
“Sebelum meninggal dia berpesan pada saya.” Ucap Suster Rita dengan pelan sambil tangannya meraih satu helai tisue dari kotak tisue di atas meja di depannya lalu dia menghapus air mata yang meleleh.
“Apa pesannya?” tanya Tuan dan Nyonya Ernest dengan tidak sabar.
“Saya diminta untuk membantu melepaskan kalung yang dia pakai, dan setelah kalung itu terlepas, dia berikan pada saya. Tapi dia juga menitipkan bayi perempuan cantik itu pada saya. Hiks... hiks... “ ucap suster Rita sambil kembali terisak isak.
“Terus di mana bayi perempuan cantik itu? Kenapa tidak kamu berikan bayi perempuan cantik itu pada keluarga ibu muda yang melahirkan itu? Kenapa kamu memisahkan bayi perempuan cantik itu dengan keluarganya?” tanya Tuan Ernest dengan nada agak tinggi sambil menatap tajam wajah suster Rita.
“Suami dari ibu muda itu meninggal sebelum Ibu muda itu dibawa ke ruang operasi persalinan hiks ... hiks.... hiks... “ ucap suster Rita lirih sambil masih terisak isak. Nyonya Ernest pun juga mulai menangis karena teringat pada Archie dan Debora. Nyonya Ernest sudah tidak mampu berkata kata, Eveline yang duduk di samping Nyonya Ernest membantu mengambilkan tisu dan mengusap usap punggung Nyonya Ernest untuk memberi ketenangan hati.
“Bukannya ada kakek dan nenek dari bayi perempuan itu? Kenapa tidak kamu bawa bayi perempuan itu pada mereka?” tanya Tuan Ernest lagi. Namun kini nada suaranya agak pelan. Sebab dia teringat di saat itu dia dan istrinya, lemas pingsan tidak bisa ke mana ke mana dan semua urusan diserahkan pada Tuan Sam.
“Ibu muda itu berpesan agar saya menyelamatkan bayi nya, membawa pergi dengan segera karena ada yang mengancam hidupnya hiks... hiks... hiks.. setelah mengucapkan itu ibu muda itu mencium kepala bayi perempuan cantik itu lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya... hiks... hiks... hiks.... “ ucap suster Rita kini dia menangis sesenggukan. Menantu perempuan Suster Rita tampak mengusap usap pundak suster Rita. Ekspresi wajahnya tampak kaget karena selama ini Suster Rita tidak pernah menceritakan hal itu pada keluarganya.
“Terus kamu bawa ke mana bayi perempuan cantik itu, kamu rawat sendiri atau kamu titip ke panti asuhan atau ke mana?” tanya Tuan Ernest dengan tidak sabar sedangkan Nyonya Ernest hanya dia saja sambil terus menghapus air mata yang terus mengalir.
“Ehmmmm saya bingung saat itu, kondisi rumah tangga saya dan juga kesibukan pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk merawat seorang bayi merah...” ucap Suster Rita lalu dia terdiam tampak mengambil nafas dalam dalam. Tampak Eveline bangkit berdiri dan mengambilkan air mineral pada orang orang yang duduk di ruang tamu kamar hotel Tuan dan Nyonya Ernest itu. Nyonya Ernest pun akhirnya meminta tolong pada Eveline untuk memesankan minuman dan makanan kecil di restoran hotel.
“Terus kamu taruh di mana?” Tanya Tuan Ernest lagi..
“Di saat itu di ruang operasi sebelah, pasien yang pendarahan dan pingsan tadi. Bayinya tidak bisa tertolong.. Terus saya tukar... hiks... hiks... hiks... Bayi pasien sebelah yang meninggal itu saya taruh di samping ibu muda yang meninggal. Lalu brankar brankar yang berisi dua jenasah itu dibawa ke kamar jenasah hiks... hiks....”
“Saat itu saya dekatkan bayi perempuan cantik itu pada pasien yang masih belum sadar. Saya coba dekatkan mulut mungil bayi itu pada buwah dadda pasien yang belum sadar itu. Bayi perempuan cantik itu langsung meminum asi dengan kuat mungkin sudah sangat kehausan dan kelaparan. Saya sangat bahagia saat itu... “ ucap Suster Rita yang kini bibirnya tersenyum meskipun matanya masih basah.
“Hmmm sudah jelas bayi perempuan cantik itu Alamanda anak Debora dan Archie. Cucuku...” gumam Nyonya Ernest dalam hati sambil masih terus menghapus air matanya.
“Jelas Alamanda cucuku. Untuk bukti lebih kuat nanti sore biar Dokter Willy mengambil sampel rambut Alamanda.” Gumam Tuan Ernest dalam hati.
“Saya karena mendapat pesan dari almarhumah itu. Saya pun terus memantau perkembangan bayi perempuan cantik itu. Saya terus mengamati saat dibawa kontrol ke rumah sakit.” Ucap suster Rita itu lagi.
“Bayi perempuan cantik itu diberi nama yang cantik pula, Alamanda ... Saat saya tanya pada orang tua yang memberi nama itu katanya Alamanda bunga yang sederhana tapi cantik dan warna kuning elegan cerahnya memberi semangat yang melihatnya. Katanya bayi Alamanda memberi semangat pada keluarga sederhana itu...” ucap Suster Rita sambil tersenyum.
Dan sesaat pintu kamar Nyonya dan Tuan Ernest itu terdengar suara ketukan yang sangat keras dan bertubi tubi.
TOK TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK TOK