
Saat Anes, Nana dan Ike sedang berbincang tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Setelah berhasil membujuk Aluna untuk makan, Anes dan yang lainnya pun memutuskan untuk berbincang sebelum pulang ke rumah masing-masing.
"Cya ngapain wa aku." Gumam Anes.
"Kenapa Cya?" Tanya Nana.
"Entah dia tiba-tiba mengirimkan foto tapi aku belum melihat nya." Ucap Anes lagi.
"Kenapa gak di lihat saja siapa tahu penting." Ucap Ike.
"Nah iya siapa tahu penting nes." Balas Nana, Anes pun menatap kedua sahabatnya.
"Mungkin saja ini aku akan membuka pesan nya." Ucap Anes.
*Pesan chat*
Lucya: Kakak jelasin ini apa? Ini serius kan gak bercanda kan? π
"Oh my God." Pekik Anes, membuat Nana dan Ike terkejut dengan apa yang di lihat oleh Anes.
"Kenapa?" Tanya Ike dan Nana.
"Lihat ini bukankah ini artinya Cya sedang mengandung." Ucap Anes.
"Wooowww, ternyata El lebih tokcer dari yang kita kira." Ucap Nana, Ike mengangguk menatap gambar yang di kirim oleh Cya.
"Waaahh, nes apakah ini kamu asn segera menjadi seorang nenek." Ucap Ike, Anes menatap Ike yang berada di samping nya.
"No nenek, biarkan anak Cya memanggilku dengan sebutan Buna." Ucap Anes, Nana dan Ike pun tertawa kecil mendengar perkataan Anes.
"Baiklah baik Buna, sekarang balas dulu pesan Cya kasihan dia pasti menunggu balasan kamu.
"CK, baiklah akan aku balas sekarang." Ucap Anes, ia pun memutuskan untuk membalas pesan chat dari Cya.
*Pesan chat*
Anes: Dek demi apa cebong nya Elang berhasil nyangkut di rahim kamu.
Lucya. Pengen nangis. π©
Anes: Ngapain nangis harusnya kamu itu senang bukan malah nangis. π
Lucya: Plis kak maksud nya itu aku pengen nangis karena terharu. π
Anes: Oh begitu, kakak saja terharu dan bangga karena kamu sama Elang berhasil membuat karya. βΊοΈ
Lucya: Demi apa si kakak ngeselin banget. π
Anes: Kok ngeselin si. π
Lucya: Jangan ngomongin itu bisa gak? Aku malu. π
Anes: Cie'elah gaya, biasanya juga kamu malu-malu in. βΊοΈ
Lucya: Kak ini adik nya lagi hamil kan ya, orang mah bilang ya ampun dek akhirnya kamu hamil juga. Kita ke dokter ya kita cek kandungan kamu biar lebih jelas, bukan malah bahas aku dan Elang. π
Anes: Ohh kamu mau kakak anter ke dokter?
*Luc**ya*: Gak, gak usah kak gak usah lagian gak peka banget. π
Anes: Haha, sudah-sudah kakak ke rumah kamu sekarang kita ke dokter oke.
Lucya: Enggak deh kak gak usah, nanti aku pergi ke dokter nya sama Elang saja. βΊοΈ
Anes: Yaaah, sama kakak saja gak apa-apa kok.
Lucya: Gak mau aku pengen sama Elang, biar kakak kepo tentang kandungan aku. π
Anes: The real adik solimi.
Lucya: π€£π€£π€£
Anes pun tidak membalas pesan Cya lagi, Nana dan Ike tersenyum menatap Anes yang juga sedang tersenyum.
"Seneng banget na, akhirnya Elang bisa bikin Cya hamil." Ucap Anes, Nana dan Ike tertawa mendengar perkataan Anes.
"Ya ampun pasti bisa lah nes, Elang dan Cya kan dua manusia dewasa gak mungkin kalau elang gak bisa hamilin Cya." Ucap Nana.
"Nah benar, apalagi pas malam pertama saja sepertinya Elang langsung menerkam Cya." Ucap Ike, Nana dan Anes tertawa kecil.
Sementara itu di kediaman Elang Cya sedang menatap tes pack itu dengan mata berkaca-kaca, tangan nya turun dan tanpa sadar mengelus perut nya.
"Hihi, kamu sudah ada disini sekarang nak. Semoga kehadiran kamu membuat papi kamu makin dekat dengan mami ya, tidak perduli bagaimana kisah kami bisa menikah. Tidak peduli jika pernikahan ini terjadi karena sebuah perjodohan, tapi yang jelas kamu hadir disini menjadi harapan untuk mami dan papi." Lirih Cya, ia berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri.
"Hiks, bagaimana jika Elang tahu apakah dia akan sebahagia aku? Apakah dia akan menerima anak ini." Lirih nya, sampai seseorang masuk kedalam kamar dan mengejutkan Cya.
"Kamu ngapain." Ucap Elang, lelaki itu pulang dengan tiba-tiba dan mengejutkan Cya.
"Loh kok kamu sudah pulang." Ucap Cya, Elang menghela nafasnya dan menatap Cya.
"Aku nanya kamu ngapain berdiri di depan cermin Lucya, bukannya menjawab ini malah balik nanya." Ucap Elang, Cya bingung harus bagaimana memberi tahu Elang tentang kehamilan nya.
"Aaaa, itu aku." Elang mengernyit heran dengan sikap Cya yang terlihat Anes.
"Itu apa yang sedang kamu sembunyikan?" Tanya Elang, ia merasa curiga karena Cya menyembunyikan tangan nya di belakang tubuh.
"Tidak bukan apa-apa." Ucap Cya.
"Cya katakan apa yang kamu sembunyikan." Ucap Elang.
"El ini_" Ucapan Cya terhenti, karena mendengar suara mama Elang.
"El, Cya." Panggil nya.
"Mama manggil El." Ucap Cya.
"Nanti dulu aku ingin tahu apa yang kamu sembunyikan." Ucap Elang.
"Nanti El jangan sekarang." Lirih Cya, Elang pun menggeleng dan memaksa untuk mengambil tes pack itu dari tangan Cya.
"El." Lirih Cya, Elang menatap tes pack yang ia pegang dan beralih menatap Cya.
"Kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari aku Cya? Apakah kamu juga berniat menyembunyikan kehamilan kamu hmmm." Ucap Elang.
"Enggak gitu El, aku gak berniat menyembunyikan semuanya tapi aku bingung_" Ucapan Cya terhenti, dan menatao Cya.
"Kamu bingung? Bingung karena ini anak aku? Apakah kamu tidak mau mengandung anak aku Cya." Ucap Elang, Cya tercengang mendengar perkataan Elang.
"Enggak gitu." Ucap Cya.
"CK, aku ini ayahnya tapi kenapa kamu malah ingin menyembunyikan nya dari aku. Aku gak habis pikir dengan sikap kamu." Ucap Elang, setelah mengatakan itu Elang pun pergi meninggalkan Cya yang mematung.
"El gak gitu." Lirih Cya, mood Cya benar-benar berantakan saat ini di tambah dengan hormon kehamilan yang membuat nya jadi lebih sensitif.
"Loh El kok keluar sendiri Cya mana?" Tanya mama Elang, namun lelaki itu hanya diam saja tanpa menjawab mama nya.
.
.
.
.
.
.
.
Mampir di karya baru aku ya guys, jangan lupa tinggalkan like dan komen nya. Dan biar lebih gampang kalian langsung klik profil aku aja. πβΊοΈ
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya ππ