Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 97.


“Bagai mana Nona?” tanya Tuan Ernest setelah menggeser tombol hijau. Nyonya Ernest yang duduk di sampingnya menoleh ke arah Tuan Ernest dan turut menyimak mendengarkan.


“Ini sudah mau on the way menuju hotel Tuan. Suster Rita ditemani oleh menantu perempuannya.” Suara Eveline di balik hand phone milik Tuan Ernest.


“Okey, aku tunggu. Hati hati bawa mobilnya Nona, kamu membawa orang yang sangat kami tunggu informasinya.” Ucap Tuan Ernest setelah Eveline mengiyakan lalu Tuan Ernest menutup sambungan teleponnya.


“Mereka sudah di jalan Ma. Nanti kalau kita tanya secara mendetail tentang kalung dan liontin itu. Jangan sampai Nenek Oji ikut bergabung. Aku khawatir Mama lepas kontrol dan mereka belum siap dengan kenyataan yang ada.” Ucap Tuan Ernest yang akhirnya dia pun terbawa oleh feeling sang istri jika Alamanda adalah cucunya.


Sesaat kemudian pintu kamar Tuan dan Nyonya Ernest terdengar suara ketukan.


TOK TOK TOK TOK


“Oma... Opa...” suara seorang anak kecil du balik pintu.


“Nona Charlotte.” Gumam Tuan Ernest lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar.


Saat pintu dibuka tampak sosok Alamanda dan Charlotte berdiri di depan pintu.


“Opa aku tadi dengan Mama ke pasar dan ini bawa oleh oleh buat Oma dan Opa Ernestan.” Ucap Charlotte sambil mendongak menatap Tuan Ernest sambil menunjukkan bungkusan makanan tradisional.


“Iya Tuan, dan saya sekalian mau cek kesehatan Nyonya Ernest. Maaf baru sempat sekarang.” Ucap Alamanda penuh penyesalan di tangan Alamanda ada alat alat kesehatan yang akan digunakan.


“Ooo mari mari masuk.. Opa sangat senang sekali mendapat oleh oleh dari Nona cantik.” Ucap Tuan Ernest sambil memegang pundak Charlotte dengan lembut.


“Mari Ners, silahkan masuk. Tidak masalah kami memberi waktu cuti kok untuk pengantin baru. Nanti juga Dokter Willy akan datang.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya sambil menoleh menatap Alamanda dan pandangan matanya terfokus pada kalung dan liontin yang menempel di dada Alamanda.


Mereka bertiga lalu masuk ke dalam kamar dan langsung melangkah menuju ke sofa di mana Nyonya Ernest duduk. Charlotte segera menaruh oleh olehnya di atas meja dan selanjutnya duduk di sofa. Sedangkan Alamanda segera mendekati Nyonya Ernest untuk mengecek tensi Nyonya Ernest.


“Selain untuk mengecek kesehatan, saya juga akan mengucapkan terima kasih pada Tuan dan Nyonya Ernest.” Ucap Alamanda sambil memasang alat pada lengan Nyonya Ernest.


“Sama sama Ners..” ucap Nyonya Ernest sambil menatap liontin yang ada di dada Alamanda. Sangat ingin rasanya Nyonya Hanson memegangnya dan melihat dari dekat.


“Yang membelikan Papa juga bagus Oma, satu set tapi Mama belum mau pakai katanya nanti dipakai saat pesta resepsi..” ucap Charlotte dengan suara dan wajah imutnya.


“Silakan Nyonya. Saya tidak mengira jika Nenek punya barang bagus. Tapi ini dari perawat yang kasihan pada keluarga kami.” Ucap Alamanda sambil terus menjalankan tugasnya.


Setelah Nyonya Ernest selesai diperiksa oleh Alamanda. Tangan Nyonya Ernest terulur untuk memegang liontin yang dipakai oleh Alamanda itu. Nyonya Ernest pun mengamati liontin itu dan dilihat dengan membolak balikkan liontin tersebut.


“Pa, ambilkan kaca mataku, aku ingin lihat perusahaan mana yang mengeluarkan kalung dan liontin ini.” Ucap Nyonya Ernest yang matanya kurang jelas untuk membaca kode yang terpahat di belakang liontin itu. Tuan Ernest pun segera mengambilkan kaca mata sang istri.


“Nyonya, apa pernah memiliki kalung dan liontin ini? Jika ini memang milik Nyonya ambil saja Nyonya. Tapi percayalah Nenek saya tidak mencuri..” ucap lirih Alamanda yang perasaan nya mengatakan Nyonya Ernest mencurigai kalung dan liontinnya.


“Ooo tidak tidak...” ucap Nyonya Ernest terbata bata, dia menjadi bingung sendiri.


“Aku cuma pernah lihat di suatu pameran, aku dulu ingin sekali membelinya namun sudah terlanjur dibeli orang lain. Aku hanya ingin memastikan saja apa ini barang yang di pameran tempo dulu.” Ucap Nyonya Ernest bohong karena dia merasa belum waktunya untuk menyampaikan pada Alamanda dan orang tua Alamanda.


“Oooo kalau ini memang barang mahal kenapa perawat itu dengan suka rela memberikan pada Nenek ya, apa dia tidak tahu jika ini barang mahal.” Gumam Alamanda yang akhirnya ikut penasaran.


Nyonya Ernest pun dengan memakai kaca mata nya melanjutkan untuk melihat simbol perusahaan yang terlihat di balik liontin itu.


Dan sesaat kemudian, Nyonya Ernest membuka kaca matanya. Tuan Ernest yang juga sudah duduk di sofa sambil memangku Charlotte menatap wajah Sang istri dengan serius.


“Benar.” Gumam Nyonya Ernest dan Tuan Ernest pun paham yang dimaksud oleh Sang istri jika liontin itu benar milik Debora. Sedangkan Alamanda mengira benar itu liontin yang dipamerkan tempo dulu.


“Kalau Nyonya suka ambil saja, ini buat Nyonya. “ ucap Alamanda sambil kedua tangannya memegang kalung itu untuk mencari kaitan dan akan melepas kalung itu.


“Nanti saya jelaskan pada Nenek.” Ucap Alamanda lagi.


“Tidak.. tidak.. biar kamu pakai saja.” Ucap Nyonya Ernest melarang Alamanda melepas kalung itu.


“Tidak apa apa buat Oma, Papaku bisa membelikan lagi yang lebih bagus...” ucap Charlotte dengan bibir sampai mengerucut ke depan beberapa centi meter karena saking bangganya pada Sang Papa Marcel.