Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 62


Setelah kejadian mimpi itu Deandra jadi terlihat semakin posesif kepada Anes, Dean tidak membiarkan Anes dan Kenzie berdekatan dengan Liza. Dan Dean juga menolak untuk bertemu dengan klien di luar kantor.


"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Anes.


"Tidak." Jawab Dean.


"Kenapa? Kata Joe hari ini kamu ada pertemuan dengan klien." Ucap Anes lagi.


"Tidak saya sudah meminta Joe untuk menggantikan saya." Ucap Deandra.


"Oh gitu, yasudah aku ke kantor dulu." Ucap Anes.


"Siapa yang ngijinin kamu pergi ke kantor?" Tanya Deandra.


"Kenapa apakah aku juga harus di rumah karena kamu berada di rumah?" Ucap Anes.


"Aduhhh nona ini kok gak peka si, tuan itu pengen di manja-manja sama nona jadi nona tidak perlu ke kantor." Ucap Ike, Anes mengernyit heran.


"Saya ada urusan penting jadi saya akan pergi ke kantor sebentar, setelah itu saya janji langsung pulang." Ucap Anes.


"Nes gak nurut sama suami dosa loh." Ucap Dean, membuat Anes menelan saliva nya.


"Yasudah saya gak pergi ke kantor." Ucap Anes, Ike tersenyum bahagia akhirnya Ike bisa melihat Dean dan Anes berada di rumah.


"Ike." Panggil Deandra.


"Iya tuan." Sahut Ike.


"Kenzie mana?" Tanya Dean.


"Tuan muda Ken pergi tuan dengan nona Liza." Ucap Ike, Deandra menatap Ike dengan tajam.


"Siapa yang membiarkan kamu memberikan ijin untuk Liza mengajak pergi Kenzie." Ucap Dean.


"Maaf tuan, tapi nona Liza juga mengajak suster kok." Ucap Ike.


"Ya sama saja Ike." Ucap Deandra.


"Biarin saja kenapa si Dean, lagian Liza kan mami nya." Ucap Anes.


"Bukan gitu nes, Liza_" Ucapan Dean terhenti saat Anes meletakkan telunjuknya di bibir Deandra.


"Percaya sama aku Liza tidak akan menyakiti Kenzie." Ucap Anes, Deandra terdiam sementara Ike kegirangan dengan pemandangan indah di hadapannya.


"Haduhhh berdebar-debar jantung Ike tuan." Ucap Ike, Dean dan Anes menoleh menatap Ike.


"Kenapa jantung kamu berdebar? Kamu sakit?" Tanya Dean datar, Ike memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Deandra.


"Yakali sakit si tuan, ya Ike berdebar karena melihat perhatian tuan kepada nona Anes lah." Ucap Ike, Dean langsung terlihat salah tingkah begitupun dengan Anes.


"Apaan si Ike." Ucap Anes, Ike tertawa kecil.


"CK, beneran nona Ike senang melihat kedekatan nona dengan tuan muda." Ucap Ike, Anes hanya tersenyum saja.


"Saya pergi ke ruang kerja dulu." Ucap Deandra, Anes menatap Dean yang pergi.


(Dean kenapa si dari semalam aneh banget, apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan.) Batin Anes.


"Nona kalau begitu Ike ke belakang dulu ya." Ucap Ike.


Di ruang kerja nya Deandra mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar frustasi jika mengingat mimpi itu.


"Itu terasa sangat nyata, yaampun de segitu takutnya kamu kehilangan Anes." Gumam Deandra, lelaki itu terlihat sedikit uring-uringan.


"Bagaimana kalau Anes tahu semuanya, sebelum aku mengatakan siapa Intan sebenarnya." Ucap Deandra lagi, ia merasa harus cepat-cepat memberi tahu Anes tentang ini.


Dean duduk di kursi kerjanya meskipun diam di rumah Dean tetap mengerjakan pekerjaan nya, Dean mengecek beberapa laporan yang masuk melalui Em*il nya.


Sementara itu Anes duduk di sofa ruang tengah, wanita itu memainkan ponselnya dan Anes mengingat sesuatu ia ingin sekali memakan buah.


Anes berjalan menuju dapur ia mencari buah strawberry yang disukai nya, namun Anes tidak menemukan nya.


"Ike." Panggil Anes.


"Iya nona." Sahut Ike.


"Ini gak ada buah strawberry kah?" Tanya nya.


"Yaampun maaf nona Ike belum belanja buah-buahan." Ucap Ike.


"Oh, yasudah tidak apa-apa biar saya saja yang keluar untuk membeli nya." Ucap Anes, sekalian juga Anes ingin bertemu dengan Aleta yang sudah kembali dari liburan nya.


"Eh jangan nona, biar Ike saja yang keluar nona tunggu di rumah saja." Ucap Ike.


"Gak apa-apa Ike biar saya saja yang membeli nya, lagian saya juga mau bertemu dengan Aleta." Ucap Anes, Ike terdiam sejenak.


"Hubungi kamu?" Tanya Anes.


"Ya hubungi tuan muda lah, masa hubungi Ike." Ucap Ike tertawa, Anes ikut tertawa kecil mendengar perkataan Ike.


"CK, yasudah saya pergi dulu." Ucap Anes, Ike mengangguk dan menatap kepergian Anes.


Anes wanita itu berjalan keluar dengan hanya membawa ponsel dan dompet nya saja, Anes tersenyum kepada bodyguard yang berjaga di depan pintu untuk.


"Selamat pagi nona." Sapa nya.


"Pagi pak." Balas Anes.


"Nona mau pergi kemana?" Tanya nya sopan.


"Oh, itu saya hanya pergi ke supermarket pak." Jawab Anes.


"Mau saya temani nona?" Tanya nya lagi.


"Tidak perlu pak, lagi pula hanya sebentar saja." Jawab Anes, orang itupun mengangguk dan menunduk sopan kepada Anes.


Sementara itu penjaga gerbang utama membuka gerbang saat melihat nona muda nya akan keluar, Anes memasuki mobil nya dan melajukan mobilnya.


"Terimakasih pak." Ucap Anes, kepada penjaga gerbang.


"Sama-sama nona." Balas orang itu.


Anes menghubungi Aleta dan meminta Aleta untuk menemui nya di sebuah cafe dekat supermarket, Anes merasa penasaran apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Deandra.


Jika tentang Azka dan Axel saja Anes mudah menemukan informasi dan bukti, tidak mungkin jika Anes tidak bisa mencari tahu tentang Deandra.


"Maaf Dean bukan aku gak percaya sama kamu, meskipun pernikahan ini terjadi bukan karena cinta. Tapi aku tidak ingin ada kebohongan di dalam nya." Gumam Anes, sebelum pergi ke supermarket Anes lebih dulu menemui Aleta.


"Anes." Panggil Aleta, saat Anes sudah tiba dan masuk kedalam cafe itu.


"Hai, kamu sudah sampai ternyata." Ucap Anes.


"Kebetulan sekali aku juga mau belanja hari ini, dan kamu minta untuk bertemu disini yasudah sekalian aja kan." Ucap Aleta.


"CK, tumben kamu yang belanja." Ucap Anes.


"Mami sama mbak sedang sibuk, kamu juga ngapain keluar sendiri Deandra mana?" Ucap Aleta.


"Aku pergi tanpa sepengetahuan Dean ta." Ucap Anes.


"Hah, Anes kenapa gak bilang nanti Dean nyari-nyari kamu." Ucap Aleta.


"Masalahnya kalau aku bilang Dean dia gak akan ijinin aku pergi Aleta." Ucap Anes, Aleta menatap Anes.


"Ada apa sebenarnya nes, kenapa kamu kaya orang lagi menjalankan misi?" Ucap Aleta.


"Ta kamu tahu sikap Dean akhir-akhir ini itu aneh banget." Ucap Anes.


"Aneh? Aneh gimana si nes?" Tanya Aleta.


"Pertama saat aku baru selesai bertemu dengan Intan, Dean tiba-tiba meminta aku untuk pergi ke kantor nya. Dan saat itu aku mau mengantar beberapa berkas kepada Axel, Dean maksa ingin ikut ta tapi saat kami akan berpapasan dengan Intan Dean tiba-tiba dorong dan menghimpit tubuh aku ke dinding. Dengan alasan kalau dia belum menci*m kening aku, itu sangat tidak masuk akal karena selama kami menikah Dean tidak pernah melakukan itu." Ucap Anes, Aleta menatap Anes dengan intens.


"Maksud kamu Dean dan Intan?" Tanya Aleta, Anes menggelengkan kepalanya.


"Aku belum tahu pasti dan aku belum yakin, karena belum ada bukti. Ta plis bantu aku untuk mencari tahu semuanya ya." Ucap Anes, Aleta menatap Anes dengan bingung.


(Aduh gimana ini feeling Anes kan gak pernah salah, kalau misalnya Deandra dan Intan benar-benar ada hubungan gimana? Sementara Dean dan Anes saja sepertinya belum menjadi suami istri pada umumnya, Anes dan Dean masih sama-sama menjaga jarak. Tapi aku juga gak mau kalau Anes sakit hati gara-gara Deandra.) Batin Aleta.


"Ta kok bengong si." Ucap Anes.


"Eh, iya nes aku akan bantu kamu apa si yang enggak untuk kamu." Ucap Aleta, Anes tersenyum senang mendengar perkataan Aleta.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊