Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 62.


Sementara itu di apartemen. Alamanda masih sibuk di dapur apartemen itu. Dia akan membuatkan makan malam buat Tuan dan Nyonya Ernest.


“Kenapa sejak melihat Tuan dan Nyonya Ernest ada perasaan beda di hatiku ya.. rasa kasihan atau rasa sayang... “ gumam Alamanda dalam hati. Dia memang memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama entah itu karena profesi nya yang sebagai perawat entah karena didikan keluarga Irawan sejak kecil atau entah memang bawaan Alamanda sejak lahir.


“Tapi rasa nya beda dengan orang orang lainnya. Apa karena Tuan dan Nyonya Ernest memperhatikan aku sejak awal ya...” gumam Alamanda yang masih sibuk menyiapkan bahan bahan makanan yang akan dimasak.


“Atau karena aku penasaran dengan mereka dan misteri di dalam Mansion Ernest.” Gumam Alamanda lagi


“Semoga Tuan Marcel bisa membantu orang tua itu, kasihan mereka. Semoga misteri segera terungkap dan jika masih ada keluarga Tuan dan Nyonya Ernest semoga segera dipertemukan.” Doa tulus Alamanda dalam hati.


Akan tetapi tiba tiba Alamanda tersenyum dan tertawa kecil sendiri dan kedua tangannya masih sibuk mengeksekusi bahan bahan makanan.


“Kok Tuan Marcel sih, Kak Marcel he... he... “ ucap Alamanda di dalam hati sambil tertawa kecil dan tawa kecil nya secara spontan keluar dari mulutnya. Membuat Tuan Ernest yang sedang berjalan untuk mengambil air mineral mendengar tawa kecil Alamanda. Tuan Ernest pun lalu melangkah untuk melihat ke dapur yang tidak jauh dari tempat air mineral berada.


“Apa ada yang lucu atau ada yang membuat hati kamu bahagia Ners Alamanda?” suara Tuan Ernest yang mengagetkan Alamanda yang menghadap ke arah dinding. Alamanda pun segera menoleh.


“Ooo maaf Tuan jika suara tawa saya mengganggu. Saya Cuma teringat pada tingkah Nona Charlotte yang terkadang lucu.” Ucap Alamanda berkilah pada dia teringat pada ucapan dan tingkah Marcel yang sudah tidak mau lagi dipanggil Tuan, maunya dipanggil Sayang.


“Ingat Nona kecil itu apa Papanya...” ucap Tuan Ernest yang sudah tahu jika ada hubungan asmara antara Alamanda dengan Marcel. Alamanda pun langsung tersipu malu, kedua pipi putih mulusnya langsung semburat berwarna merah jambu. Tuan Ernest pun tersenyum penuh maklum dan bijak sana.


“Ya sudah teruskan masaknya, orang jatuh cinta masakannya akan semakin lezat.. Aku juga pernah muda Nona...” ucap Tuan Ernest sambil tersenyum lalu dia melangkah pergi. Dia sengaja mengucap kata Nona untuk menunjuk jika Alamanda memang masih muda dan dia memang sudah tua sudah banyak pengalamannya.


Dan beberapa menit kemudian terdengar suara bel di pintu Apartemen itu. Alamanda yang baru selesai masak langsung ber jalan menuju ke arah pintu apartemen, dia mengira pelayan apartemen yang datang untuk mengantar kebutuhan mereka bertiga. Alamanda pun segera membuka pintu apartemen, saat pintu apartemen terbuka betapa kagetnya Alamanda sebab di depannya berdiri sosok Marcel yang tampak gagah segar keren dan semerbak harum parfum maskulinnya. Marcel tadi memang menyemprot banyak banyak parfum ke seluruh tubuh nya. Dan kini giliran Alamanda yang tidak percaya diri, Alamanda yang baru selesai masak itu masih lengket tubuhnya karena keringat akibat panas api di dapur atau uap dari masakannya, mungkin juga ujung ujung jarinya masih ada bau bumbu dapur yang menyengat meskipun sudah dicuci tangannya.


“Tuan...” gumam Alamanda secara spontan dan lupa jika dia sudah dilarang untuk memanggil Tuan.


“Kenapa masih juga memanggil Tuan, hmmm ..” ucap Marcel sambil melangkah dan menutup pintu apartemen, dia pun dengan segera mendekatkan wajahnya pada wajah Alamanda, dan...


CUP


Bibir Marcel mendarat pada satu pipi mulus Alamanda. Alamanda kaget dan tidak percaya diri karena masih berkeringat lalu memundurkan kepalanya.


“Belum mandi...” gumam lirih Alamanda


“Saja saja.” Ucap Marcel sambil tersenyum dan...


CUP


Marcel malah mencium lagi pipi Alamanda satunya. Lalu Marcel pun merangkul Alamanda yang masih berdiri mematung untuk diajak melangkah menuju ke ruang tamu apartemen.


“Masih di kamar nya.” Jawab Alamanda yang masih malu malu karena belum mandi sudah dicium dan dirangkul oleh tubuh Marcel yang sudah wangi maksimal.


“Coba kamu panggil dia, dan setelahnya kamu mandi. Kita akan keluar sebentar.” Ucap Marcel lalu dia mendudukkan pantatnya.


“Baik Kak.” Ucap Alamanda pelan dan Marcel pun tersenyum senang mendapatkan panggilan Kak yang pertama dari mulut Alamanda.


Tidak lama kemudian Tuan Ernest muncul di depan Marcel.


“Ada apa Anak Muda, kamu datang ke sini ada urusan dengan aku atau dengan calon istrimu itu?” tanya Tuan Ernest lalu dia pun segera duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat duduk Marcel.


“Dua duanya Tuan Ernest.” Ucap Marcel dengan nada serius lalu dia meraih hand phone dari saku kemejanya. Dia kini tidak lagi memakai jas, agar terlihat lebih santai. Kemeja yang dia kenakan pun kemeja lengan pendek.


Sesaat Tuan Ernest mengeryitkan keningnya bukan karena Marcel yang mengambil hand phone akan tetapi hidungnya mencium suatu aroma yang sangat luar biasa. Lalu Tuan Ernest tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Marcel.


“Anak muda berapa botol parfum kamu pakai sore ini?” tanya Tuan Ernest dengan suara berbisik sambil tersenyum.


“Satu botol pun tidak sampai.” Ucap Marcel dengan nada datar sambil tangan sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya.


“Hmmm ...” gumam Tuan Ernest sambil tersenyum dia memaklumi pada tingkah laku Marcel dan Alamanda yang sedang jatuh cinta.


Dan tidak lama kemudian Marcel membuka rekaman pembicara yang dikirim dari Charlotte. Marcel menaruh hand phone miliknya di atas meja, yang suara rekaman bisa didengar oleh Tuan Ernest dan dirinya. Tuan Ernest yang mendengar rekaman percakapan orang orang yang dikenalnya itu pun mendengarkan dengan serius.


“Kurang ajar, dia Sam dan orang yang ku suruh untuk mencari informasi tentang keluarga Ners Alamanda.” Suara Tuan Ernest saat rekaman suara telah selesai.


“Buat apa Tuan Ernest menyuruh orang untuk mencari informasi tentang keluarga Alamanda?” tanya Marcel sambil mengambil hand phone miliknya di atas meja.


“Dari mana kamu dapat rekaman percakapan mereka?” tanya Tuan Ernest malah balik bertanya.


“Aku sudah menghubungi nomor hand phone temanmu itu tapi masih juga belum aktif.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya.


“Tuan jawab dulu kenapa Tuan menyuruh orang untuk mencari informasi tentang keluarga Alamanda calon istri saya.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil menatap tajam wajah keriput Tuan Ernest yang tampak masih tegang karena mendengar rekaman suara orang orang kepercayaan dirinya.


“Karena perawat itu sangat mirip dengan menantuku yang sudah meninggal aku. Aku dan isteriku penasaran apa dia masih ada hubungan kerabat dengan menantuku.” Ucap Tuan Ernest dengan serius akan tetapi ada nada sedih sebab teringat akan menantu dan anaknya yang sudah meninggal.


Dan di saat Tuan Ernest mengucapkan hal itu Alamanda sudah berada di ruang itu. Alamanda pun langsung menatap Tuan Ernest.