
Tiga bulan berlalu pagi ini Deandra terlihat sedikit lesu bahkan lelaki itu seperti enggan untuk bangun dari tempat tidur nya, Anes yang sudah terlihat rapi mengernyit melihat Dean yang masih setia berbaring di tempat tidur.
"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Anes.
"Ke kantin tapi sebentar aku masih ingin bermanja dengan kasurku." Ujar nya.
"Sejak kapan seorang Deandra Gavriel ingin bermanja dengan kasur, apa sudah bosan untuk bermanja dengan istrinya." Ucap Anes, Dean tertawa kecil.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan merasa bosan terhadap kamu." Ucap Deandra, Anes tersenyum dan menghampiri Dean.
"Bangun yuk." Ajak nya.
"Lima menit lagi sayang." Ucap Deandra, Anes mengerucutkan bibirnya.
"Aku ada meeting pagi hari ini, jika kamu tidak bangun bagaimana aku bisa pergi ke kantor." Dengus Anes, lelaki itu tertawa kecil mendengar celotehan istrinya.
"Baiklah-baiklah aku mandi sekarang ya, sudah jangan manyun lagi." Ucap Dean, ia pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
Dean membersihkan tubuhnya dan setelah selesai lelaki itu pergi ke ruang ganti untuk memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Anes, saat akan memakai parfum Dean melirik parfum yang biasa digunakan oleh Anes dan mencium aroma nya.
"Wangi sekali berasa sedang memeluk Anes." Gumam nya, lalu ia menyemprotkan parfum miliki nya dan tiba-tiba saja perut Deandra bergejolak setelah mencium aroma parfum yang biasa ia gunakan.
"Kok baunya aneh ya." Gumam Dean, karena lelaki itu merasa tidak nyaman dengan aromanya Dean pun memutuskan untuk mengganti pakaian nya kembali.
Setelah selesai Dean menyusul Anes ke ruang makan, Anes mengernyit mencium aroma suaminya yang sedikit berbeda.
"Kenapa liatin aku seperti itu?" Tanya Deandra.
"Tidak apa-apa hanya saja aroma parfum yang kamu pakai hari ini tidak seperti biasanya." Ucap Anes.
"Hmmm, aku memang tidak memakai yang biasa." Jawab nya, ia menatap Anes yang sedang menyantap sarapan nya setelah mengambilkan makanan untuk Deandra.
"Ini seperti aroma parfum milikku." Ucap Anes, lagi-lagi Deandra mengangguk.
"Iya aku menggunakan parfum milikmu, aaaa." Ucap Deandra, ia membuka mulutnya meminta Anes untuk menyuapi Dean.
"Apa?" Tanya Anes.
"Suapi aku." Ujar nya, oh my God apa yang sudah terjadi kepada suaminya? Kenapa Deandra terlihat sangat berbeda hari ini.
"Aku sudah mengambilkan makanan kamu." Ucap Anes.
"Enggak aku maunya makan satu piring berdua dengan kamu." Ucap Deandra, Ike, Nana dan suster hanya bisa menahan senyum nya saja.
"Yasudah." Ucap Anes, ia mulai menyuapi Deandra dengan telaten.
Setelah selesai sarapan Anes dan Dean pun pamit pergi ke kantor, setelah kepergian Anes dan Dean diikuti oleh Nana di mobil yang lain Ike dan suster saling menatap.
"Ke kenapa pagi ini tuan bertingkah aneh ya, apa hanya prasaan aku saja." Ucap suster.
"Enggak kok mbak Ike juga merasa seperti itu, tuan seperti orang aneh makan minta di suapi terus memakai parfum nona muda itu sangat aneh. Padahal kan tuan memiliki ciri khas nya sendiri." Ucap Ike.
"Nah itu, tapi saya juga merasa nona muda semakin berisi apa karena bahagia bersama tuan ya." Ucap suster.
"Mungkin saja nona merasa lebih bahagia karena kan nona Liza sudah tidak menggangu kehidupan nona lagi, dan nona juga sepenuhnya bersama dengan tuan." Ucap Ike, suster mengangguk dan mereka kembali masuk kedalam rumah.
Sesampainya di kantor Dean langsung berjalan masuk ke ruang kerja nya, sebelum ke kantor tentu saja lelaki itu lebih dulu mengantar Anes ke kantor nya.
"Dean ini beberapa laporan yang kamu minta, satu lagi tuan X meminta untuk mempercepat pertemuan kamu dengan beliau." Ucap Joe.
Dean mengangguk namun tiba-tiba ia menutup hidungnya dan menatap Joe yang berdiri di hadapannya, Joe mengernyit heran kepada Deandra.
"Ada apa?" Tanya Joe.
"Kamu belum mandi Joe? Kenapa bau sekali." Ucap Dean, membuat Joe terbelalak.
"Belum mandi udelmu, aku sudah mandi bahkan sudah wangi." Ucap Joe, ia mendekati Dean untuk mencium aroma tubuh nya.
"Jangan mendekat." Teriak Deandra.
"Kamu kenapa si Dean aneh sekali, sakit kamu ya." Ucap Joe.
"Aku akan segera memeriksa berkas-berkas ini dan menandatangani nya, kamu pergi keluar saja dulu." Ucap Deandra, Joe terheran-heran dengan kelakuan aneh Deandra.
"Keluar Joe." Ucap Dean menggeram, mendengar Dean menggeram Joe pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Deandra.
"Kenapa?" Tanya Jordan yang baru saja akan masuk ke ruang kerja bos nya.
"Di usir Dean." Jawab Joe.
"Di usir kenapa?" Tanya Jordan, Joe mengangkat bahu nya saja.
"Aneh." Cibir Jordan, lelaki itu masuk keruang kerja Dean ingin memberi tahu tentang keadaan Liza.
"Sudah saya bilang tunggu di luar." Teriak Deandra, sampai membuat Jordan tersentak kaget.
"Ada apa si Dean kenapa teriak-teriak seperti itu?" Tanya Jordan, Deandra diam menatap Jordan yang mendekati nya.
"Jangan mendekat." Ucap Dean, Jordan mengernyit heran.
"Apa saya tidak akan menyebarkan virus." Ucap Jordan.
"Saya bilang jangan mendekat." Ucap Dean, lelaki itu tidak bisa menahan gejolak di perut nya.
"Oke-oke saya tidak akan mendekat, saya ingin memberi tahu keadaan Liza kepada kamu." Ucap Jordan.
"Baik katakan." Ucap Deandra dengan tegas.
"Akhir-akhir ini Liza sering berteriak memanggil nama Kenzie, entahlah padahal nyonya besar sudah mengirimkan seorang ps*kolog namun sama sekali tidak ada perubahan." Ucap Jordan.
"Biarkan saja saya tidak peduli." Ucap Dean.
"Dia juga memanggil nama kamu Dean, sepertinya apa yang dikatakan Anes tentang prasaan dia terhadap kamu itu benar adanya." Ucap Jordan.
"Lalu bagaimana apa aku harus bersama dengan nya? Jangan g*la untuk melihat nya saja aku tidak ingin." Ucap Deandra.
"Bagaimana jika kamu membiarkan Kenzie bertemu dengan Liza." Ucap Jordan, Deandra menatap Jordan dengan tajam.
"Tidak, aku yang membesarkan Kenzie bukan dia. Aku tidak akan membiarkan Kenzie memiliki adik biarkan Kenzie tetap menjadi satu-satunya." Ucap Deandra, Jordan mengangguk dan ia teringat dengan Nana.
"Dean." Panggil nya.
"Apa lagi? Saya sudah mengatakan jika saya tidak membiarkan Kenzie bertemu dengan wanita itu." Ucap Deandra.
"Saya tahu lagipula yang mau mengulang perkataan itu siapa? Saya ingin mengatakan jika nanti malam saya akan mengajak Nana untuk makan malam." Ucap Jordan, Deandra menatap Jordan.
"Sudah sering mendapatkan penolakan masih saja bersi keras." Ucap Deandra, Jordan mencebikan bibirnya.
"Ini yang dinamakan berjuang demi cinta, kamu saja tidak menyerah untuk meyakinkan Anes jadi saya juga tidak akan menyerah sebelum mendapatkan Nana." Ujar nya, Deandra hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar perkataan Jordan.
"Terserah kau saja." Ucap Deandra, Jordan tertawa kecil dan pergi dari ruang kerja bos sekaligus sahabatnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
Sisanya nyusul ya gaes aku belum sempet up, maaf banget udah bikin nunggu dan harap di maklumi kalo kerjaan aku bukan cuma nulis 🙏