
Alexa dan Alden pun berjalan keluar dari kelas Alexa menatap Alden yang berjalan di samping nya, lelaki itu benar-benar menyebalkan andai saja Alden bukan kakak nya sudah dapat dipastikan jika saat ini Alexa sudah menghajar orang itu habis-habisan.
Dan tanpa ba-bi-bu Alexa berniat untuk berlari ke arah lapangan, namun Alden yang menyadari tingkah aneh sang adik langsung menarik kerah baju Alexa.
"Mau kemana kamu?" Tanya Alden, Alexa menepis tangan kakak nya.
"Jijik tau gak so perhatian banget." Cibir Alexa.
"Nye-nye-nye, aku tanya kamu mau kemana?" Ucap Alden menatap tajam Alexa.
"Tentu saja ke lapangan memangnya kemana lagi." Ujar nya.
"Lapangan matamu gundul, sana ke toilet hukuman kamu itu membersihkan toilet bukan ke lapangan." Ucap Alden, Alexa mengerucutkan bibirnya menatap Alden.
"Alden aku perempuan loh kamu tega?" Ucap Alexa mulai mendramatisir keadaan.
"Ya terus kalau kamu perempuan kenapa?" Ucap Alden, Alexa membayangkan bagaimana nanti jika toiletnya kotor dan bau.
"Alden aku gak mau bersihin toilet." Rengek Alexa.
"Bodo sispa suruh kamu rusak buku tugas aku." Ucap Alden, Alexa menganga menatap Alden.
"Alden kamu yang duluan ya rusak buku aku, lagian kamu laki-laki bagaimana jika Daddy tahu bahwa kamu tidak bisa melindungi adik kamu hmmm." Ucap Alexa, Alden terdiam mendengar perkataan Alexa.
Alexa tahu jika menyangkut soal Daddy dan mommy nya Alden tidak akan bisa berkutik lagi, itu adalah senjata paling jitu untuk membuat Alden mengalah.
"Ya ya baiklah pergi ke lapangan biar aku yang membersihkan toilet." Ucap Alden, toh ia juga sebenarnya tidak tega jika harus membiarkan Alexa membersihkan toilet sementara gadis itu biasa di perlakukan seperti tuan putri di rumah nya.
Di tempat lain Deandra dan Jordan duduk berhadapan, mereka sudah mengetahui setiap masalah yang selama ingin datang dalam kehidupan nya itulah perbuatan siapa.
Ya memang beberapa tahun yang lalu tepatnya saat seorang wanita tiba-tiba datang dan mengatakan rela dijadikan istri kedua, Deandra langsung mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Dan yang mengejutkan adalah dalang nya orang yang sama, sudahlah Deandra sudah tak ingin ada urusan lagi dengan orang itu sampai saat itu Lusi berniat untuk kabur namun dengan cepat orang-orang Deandra menangkap nya dan mengurung Lusi.
Soal Liza jangan ditanya orang itu sudah di hukum lebih dulu dari Lusi, bagi Dean kedua orang itu bukan orang yang penting atau yg sulit untuk di tangkap. Toh sekarang perusahaan Deandra sudah kembali seperti semula.
"Bagaimana dengan anak Liza bocah itu masih di rumah dan menjalani sekolah secara online." Ucap Jordan.
"Aku tidak peduli bahkan jika anak itu sudah tidak bernyawa pun aku tidak akan peduli, jahat memang tapi aku hanya melakukan apa yang mami nya lakukan kepada keluarga ku dulu." Ucap Deandra, Jordan mengangguk ia paham posisi Deandra saat ini.
"Apakah kamu pernah bertemu dengan anaknya?" Tanya Jordan.
"Tidak Nadiza tidak pernah keluar dari kamar saat aku berkunjung ke rumah mama." Ucap Deandra, ya Nadiza Livia Gavriel adalah anak Liza. Sebenarnya Dean tidak ingin marga Gavriel tersemat di nama anak Liza namun mama mengatakan itu hanya marga toh marga itu tidak di sematkan dalam kartu keluarga dan akta kelahiran Nadiza.
"Kasihan Diza hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi akibat perbuatan Liza dia harus menanggung beban seberat ini." Ucap Jordan.
"Hmmm, biarkan saja mama juga perlahan-lahan memberi tahu bagaimana sikap Liza selama ini mungkin itu yang membuat dia takut bertemu dengan ku." Ucap Deandra, Jordan mengangguk dan menepuk pundak Deandra.
"Bagaimanapun itu Diza memiliki darah keluarga Gavriel, jangan terlalu keras kepadanya." Ucap Jordan.
"Aku tidak keras yang mendidik Diza itu mama bukan aku Jo, tugasku hanya mendidik anak-anak ku dan melindungi keluargaku." Ucap Deandra, Jordan mengangguk dan tersenyum manis.
"Good." Ucap Jordan, Deandra tersenyum tipis menanggapi perkataan Jordan.
"Xa Alexa." Panggil Vani, ya di sebuah sekolahan elite saat jam istirahat terlihat gadis remaja berlari menuju toilet untuk menemui sahabatnya.
Sahabat? Tentu bagi Vani Alexa, Alden, Ardan dan Ara adalah sahabat nya. Karena Alexa dan Alden lah yang selalu menemani Vani saat dirinya tak memiliki teman semasa kecil.
"Apa si Van berisik amat." Cetus Alden, Vani tercengang kenapa malah Alden yang ada di toilet.
"Kok malah kamu si Al Alexa mana?" Ucap Vani.
"Menurut kamu dia mau membersihkan toilet? Dia ada di lapangan." Ucap Alden.
"CK, bilang kek dari tadi." Ucap Vani.
"Ngapain cari Alexa?" Ucap Alden.
"CK, Alexa saja di bantu aku tidak." Ucap Alden.
"Kamu cowok ya harus kuat lagian cuma bersihin toilet doang." Ucap Vani, menekankan kata doang.
"Ish." Geram Alden saat melihat Vani pergi menuju lapangan.
"Alexa." Panggil Vani, Alexa terlihat sedikit pucat karena panas-panasan.
"Kamu kenapa kesini?" Tanya Alexa, Vani memberikan minuman dan mengambil sapu yang di pegang oleh Alexa.
"Minum dulu xa wajah kamu pucat terus merah." Ucap Vani, Alexa mengangguk dan meraih botol itu dari Vani.
"Udah kamu istirahat saja aku yang lanjutin ini." Ucap Vani, Alexa terdiam menatap Vani yang membantu dirinya untuk membersihkan lapangan.
"Vani makasih." Ucap Alexa.
"Tidak apa-apa kamu gak kenapa-kenapa kan, kamu kenapa gak bersihin toilet aja si xa jadi gak kepanasan." Ucap Vani.
"Gak bisa Vani aku gak kuat kebauan." Ucap Alexa.
"Tapi setidaknya kamu gak kepanasan xa, toh aku bisa bantu kamu tadi aku ke toilet kirain kamu yang disana ternyata Alden." Ucap Vani, Alexa tertawa kecil mendengar ocehan Vani.
Padahal Vani lebih dulu kenal dengan Alden dari pada dengan Alexa, tetapi Vani seperti lebih suka bermain dengan Alexa dan selalu membantu Alexa juga.
"CK, aku memang meminta tukar tugas dengan Alden." Ucap Alexa, Vani mengangguk dan meletakkan sapu dan serokan sampah pada tempatnya.
"Semuanya sudah selesai lebih baik kita kembali ke kelas." Ucap Vani, Alexa mengangguk namun saat berdiri ia merasa kepalanya pusing dan pandangan nya gelap.
"Ini sudah malam ya kok gelap." Ucap Alexa memegang tangan Vani dengan erat.
"Xa kenapa?" Tanya Vani khawatir.
"Be_bentar deh aku gak bisa liat apa-apa." Ucap Alexa.
"Xa jangan bikin aku khawatir." Ucap Vani, Alexa masih bisa tertawa kecil padahal wajah nya sudah sangat pucat.
"CK, enggak ini udah mulai terang bentar ya kepala aku masih pusing." Ucap Alexa, Vani mengangguk dan membantu Alexa untuk duduk di kursi.
Vani bernafas lega saat melihat Alexa meminum minuman nya, ia takut jika Alexa tidak sadarkan diri karena Vani yakin sekeras apapun Alexa menyembunyikan identitas dan keadaan keluarga nya namun wajah orang kaya melekat pada wajah cantik Alexa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊