
Satu Minggu berlalu hari ini Dean sudah menemukan informasi tentang Anes, lelaki itu tinggal pergi ke tempat dimana Anes dan Nana di sekap.
Tempat yang cukup jauh dari kediaman nya, Joe dan Jordan masih setia menemani Deandra.
"Bagaimana Dean apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Joe.
"Ini sudah terlalu sore sementara tempat itu berada di tengah-tengah hutan." Ucap Joe.
"Tidak masalah kita harus menyelamatkan Anes dan Nana sekarang." Ucap Dean, Joe dan Jordan pun mengangguk mereka akan pergi bersama dengan para bodyguard keluarga Artadinata, keluarga Abrisham dan keluarga Gavriel.
Mereka ingin tahu siapa yang sebenarnya telah menyekap Anes, dan apa tujuan mereka yang sebenarnya.
Deandra dan yang lain melakukan perjalanan, namun ternyata tidak mudah seperti apa yang Dean bayangkan. Di perjalanan Dean sudah banyak mengalami masalah, beberapa orang mencegat mobilnya dan mobil para bodyguard nya. Dean tahu ini adalah suruhan dari orang yang menculik Anes.
Di tempat lain Anes berdiri dari posisinya yang semua duduk, Nana menatap Anes yang berdiri dengan wajah serius nya.
"Na kita tidak bisa terus berdiam diri, aku harus segera mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini." Ucap Anes.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Nana, Anes berjalan ke arah laci kamar yang ia tempati.
Disana ia melihat gunting dan obeng, Anes memberikan gunting kepada Nana, sementara dirinya memegang obeng.
"Ini kamu pegang ini untuk melindungi diri kamu." Ucap Anes.
"Baik nona." Balas Nana mengangguk, kedua wanita itu keluar dari kamar nya.
Terlihat ada satu orang bodyguard yang berjaga di dekat tangga, Anes dan Nana berjalan dengan santai dan membuat bodyguard itu tak curiga karena selama di culik Anes memang tidak pernah diam dan selalu berkeliaran di dalam rumah itu.
Anes dan Nana memasuki sebuah ruangan yang terlihat aneh dengan hati-hati, hal yang pertama kali Nana tangkap adalah foto Anes yang tertempel di dinding ruangan itu.
"No_nona." Panggil Nana.
"Hmmm." Sahut anes.
"Bukankah itu foto anda." Ucap Nana menunjuk dinding itu.
Anes berjalan mendekati foto itu dan menatap nya dengan baik, ya itu memang potret dirinya saat masih tinggal bersama dengan salah satu aunty nya dulu.
"Ada yang tidak beres dengan semua ini." Ucap wanita itu, Anes buru-buru mencari bukti-bukti yang lainnya.
Bagaimana bisa setelah menemukan foto Liza di kamar utama, kini Anes menemukan fotonya di ruangan rahasia yang terlihat benar-benar tidak ada orang yang berani masuk ke ruangan itu selain pemilik rumah.
"Revaldo Alberto, Denis Rivaldo, Valdo Alberto." Gumam Anes, menyambungkan nama-nama yang ia lihat di sebuah dokumen.
"Nona." Panggil Nana.
"Nana lihat bukankah ini satu nama yang dibagi menjadi tiga." Ucap Anes.
"Hah." Sahut Nana.
"Ini lihat nama lengkap orang ini itu Denis Rivaldo Alberto_" Ucap Anes tiba-tiba diam.
"Nona." Panggil Nana melihat Anes yang tidak melanjutkan perkataannya.
"Shiiitttt." Umpat wanita itu.
"Ada apa nona?" Tanya Nana.
"Dengarkan saya baik-baik, Rivaldo Alberto adalah laki-laki yang dulu hampir di jodohkan dengan saya sementara Denis Rivaldo adalah rekan bisnis saya dan Aleta, sementara Valdo Alberto adalah kekasih Liza. Ya Tuhan na tolong jelaskan apa maksud dari semua ini, kepala saya pusing na." Ucap Anes, ia benar-benar bisa g*la melihat kenyataan ini.
"Jadi mereka orang yang sama, tapi bagaimana bisa nona tidak mengenali Rivaldo dan Denis?" Tanya Nana.
"Saya tidak pernah bertemu dengan Rivaldo na, karena saat itu studi saya sudah selesai jadi saya kembali sebelum bertemu dengan dia." Ucap Anes.
"Ternyata dunia begitu sempit nona." Ucap Nana.
"Tapi kenapa orang_" Ucapan Anes terhenti, saat mendengar suara derap langkah yang menuju ke ruangan itu.
"Sembunyi nona kita harus sembunyi." Ucap Nana, mereka melesat menuju balkon yang ada di ruangan itu.
"Jadi bagaimana apakah mereka baik-baik saja?" Tanya lelaki itu.
"Mereka baik-baik saja tuan, bahkan wanita yang anda maksud juga terlihat santai." Ujar nya.
"CK, dia memang pemberani hal itu yang membuat saya kagum kepada nya." Ucap lelaki itu, yang tak lain adalah Denis Rivaldo Alberto.
"Tapi bagaimana dengan nona Liza?" Tanya nya.
"Liza saya tidak menginginkan nya, saya hanya ingin anak yang dikandungnya saja." Ucap lelaki itu, Anes yang mendengar perkataan lelaki itu tercengang.
"Baik tuan." Ujar nya.
"Dimana mereka sekarang?" Tanya lelaki itu.
"Tadi mereka keluar dari kamar mungkin sedang berjalan-jalan, karena salah satu dari wanita itu tidak bisa jika hanya berdiam diri di kamar saja." Ujar nya, Denis mengernyit heran.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya nya.
"Anes kalau tidak salah namanya Anes, karena yang satu lagi selalu memanggil nya dengan sebutan nona Anes." Ujar nya.
"Kenapa kau biarkan mereka keluar, kau terlalu menyepelekan Anes dia wanita yang cerdik dan licik." Ucap Denis, ia jelas tahu jika Anes wanita yang cukup cerdik dan licik kepada musuh-musuh nya.
"Mereka tidak akan bisa pergi kemana-mana tuan percaya kepada saya." Ujar nya.
"Baiklah, kau tahu aku begitu mengagumi Anes aku ingin memiliki nya, sampai pada akhirnya aku mendapat kabar jika Anes menikah dengan putra Gavriel hal itu membuatku hancur. Aku selalu berusaha untuk membuat Anes tidak melahirkan bayi dari Dean, aku sampai menyamar menjadi rekan bisnis nya, namun semua itu gagal karena ternyata aku yang akan memiliki anak dari putri keluarga Gavriel yaitu Liza. Aku memang menginginkan anak itu tapi tidak dengan Liza, aku menginginkan Anes untuk menjadi ibu dari anak-anakku tidak peduli jika anak itu terlahir dari rahim Liza." Ujar nya, orang kepercayaan Denis hanya mengangguk saja dan tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.
Di balkon Anes menarik tangan Nana, dan Nana terkejut dengan hal itu ia menatap nona muda nya Nana terhadap nona tidak melakukan sesuatu yang akan membuat nya g*la.
"Nana." Panggil Anes.
"Nona jangan bilang." Ucap Nana.
"Ya kamu benar kita harus melompat dari sini." Ucap Anes.
"Nona jangan g*la ingat kandungan anda." Ucap Nana.
"Nana Rivaldo ini orang yang teliti, bagaimana jika dia tahu kalau saya sedang mengandung." Ucap Anes.
"Nona tadinya saya berpikir ingin seperti anda, tapi tahu seperti ini tidak jadi saya ingin menjadi diri saya sendiri saja." Ucap Nana, Anes mendorong kening Nana ini sedang serius bisa-bisanya dia bercanda.
"Ayok na." Ucap nya, Nana dan Anes mempersiapkan diri nya untuk melompat ke bawah, Anes berharap ia bisa menyeimbangkan tubuh nya agar tidak terjatuh hingga mencelakakan bayinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊