Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 110


Malam hari Anes menuruni anak tangga wanita itu berniat untuk menyiapkan makan malam, namun saat ingin pergi ke dapur Anes melihat Jordan yang sedang duduk di ruang tamu.


"Jordan kamu kesini?" Tanya Anes, wanita itu berjalan mendekati Jordan.


"Eh, iya nes maaf saya mengganggu waktu kamu dan yang lain." Ucap Jordan, Anes menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.


"Enggak apa-apa kok, pasti mau cari Deandra ya." Ucap Anes, dengan cepat Jordan menggelengkan kepalanya.


"Enggak bukan." Ujar nya, Anes mengernyit heran lalu jika bukan untuk bertemu dengan suaminya Jordan akan menemui siapa.


"Lalu?" Tanya Anes.


"Ini nes anu apa, euummm saya mau minta ijin untuk mengajak Nana pergi sebentar boleh?" Ucap Jordan, Anes menatap lelaki itu dengan intens.


"Mau bertemu Nana ya boleh kok boleh, sebentar ya aku panggil Nana dulu." Ucap Anes membuat Jordan gugup, reaksi Anes yang tidak bertele-tele membuat Jordan jadi sedikit grogi.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Deandra, lelaki itu menghampiri Jordan.


"Mau bertemu dengan Nana." Jawab nya terlihat senang.


"Memangnya Anes sudah mengijinkan." Ucap Dean, lelaki itu duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah kok Anes sedang memanggil Nana sekarang." Ucap Jordan, Dean hanya mengangguk saja dan menatap Jordan dengan datar.


"Ada apa?" Tanya Jordan.


"Kau ingin mengajak Nana pergi tapi tubuhmu sangat bau." Ucap Dean membuat Jordan terbelalak.


"Ngarang kamu ya mana ada aku bau orang wangi seperti ini dibilang bau." Sengit lelaki itu.


"Cih, wangi apanya kehadiran kamu membuat saya mual." Ucap Deandra, ia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Jordan yang menatap nya dengan bingung.


Di tempat lain terlihat Nana yang sedang membantu Ike memasak, Anes menepuk pundak Nana dan membuat wanita itu terkejut.


"Nona mengagetkan saja." Ucap Nana, Anes tertawa kecil melihat Nana.


"CK, maafkan saya karena sudah membuat kamu kaget." Ucap Anes.


"Iya tidak apa-apa nona, kenapa apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nana kepada Anes.


"Di depan ada Jordan tolong kamu temui dia ya, katanya dia ingin bertemu dan pergi bersama dengan kamu." Ucap Anes, Ike dan suster saling menatap satu sama lain.


"Tuan Jordan? Untuk apa ingin bertemu dengan saya?" Tanya Nana.


"Entahlah mungkin ada sesuatu yang penting yang mengharuskan dia bertemu dengan kamu." Ucap Anes, Nana hanya terdiam saja pikirannya berkecamuk.


"Sudah mbak temui saja dulu siapa tahu bisa menjadi jodoh yang tak disangka-sangka." Ucap Ike, membuat Nana menunduk malu di hadapan Anes.


"Benar na sudah temui saja dulu, lagian nona juga tidak bermasalah jika kamu menemui tuan Jordan." Ucap suster.


"Nona." Lirih Nana merasa tidak enak.


"Temui saja tidak apa-apa." Ucap Anes, Nana mengangguk dan pamit untuk menemui Jordan.


"Nona tunggu di ruang makan saja Ike akan membawakan makan malam nya kesana." Ucap Ike, Anes mengangguk dan pergi ke ruang makan.


Ia yang semula ingin membantu Ike memasak pun mengurungkan niatnya, Anes melihat Dean yang duduk di meja makan dengan memainkan ponselnya.


"Ponsel terus." Cibir Anes, membuat Deandra langsung meletakkan benda berbentuk pipih itu di atas meja.


"Tidak sayang." Ucap Dean, Anes duduk disana dan menatap suaminya.


"Jordan tumben kerumah dan bertemu dengan Nana." Ucap Anes, ia mengambil makanan yang sudah di letakan di atas meja oleh Ike.


"Tidak tahu mungkin dia ingin mengungkapkan perasaan nya kepada Nana." Ucap Deandra.


"Jordan benar-benar menyukai Nana sepertinya." Ucap Anes.


"Kenapa biasanya juga makan masing-masing." Ucap Anes.


"Tidak mau satu piring berdua saja." Ucap Deandra, Anes menghela nafasnya dan menuruti keinginan bayi gede nya itu.


"Ya ya baiklah." Ucap Anes, setelah mengambil beberapa manakan dan meletakkan di piring nya Anes menyuapi Deandra.


"Sayang." Panggil Dean sambil mengunyah makanan nya.


"Sedang makan tidak boleh banyak berbicara." Ucap Anes, Deandra menelan makanan yang di kunyah nya.


"Iya maaf." Lirih lelaki itu, Ike dan suster merasa gemas kepada Anes dan Deandra apalagi saat melihat sikap manja tuan muda nya.


...


"Jadi apa yang ingin tuan bicarakan sampai mengajak saya ke tempat seperti ini?" Tanya Nana, ya Jordan mengajak Nana ke sebuah restoran mewah.


"Na sebelumnya saya ingin bertanya apakah kamu sudah memiliki kekasih atau tunangan, saya tidak akan bertanya apakah kamu sudah menikah atau belum karena saya tahu kamu belum menikah." Ucap Jordan, Nana meletakan sendok yang ia pegang.


"Tidak ada tuan." Jawab Nana jujur.


"Apakah kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang?" Tanya Jordan lagi.


"Untuk apa tuan bertanya seperti itu?" Tanya Nana, Jordan tersenyum tipis menatap Nana.


"Saya ingin tahu dan saya ingin mengenal kamu lebih jauh lagi, saya tahu mungkin ini terlalu cepat untuk kamu tapi sungguh na sejak pertama kali saya melihat kamu saya merasa sangat tertarik dengan kamu." Ucap Jordan, Nana tersenyum tipis kepada Jordan.


"Maaf sebelumnya tuan anda tidak perlu tahu saya dan bagaimana saya, karena pada dasarnya saya dan anda itu berbeda sangat jauh. Jadi saya minta anda untuk membuang pikiran anda terhadap saya, masih banyak wanita cantik diluar sana yang menyukai anda." Ucap Nana dengan sadar diri.


"Na tidak ada yang membedakan di antara kita, kita sama-sama manusia kan jika Dean dan Anes saja bisa bersama kenapa kita tidak bisa." Ucap Jordan, Nana mengangguk sopan kepada lelaki itu.


"Nona dan tuan muda berbeda dengan saya dan anda tuan, saya tidak seperti nona yang berasal dari keluarga kaya. Dan kehadiran saya disini pun karena sebuah pekerjaan untuk menghidupi adik-adik saya." Ucap Nana, Jordan melihat ketulusan di mata Nana.


"Na saya_" Ucapan Jordan terhenti saat Nana bangun dari duduknya.


"Maaf tuan saya rasa cukup yang kita bicarakan kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Nana, sebelum wanita itu pergi Jordan menahan tangan Nana.


"Tunggu, berikan alasan kenapa kamu tidak ingin mencobanya dengan saya?" Tanya Jordan.


"Karena saya tidak bisa meninggalkan nona Anes, selain itu saya juga tidak ingin mengecewakan orang tua saya. Jika saya menerima anda bukan kah itu sangat terlihat saya orang yang tidak tahu diri, maaf tuan saya tidak ingin keluarga saya menjadi cacian orang lain." Ucap Nana, ia melepaskan tangan Jordan yang menggenggam tangan nya.


Jordan menatap Nana yang pergi meninggalkan nya tanpa ragu, baru kali ini Jordan merasakan sakit hati karena seorang wanita.


"Dean kenapa saya tidak seberuntung kamu." Lirih Jordan, lelaki itu mengusap wajah nya dengan kasar dan duduk kembali di kursi nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊