
Sesampainya di rumah Deandra, Joe dan Jordan berlari mencari keberadaan Anes. Ia mendengar suara keributan di belakang rumah nya, dan Dean pun langsung berlari ke arah belakang betapa terkejutnya ketiga lelaki itu saat melihat Anes yang berad di atas pohon.
"Nona turun nona tuan bisa marah besar kepada Ike." Ucap Ike.
"Sebentar Ike ini dapat." Ucap Anes kegirangan, karena dia berhasil meraih tali layangan itu.
"Aneska." Teriak Deandra, membuat Anes, Ike, suster dan Kenzie menoleh ke arah Dean.
"Dean." Lirih Anes.
"Apa yang kamu lakukan Anes." Ucap Dean.
"Aku sedang mengambil layangan milik Kenzie." Ucap Anes, Deandra mendekati pohon itu dan menatap Anes yang masih berada di atas.
"Joe ini si Anes bar-bar amat ya." Ucap Jordan tertawa kecil.
"Nona bukan sembarang nona ini mah Jo." Ucap Joe.
"Turun." Ucap Deandra tegas.
"I_iya ini turun." Ucap Anes, Anes mengedarkan pandangannya kan-kan Anes tidak bisa turun kan.
"Ngapain masih diam disana." Ucap Deandra.
"Ini turun nya gimana ya?" Tanya Anes, membuat Joe dan Jordan menahan tawa nya.
"Maksud kamu apa turun nya gimana, ya turun ke bawah lah." Ucap Deandra.
"Iya aku tahu Dean turun itu ke bawah, tapi gimana caranya." Ucap Anes, Ike dan suster tercengang yakali nona bisa manjat gak bisa turun.
"Nona jangan bilang nona tidak bisa turun nya." Ucap Ike.
"Ike ini turun nya gimana ya." Ucap Anes, Ike dan suster menepuk dahinya sendiri.
"Aneska jangan bercanda kamu bisa manjat tapi gak bisa turun itu gimana, turun sekarang." Ucap Deandra, Anes bingung ingin melompat tapi Anes takut jika kaki nya patah.
"Tante ayok tante turun." Ucap Kenzie.
"Iya-iya sayang sabar ya." Ucap Anes, Deandra menatap Anes yang sedang berusaha untuk turun.
"Dean aku gak bisa turun nya." Ucap Anes, Deandra menggelengkan kepalanya.
"Sudah tahu tidak bisa turun pakai acara manjat pohon segala." Ucap Deandra, Anes terus berusaha sampai kakinya terpeleset.
"Aaaaaaa." Teriak Anes.
"Anes." Teriak Joe, Jordan dan Deandra.
"Nona." Pekik Ike dan suster.
Deandra berlari dan dan dia berhasil menangkap tubuh Anes sebelum wanita itu terjatuh ke tanah, Anes memejamkan matanya karena merasa takut.
Saat merasa tubuhnya tidak sakit Anes membuka matanya secara perlahan, ia menatap Deandra yang lagi-lagi menolongnya.
"Ada yang sakit?" Tanya Dean, Anes menggelengkan kepalanya dan tidak berbicara apapun.
"Mau manjat lagi?" Tanya Dean, lagi-lagi Anes hanya menggelengkan kepalanya.
"Lepaskan tali layangan nya." Ucap Deandra, dengan cepat Anes melepaskan tali itu hingga terjatuh ke tanah.
"Pemandangan indah yang sangat langka." Ucap Jordan, lelaki itu mengambil foto Deandra yang sedang menggendong Anes.
"Perlu di abadikan." Ucap Joe, Jordan mengangguk sementara Dean membawa Anes kedalam rumah.
Deandra lelaki itu mendudukkan Anes di sofa ruang tengah, Anes menunduk melihat tatapan nyalang Deandra membuat Anes teringat tatapan Daddy nya.
"Kenapa keluar dari kamar." Ucap Dean.
"Tadi Kenzie masuk kedalam kamar, dan meminta tolong untuk mengambilkan layangan nya yang tersangkut di pohon." Ucap Anes.
"Kenapa kamu malah protes, ini apa si Dean kita sudah membuat perjanjian tapi selama menikah perjanjian itu sama sekali tidak berg*na." Ucap Anes, Deandra menatap Anes dengan intens.
"Sudah saya bilang perset*n dengan perjanjian itu, jika perjanjian itu membuat kamu berada dalam bahaya dan saya tidak bisa membantu nya, Maka saya tidak akan mempedulikan surat perjanjian itu." Bentak Deandra, Anes terdiam ini pertama kalinya Anes di bentak saat sedang sakit.
"De tahan emosi de Anes sedang sakit." Ucap Jordan.
"Kamu aneh tau gak kamu aneh Deandra, kamu bilang gak cinta sama aku tapi kamu selalu ada disaat aku dalam bahaya." Sengit Anes.
"Aku hanya ingin memenuhi tanggung jawab aku sebagai suami nes gak lebih." Ucap Dean, membuat Joe dan Jordan tercengang.
"Hanya memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami yang harus melindungi istrinya kan, oke kalau begitu jaga batasan kamu Deandra Gavriel!" Tegas Anes, wanita itu pergi ke kamar nya sementara Deandra mematung menatap kepergian Anes.
"Dean kenapa gak bilang kalau kamu sudah mencintai Anes si." Ucap Jordan, Deandra menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mudah Jo." Ucap Deandra, Jordan dan Joe terdiam apakah Dean belum melupakan Intan? Apakah Dean masih ingin menunggu Intan, entahlah mereka tidak tahu hal itu.
...
Malam hari Deandra sedang berkutat di ruang kerja nya, ia membuka laci meja kerja dan melihat foto seorang wanita disana.
"Dulu saya sangat sulit untuk melupakan dia, satu tahun kamu muncul dalam hidup saya dan membuat saya bisa melupakan dia meski tidak sepenuhnya. Tapi kemudian kamu pergi meninggalkan saya untuk mengejar karier kamu, dan membuat wanita lain masuk kedalam kehidupan saya. Sama tidak mudah saya melupakan kamu, dua tahun setelah dua tahun wanita itu muncul dalam segala perdebatan antara saya dengan dia. Dan tanpa saya sadari ternyata dia berhasil membuat saya melupakan kamu, dia yang mungkin tidak akan pergi jauh dari saya." Gumam Deandra, lelaki membuka laptopnya dan melihat berita jika Intan telah kembali.
Dean tersenyum sinis apa maksud dari semua ini, kenapa saat hatinya berhasil di porak porandakan oleh Anes kini wanita itu kembali.
"Kamu memang telah meminta aku untuk menunggu kamu, tapi kamu lupa tidak meminta aku untuk berjanji agar tidak menikahi wanita lain tan." Ucap Deandra, saat Dean sedang berkecamuk dengan fiikiran nya ia mengingat bayangan Anes.
Haruskah Deandra memantapkan hatinya untuk Anes, tapi kini wanita itu sudah benar-benar menjadi istri nya yang sah secara hukum dan agama.
"Tante maafkan Kenzie ya, gara-gara Kenzie om marahin tante." Ucap Kenzie.
"Gak apa-apa kok, kalau ada apa-apa Kenzie bilang Tante saja ya." Ucap Anes.
"Tante baik tidak seperti mami." Ujar nya, Anes menatap suster Kenzie.
"Tante baik karena tante sayang Kenzie." Ucap Anes.
"Berarti mami tidak sayang Kenzie." Ujar nya.
"No, mami sangat menyayangi Kenzie. Tapi mami sedang sibuk dan tidak bisa menemani Kenzie." Ucap Anes, suster mengangguk dan tersenyum.
"Tuan Ken bobok ya, tante nya harus istirahat dulu." Ucap Ike, Anes menatap Ike.
"Saya masih ingin bersama dengan Kenzie ke." Ucap Anes.
"Ih nona gak boleh, nona harus istirahat nanti tuan bisa marah lagi kepada nona." Ucap Ike, menarik tangan Anes.
"Ike saya bukan anak kecil." Ucap Anes.
"Yang bilang nona anak kecil siapa si, Ike pukul nanti orang nya." Ucap Ike, sudahlah Anes hanya bisa pasrah saja dengan Ike.
Ike mengantar Anes ke kamar nya, setelah memastikan Anes benar-benar berada di kamar nya barulah Ike memutuskan untuk pergi.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊