbak Ike gak tega lihat nona Anes, dia pasti sedih dan pengen punya anak kan mbak." Ucap Ike, kepada suster dan Nana.


"Iya ke lagian siapa si yang ga mau punya anak, kehidupan nona dan tuan muda itu sudah cukup sempurna dimata orang-orang yang melihat nya. Tapi tanpa kehadiran anak apalah arti semua yang mereka miliki." Ucap Nana, suster mengangguk.


"Benar mereka memiliki semuanya harta yang melimpah, rumah banyak perusahaan dimana-mana tapi ya ternyata nona juga tetap merasa kesepian nona juga sama seperti wanita pada umumnya ke." Ucap suster.


"Tapi kenapa ya mbak nona dan tuan muda kan sudah jelas suami istri sah secara hukum dan agama, tapi kok nona belum mendapatkan anugerah yang selama ini di tunggu-tunggu. Sementara nona Liza dia bahkan tidak memiliki status pernikahan tapi gampang banget hamil, Ike jadi kasihan kepada nona Anes. Apalagi kalau nona sedang bermain dengan tuan muda ken teriris hati Ike mbak." Ucap nya, Nana dan suster mengangguk.


Mereka berharap akan ada anugerah terindah untuk tuan dan nona muda nya suatu hari, Ike tidak sabar ingin melihat kehebohan Deandra saat Anes hamil nanti.


Setelah tuan dan nona nya selsai makan malam Ike dan Nana menghampiri nona dan tuan muda nya, Anes tersenyum manis kepada Ike dan Nana.


"Sudah selesai nona." Ucap Ike.


"Iya ke, kalian jangan lupa makan malam juga ya." Ucap Anes.


"Siap nona itumah selalu menjadi yang utama untuk kita." Ucap Ike, Anes tertawa kecil.


"Ayok sayang." Ucap Dean merangkul pinggang ramping Anes.


"Saya ke kamar dulu, selamat malam." Ucap Anes, Ike, Nana dan suster mengangguk hormat.


"Malam nona." Ucap mereka kompak.


Sesampainya di kamar Anes langsung naik ke atas tempat tidur, Dean yang awalnya akan pergi ke ruang kerja pun mengurungkan niatnya.


Lelaki itu lebih memilih untuk menemani Anes di kamar, Dean meraih kepala Anes dan menyandarkan nya di dada bidang Deandra.


"Dean." Panggil Anes.


"Ada apa hmmm." Balas Deandra.


"Maafkan aku." Lirih nya, Deandra mengernyit mendengar perkataan Anes.


"Kenapa kamu meminta maaf hmm, kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" Tanya Dean.


"Aku belum bisa memberikan anak untuk kamu." Ucap wanita itu dengan tersenyum manis, Deandra tertegun ia merasa sakit di dadanya.


Meskipun Anes tidak menangis dan tidak mengatakan bahwa ia merasa sedih, Dean tahu hati istrinya itu sedang terluka.


Dan saat ini Deandra sedang menyumpah serapahi Liza yang membuat fikiran Anes terganggu, Dean berjanji akan membuat Liza merasakan apa yang Anes rasakan.


"Hey percayalah kamu akan memiliki anak yang lucu-lucu, untuk saat ini mungkin Tuhan ingin kita untuk bersenang-senang dulu." Ucap Deandra, lelaki itu selalu menenangkan Anes.


"Hmmm." Sahut Anes menatap suaminya.


"Lupa kalau kita gak pacaran hmmm, kita puas-puasin pacaran dulu." Ucap Dean, Anes tertawa kecil dan memeluk tubuh suaminya.


"Makasih karena kamu selalu memiliki cara untuk menenangkan aku." Ucap anes.


"Kenapa seperti itu?" Tanya Anes, Dean mengecup puncak kepala Anes.


"Ada istilah yang mengatakan jika anak akan meninggalkan kita setelah mereka mendapatkan kehidupan nya, setelah mereka menikah dan memiliki keluarga mereka akan fokus untuk keluarga nya. Dan yang akan menemani aku nanti itu hanya kamu, saat aku susah, senang, sakit, sedih dan bahagia itu hanya kamu yang akan tahu." Ucap Dean,Anes menatap wajah serius Deandra.


"Bukankah itu seperti kita?" Ucap Anes polos, Deandra tertawa kecil mendengar perkataan polos yang keluar dari mulut Anes.


"Iya itu seperti kita dulu juga kita menjadi anak dari kedua orang tua kita, kamu menjadi anak Daddy dan mommy sementara aku menjadi anak mama dan papa. Hingga akhirnya kita meninggalkan mereka untuk kehidupan kita dan keluarga kecil kita bukan, sampai akhirnya yang menemani Daddy dan papa hanya mommy dan mama." Ucap Dean, Anes tertawa kecil Dean tersenyum manis melihat Anes yang tertawa seperti itu.


"Tapi aku tidak mau berada jauh dari anak-anak aku nanti." Ucap Anes, Dean mencubit hidung Anes dengan gemas.


"Orang tua mana yang ingin jauh dengan anak-anak nya honey mommy, Daddy, mama dan papa juga tidak ingin berada jauh dari kita." Ucap Deandra, ia begitu gemas kepada Anes.


"Kita dan mommy hanya beda kota tapi tetap dekat jika di tempuh dengan mobil, begitupun dengan mama." Ucap Anes.


"Iya karena aku tidak ingin kamu berjauhan dengan mommy, bisa di bombardir daddy aku jika mengajak kamu tinggal berjauhan dengan mereka." Ucap Deandra.


"Padahal aku ingin." Ucap Anes, Dean mengernyit heran.


"Kenapa?" Tanya Dean.


"Ya agar bisa mudik lah seperti orang-orang." Ujar nya, Deandra tertawa kecil.


"Gak usah capek-capek mudik kamu bisa ke rumah mommy tiap hari." Ucap Deandra.


"Iya kamu benar." Balasa Anes, setelah berbincang yang tidak tahu arah pembicaraan akan sampai kemana merekapun memutuskan untuk tidur.


Anes tidur dalam pelukan Deandra karena memang Dean tidak bisa jika tidak tidak memeluk Anes, mungkin jika tidak ada Anes lelaki itu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.


Sementara itu Ike dan yang lainnya sedang berjalan menuju tempat mereka tinggal yang sudah di sediakan oleh Deandra, Ike kadang merasa bingung karena Dean malah memilih rumah yang begitu besar.


"Ini tuan muda gak main-main beli rumah sudah seperti raja nya rumah, gak tahukah kita jalan menuju rumah belakang saja sudah membuat kaki pegal." Ucap Ike.


"Sabar ke sabar, gak salah si kalau tuan muda memiliki banyak pelayan untuk membersihkan rumah. Karena kalau kita yang melakukan nya bisa kejang di tempat." Ucap suster.


"Lebih tepatnya kita bisa encok di usia muda mbak." Balas Ike, Nana dan suster tertawa kecil mendengar perkataan Ike.


Namun dibalik itu semua mereka merasa bahagia karena memiliki tuan dan nona yang begitu baik, bahan tidak membedakan antara pelayan dan majikan. Hanya saja tempat tinggal para pekerja berada di belakang mansion mewah milik Deandra.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊