
“Ma....” ucap Charlotte dan Marcel secara bersamaan sambil menatap kagum sosok Alamanda yang sudah berdiri di dekat tempat tidur.
“Mama harum dan cantik banget aku pengen peluk dan cium Mama....” suara Charlotte sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Alamanda yang berdiri sambil tersenyum meskipun jantungnya berdebar debar enak.
“Aku juga pengen peluk dan cium Mama...” ucap Marcel segera menarik tangan Alamanda agar segera naik ke atas tempat tidur.
“Hmmm baru tangannya saja halus dan lembut begini apalagi yang tadi digosok gosok.” Gumam Marcel dalam hati saat memegang tangan Alamanda. Bayangan Marcel pada pantat mulus Alamanda yang sedang digosok gosok tadi membuat burungnya kembali meronta.
Alamanda pun segera naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Charlotte. Mereka berdua saling peluk dan cium.
“Charlotte juga harum...” ucap Alamanda sambil menciumi kedua pipi Charlotte. Marcel yang merasa sesak celananya sudah tidak tahan lalu dia bangkit berdiri.
“Papa mau ke mana?” tanya Charlotte yang melihat Sang Papa sudah berdiri dan akan melangkah meninggalkan tempat tidur.
“Papa haus...” jawab Marcel lalu berjalan menuju ke mini pantry dia akan membuat kopi dan merilekskan burungnya yang meronta.
“Semoga Charlotte cepat tidur. Tapi nanti belah duren di mana ya? Kalau di tempat tidur ada Charlotte. Di sofa masih bisa terlihat oleh Charlotte kalau dia terbangun. Di kamar mandi atau ...” gumam Marcel masih berpikir pikir mencari tempat yang nyaman buat belah duren.
Sementara itu di kamar yang ditempati oleh Tuan dan Nyonya Ernest. Dua orang tua itu masih berbincang bincang serius mengenai kalung dan liontin yang sangat mirip dengan milik Debora.
“Aku yakin Pa, itu kalung dan liontin Debora. Archie dulu pesan khusus liontin itu, Archie sendiri yang mendesain.” Ucap Nyonya Ernest dengan mata yang berkaca kaca.
“Mungkin saja hanya kebetulan sama Ma.. Mama kan belum lihat dari dekat.” Ucap Tuan Ernest mempertimbangkan kemungkinan lain.
“Pa coba dipikir pikir dan kaitkan potongan potongan puzzle kejadian. Kemiripan Alamanda dengan Debora, usia Alamanda dua puluh dua tahun sama dengan usia cucu kita yang lahir saat kecelakaan itu terjadi, tempat Alamanda dilahirkan sama dengan tempat Debora dan Archie ditangani saat kecelakaan itu. Coba pikir Pa, kebetulan apa lagi, kesamaan apa lagi..” ucap Nyonya Ernest dengan nada tinggi karena sudah tidak sabar ingin mengetahui hal yang sesungguhnya terjadi.
“Feelingku Alamanda adalah cucuku.. hiks.. hiks... hiks...” ucap Nyonya Ernest yang kini mulai terisak isak.
“Ma, sabar Ma.. ingat Sam yang mengancam Alamanda jika tahu benar benar Alamanda cucu kita, semakin bahaya anak itu. Kita juga harus memikirkan perasaan keluarga Irawan, terus di mana anak mereka? Apa Angelie anak mereka, pasti mereka akan sangat bersedih Ma jika tiba tiba mengetahui Alamanda bukan anak mereka. Mereka sudah dua puluh dua tahun hidup bersama..” ucap Tuan Ernest yang tampak berpikir keras sambil mengusap usap pundak sang istri.
“Tapi mau tak mau mereka harus menghadapi kenyataan Pa... Kita harus cari Suster Rita dia pasti yang tahu rahasia ini.” Ucap Nyonya Ernest lagi dengan nada serius.
“Iya Ma, besok pagi..” ucap Tuan Ernest
“Mama dulu tidak mengecek perhiasan apa saja dari rumah sakit yang diserahkan pada kita.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya.
“Tidak kepikiran untuk mengecek saat itu Pa. Hati kita hancur anak menantu dan cucu meninggal seketika. Semua kan Sam yang mengurus.” Jawab Nyonya Ernest
“Iya Ma, saat itu aku juga merasa semua harta tidak ada gunanya.” Gumam Tuan Ernest
“Nah itu, baru setelah beberapa bulan setelah kejadian itu, setelah hatiku tenang. Sam bilang ada beberapa barang yang dipakai Archie dan Debora hilang. Aku dan Sam saat itu juga maklum namanya juga kecelakaan mungkin jatuh saat mereka cilaka atau saat mereka diangkat angkat.” Jawab Nyonya Ernest dengan nada dan ekspresi wajah yang sedih karena teringat kejadian masa lalu.
“Ya sudah Ma, sekarang kita istirahat. Kita berdoa semoga Alamanda benar benar cucu kita, dan keluarga Irawan bisa menerima kenyataan ini.” Ucap Tuan Ernest
“Iya Pa, Hmmm pihak rumah sakit harus membuka data bayi bayi yang lahir saat itu.” Gumam Nyonya Ernest.
Masih di hotel yang sama, akan tetapi berbeda kamar. Sebuah kamar yang ditempati oleh Bapak dan Ibu Irawan. Mereka berdua sedang menikmati tiduran di atas tempat tidur yang luas dan sangat bagus.
“Tidak menyangka ya Pa, kita bisa tidur di hotel mewah ini..” ucap Ibu Irawan sambil pandangan matanya mengitari seluruh ruangan kamar .
“Iya Ma, ga nyangka Alamanda dapat suami sangat kaya yang mencintai dirinya dan kerja pada Tuan dan Nyonya Ernest yang juga sangat menyayangi dia.. Alamanda memang tumbuh menjadi orang yang baik, patuh pada orang tua...” ucap Bapak Irawan belum berlanjut tiba tiba Ibu Irawan menangis sesenggukan
“Hiks... hiks... hiks...” suara tangis Ibu Irawan