Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 144


Keesokan harinya di sebuah hotel mewah terlihat ramai oleh para tamu undangan, bukan hanya rekan kerja Jordan dan teman-teman kuliah Nana tapi ada juga keluarga Anes dan Deandra disana.


Anes yang tadinya menyiapkan semua ini hanya bersama Ike, suster dan Deandra kini ada adik dan mommy nya yang membantu Anes.


"Mommy." Lirih Anes dengan manja.


"Kenapa kamu lelah hmmm." Ucap mom Dea, ini baru jam 08:00 pagi sementara acara akad di laksanakan pada pukul 10:00 pagi.


"Emmh, tidurku tidak nyenyak semalam." Ucap Anes, sang mommy pun tertawa kecil dan menangkup wajah cantik putrinya.


"Setelah ini kamu beristirahat saja biar saudara-saudara kamu yang membantu mengurus pesta nya." Ucap mommy, Anes mengangguk ia memang merasa sangat mengantuk sekali.


"Sayang kamu sudah makan?" Tanya Deandra, Anes mengangguk tadi ia makan disuapi oleh mommy nya.


"Sudah aku disuapi mommy." Jawab nya, Deandra mengangguk lega akhirnya ada yang memperhatikan istrinya.


Karena Dean sejak tadi cukup sibuk menerima tamu undangan yang tak lain rekan kerja Jordan, yang artinya rekan bisnis Deandra juga.


"Dean setelah akad nanti mommy meminta Anes untuk beristirahat, karena kandungan nya sudah semakin besar mommy khawatir Anes kecapekan dan bayinya kenapa-kenapa." Ucap mommy Anes.


"Iya mom Dean juga berpikir seperti itu." Ucap Deandra menatap wajah lelah Anes.


"Nes muka kamu kenapa lesu amat kaya jemuran kering." Ucap Aleta, Anes mendengus Aleta memang selalu membuat nya emosi.


"Ta bisa diam tidak aku capek pengen tidur." Ucap Anes, ia memeluk pinggang mommy nya.


"Utukk-utuuukkk kasian Anes nya aku, yasudah setelah ijab kabul nanti kamu aku temani istirahat sekalian aku juga mau numpang tidur ngantuk." Ujar nya, Anes mendecih mendengar perkataan Aleta.


"Hisssh menyebalkan." Ucap Anes, saat Anes sedang bermanja dengan mommy nya Ike menghampiri Anes.


"Nona susu hamil nya belum diminum." Ucap Ike, memberikan segelas susu kepada Anes.


"Permisi semuanya maaf saya mau meminjam Deandra sebentar karena ada beberapa rekan kami yang datang, ammm apakah boleh nona?" Ucap Joe, Aleta tertawa mendengar perkataan Joe kepada Dean ia hanya menyebut nama tanpa embel-embel tuan namun kepada Anes Joe selalu menyebutnya nona.


"Emmm, bawa saja tidak apa-apa." Ucap Anes, Deandra menatap Anes lalu mengecup kening istrinya.


"Kalau lelah jangan terlalu banyak jalan ya, kamu duduk saja." Ucap Deandra, ngomong-ngomong kandungan Anes sudah berusia lima bulan sekarang jadi Anes sudah sering merasa lelah di tambah lagi ia mengandung dua bayi.


"Nona ini saya sudah mengambil kursi roda untuk nona." Ucap suster, mendorong sebuah kursi roda ke hadapan Anes.


"Saya baik-baik saja sus saya masih bisa berjalan." Ucap Anes.


"Saya tahu nona tapi hari ini nona harus menggunakan ini ya." Ucap suster.


"Enggak perlu saya akan di temani mommy disini, sebaiknya kamu dan Ike temani Nana ia pasti akan merasa gugup." Ucap Anes.


"Sayang harusnya yang menemui Nana itu kamu dan Aleta, suster dan Ike belum tahu bagaimana tegang nya saat menikah." Ucap mommy.


"Iya mommy benar yasudah kalau begitu kita ke kamar Nana sekarang." Ucap Anes, Ike membawakan flat shoes untuk Anes ia merasa khawatir jika nona nya menggunakan high heels.


"Nona pakai ini saja jangan pake high heels." Ucap Ike, Anes tersenyum dan mengangguk.


Anes pun pergi ke kamar Nana wanita itu melihat Nana yang memandangi wajah nya di cermin, Anes tersenyum dan memegang pundak Nana.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Anes, Nana terkejut dan menengadah ke atas.


"Nona." Lirih nya, Anes mengangguk dan tersenyum manis.


"Are you ok?" Tanya Anes, sementara Aleta wanita itu sibuk mencari kursi untuk Anes duduk.


"Duduk nes." Ucap Aleta, Anes mengangguk dan duduk begitupun dengan Aleta.


"Nona saya merasa sangat gugup." Ucap Nana, Anes tersenyum manis kepada Nana.


"Apakah nona juga merasakan hal yang sama saat menikah?" Tanya Nana, Anes menggelengkan kepalanya.


"Tidak." Jawab nya, padahal dulu Anes juga merasa gugup meskipun hanya sedikit.


"Kamu tidak merasa gugup?" Tanya Aleta.


"Tidak saat itu aku hanya merasa kesal karena harus menikah di saat aku masih ingin bermain." Ucap Anes, Aleta menghela nafasnya mendengar perkataan Anes.


"Kamu adalah manusia paling aneh di dunia ini." Ucap Aleta, Anes menoleh menatap Aleta.


"Kenapa begitu?" Tanya Anes.


"Disaat orang lain gugup saat akan menikah kamu malah kesal karena menikah, Aneska kamu normal?" Ucap Aleta, Anes memukul tangan Aleta.


"Menurutmu aku tidak normal? Aku normal ta kamu tidak lihat perutku yang indah ini membuat pakaian-pakaian ku tidak cukup." Ucap Anes, Nana tertawa perdebatan Anes dan Aleta memberikan rasa lega di hati Nana ia tidak merasa gugup lagi karena Anes dan Aleta berhasil mencairkan suasana.


"Kasihan kamu karena perut buncit ini jadi tidak bisa tampil se*si dan mengg*da." Ucap Aleta, Anes mendengus dan menatap Aleta.


"Lihat saja nanti saat aku sudah melahirkan akan aku buktikan jika aku tetap cantik dan tidak berubah." Ucap Anes, Aleta tertawa mendengar perkataan Anes.


"Nana sudah menikah, nanti Ike juga akan menikah, belum lagi suster yang nanti menemukan jodohnya.Yang akan merawat anak kamu nanti siapa Aneska jika bukan kamu." Ucap Aleta tertawa.


"Kamu mengejekku? Tamu tidak tahu aku bahkan bisa memberikan anakku masing-masing tiga orang suster." Ucap Anes, Aleta menggelengkan kepalanya membuat Nana ikut tertawa.


"Turunan dad Justin memang gak kaleng-kaleng, kamu tahu dulu juga Aiden dan kamu di jaga oleh tiga suster." Ucap Aleta.


"Aku tahu mangkanya aku akan melakukan hal yang sama." Ucap Anes, Aleta tertawa kini kedua ibu hamil itu menatap Nana yang terlihat menarik nafas panjang.


"Bagaimana apakah sudah jauh lebih baik?" Tanya Anes.


"Melihat nona dan nona Aleta berdebat membuat saya jauh lebih baik tidak terlalu gugup seperti tadi." Balas Nana.


"Apakah kita harus terus berdebat agar kamu baik-baik saja?" Tanya Aleta, Nana tertawa kecil.


"Tidak nona tidak perlu saya sudah jauh lebih baik sekarang." Ucap Nana.


"Tidak perlu gugup na karena yang lebih gugup itu nanti saat malam pertama." Ucap Aleta, Anes tertawa karena ia tidak melakukan malam pertama alias menundanya.


"Bohong na aku biasa saja saat malam pertama." Ujar nya, Aleta menoleh menatap Anes.


"Ya karena kamu menundanya berbulan-bulan Aneska itu bukan lagi malam pertama yaampun." Ucap Aleta kesal, sudahlah Anes selalu berbicara sesukanya saat ini dan membuat Aleta emosi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊