Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 56


Setibanya di perusahaan milik Deandra Anes berjalan masuk kedalam gedung perusahaan, beberapa karyawan yang melihat Anes menunduk hormat.


Mereka tahu jika Anes adalah istri dari bos mereka, Anes berjalan menuju meja resepsionis.


"Selamat siang nona." Sapa resepsionis dengan ramah.


"Siang, tuan Dean ada?" Tanya Anes lagi.


"Ada nona, tuan berpesan untuk mempersilahkan nona ke ruang kerja nya." Ucap resepsionis itu, Anes tersenyum dengan bingung.


"Ada apa dengan Deandra, apakah dia sedang ker*sukan." Gumam Anes, wanita itu berjalan memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan.


Setelah tiba di lantai X dimana ruangan suaminya berada di lantai itu, Anes berjalan menuju ruang kerja suaminya.


"Selamat siang." Ucap Anes.


"Siang nona." Jawab sekretaris Dean.


"Saya mau bertemu dengan tuan muda." Ucap Anes.


"Langsung masuk saja nona, tuan sudah menunggu nona." Jawab nya dengan sopan, Anes mengangguk dan tersenyum manis.


"Itu istri tuan muda kan, makin hari kenapa makin cantik si." Ucap para karyawan.


"Benar sekali, kalau ada yang bilang nona Anes cantik karena menikah dengan tuan muda seperti nya itu salah. Sejak gadis pun nona Anes memang cantik, aku tahu karena beberapa kali pernah bertemu dengan nona di mall." Ucap karyawan itu.


"Jujur ya dari semua wanita yang dekat dengan tuan muda, nona Anes lah pemenang nya. Selain cantik, baik, ramah, attitude nya juga bagus banget. Satu lagi nona Anes bisa dibilang setara dengan tuan muda." Ucap nya, mereka semua mengangguk setuju.


Anes menutup pintu ruang kerja Dean, ia melihat Dean yang sedang fokus dengan laptopnya.


Deandra mendongakkan kepalanya menatap Anes yang berdiri di dekat pintu, Deandra tersenyum tipis melihat Anes.


Melihat Deandra tersenyum tipis membuat Anes sedikit takut, takut? Ya karena senyuman itu terlihat begitu manis.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Anes.


"Gak apa-apa memang tidak boleh." Ucap Dean, Anes semakin bingung dengan sikap Dean hari ini.


"Untuk apa kamu meminta aku untuk datang kesini." Ucap Anes, Deandra bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Anes.


Melihat Deandra yang mendekati nya membuat Anes refleks memundurkan tubuhnya, Dean melihat reaksi Anes yang seperti itu merasa sakit di hatinya.


Apakah Anes setakut itu jika Dean menyentuh nya, ya memang salah Dean sendiri si. Dean yang bersikap jahat kepada Anes.


"Kenapa?" Tanya Deandra, kini tubuh Anes sudah menempel di pintu ruangan.


"Jauhkan tubuh kamu Deandra." Ucap Anes.


"Memangnya kenapa? Bukankah suami istri wajar jika seperti ini." Ucap Deandra.


"Ya, itu untuk suami istri sungguhan tidak untuk kita." Ucap Anes, Deandra menatap mata indah Anes. Dan Anes juga menatap manik mata Deandra.


"Kamu tidak ingin menjadi suami istri sungguhan?" Tanya Dean, Anes diam bukan tidak ingin hanya saja Anes masih merasa ragu.


"Ingin tapi tidak untuk sekarang aku belum tahu kamu, aku belum mengenal bagaimana kamu. Dan satu lagi mungkin masih ada yang kamu sembunyikan dari aku." Ucap Anes, Deandra tertegun ternyata meskipun mereka masih saling menjaga jarak Anes juga memiliki firasat jika Dean sedang menyembunyikan sesuatu.


"Oke tidak masalah." Ucap Deandra, lelaki itu menjauhkan tubuh nya dari Anes. Dean duduk di sofa dan Anes juga duduk di sofa namun cukup jauh dengan Deandra.


"Ada apa kamu meminta aku untuk datang kesini?" Tanya Anes.


"Saya_saya ingin kita mencoba untuk menerima satu sama lain nes." Ucap Deandra, Anes mengangkat sebelah alisnya.


"Kamu bercanda?" Tanya Anes.


"Apa aku terlihat sedang bercanda." Ucap Deandra, Anes menggelengkan kepalanya Dean terlihat begitu serius.


"Tidak, tapi bagaimana dengan surat perjanjian itu?" Tanya Anes.


"Aneska sudah saya katakan jika saya tidak peduli dengan surat itu, lagi pula kamu lupa jika selama ini kita sudah banyak melanggar perjanjian itu." Ucap Deandra, Anes diam sebenarnya apa yang di rencanakan oleh Deandra.


(Aku mohon jangan berpikir macam-macam nes, kehadiran intan membuat aku sadar jika aku tidak mau membuat kamu sakit hati. Satu lagi aku tidak mau kehilangan kamu, aku memang belum bisa mengungkapkan perasaan aku. Tapi aku benar-benar tidak ingin kamu pergi.) Batin Deandra.


"Kamu aneh." Ucap Anes, Deandra mengernyit heran kenapa meyakinkan Anes begitu sulit dari pada bersaing dengan lawan bisnis nya.


"Kamu tidak percaya?" Tanya Deandra.


"Bagaimana aku bisa percaya jika sikap kamu sangat aneh." Ucap Anes.


"Aneh apanya si Aneska, aku_" Ucap Deandra terhenti, Anes menatap Dean ia menunggu Dean melanjutkan perkataannya.


"Tidak aku tidak apa-apa." Ucap Deandra, Anes mengangguk ia membuka ponselnya dan melihat Axel yang mengirimkan pesan.


****Pesan chat*


Axel***: Aneska kenapa kamu ceroboh sekali, dompet kamu terjatuh nes.


Anes: Yaampun El, maaf aku gak sadar kalau dompet aku terjatuh. 😂


Axel: Untung saja tadi Intan yang menemukan nya.


Anes: Berhutang sekali aku kepada Intan. 😩


Axel: Tidak apa-apa aku sudah mengatakan terimakasih, dan memberikan hadiah untuk Intan.


Anes: Satu jam lagi aku akan kesana untuk mengambil dompet.


Axel: Oke, hati-hati.


Dean memperhatikan Anes yang sibuk dengan ponselnya, Anes tidak sengaja menatap Dean yang sedang menatap nya.


"Ada apa?" Tanya Anes.


"Siapa yang mengirim pesan." Ucap Deandra.


"Axel memberi tahu jika dompet aku terjatuh." Ucap Anes.


"Lalu?" Tanya Dean lagi.


"Ya beruntung karena Intan yang menemukan nya, jadi dompet aku aman." Ucap Anes, Deandra menelan saliva nya mendengar perkataan Anes.


"Kamu itu jangan terlalu percaya sama orang bisa nggak nes?" Ucap Deandra.


"Jangan terlalu percaya apa sih, Intan kan baik dia juga model di perusahaan aku dan Axel." Ucap Anes.


"Ini sikap kamu yang kayak gini, yang gampang banget dimanfaatin sama orang nantinya." Ucap Deandra.


"Termasuk dimanfaatkan sama kamu gitu?" Ucap Anes, Deandra menggelengkan kepalanya.


"Apasi mana ada aku manfaatin kamu." Ucap Deandra, Anes tersenyum kecut.


"Sudahlah aku nggak mau debat, aku mau balik ke kantor mau ambil dompet." Ucap Anes.


"Aku antar kamu." Ucap Dean.


"Gak usah aku bisa sendiri." Ucap Anes.


"Aneska bisa nurut gak, kamu itu baru saja sembuh." Ucap Deandra.


"Aku sudah sembuh." Ucap Anes.


"Kamu baru saja sembuh." Ucap Dean lagi, lelaki itu mengambil jas kerja nya dan meraih tangan Anes.


Dean menggenggam tangan Anes dan keluar dari ruang kerja nya, Joe dan Jordan yang melihat itu menganga.


"Inikah yang dinamakan karma ia real." Ucap Jordan.


"Kenapa karma?" Tanya Joe bingung.


"Dulu kan si Dean mau berusaha tuh buat nyingkirin Anes, eh dua bulan dua Minggu pernikahan udah jungkir balik saja dia." Ucap Jordan, Joe tertawa kecil mendengar perkataan Jordan.


"Hati memang tidak bisa di bohongi Jo." Ucap Joe kepada Jordan.


"Akhirnya sebentar lagi kita merdeka, karena akan ada Deandra junior." Ucap Jordan, Joe mengangguk dia juga menunggu masa-masa itu.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊