
Sementara itu anak buah Bang Bule Vincent yang sedang bertugas mengantar makan pagi buat beberapa orang tahanan yang berada di kamar kamar yang tidak jauh dari kamar tempat Tuan Sam berada tiba tiba dikagetkan oleh suara jeritan kesakitan yang sangat mengenaskan.
“Ada apa dia.” Ucap anak bang Bule Vincent sambil menoleh ke arah kamar Tuan Sam tempat sumber suara jeritan kesakitan mengenaskan.
Dan sesaat kemudian beberapa anak buah Bang Bule Vincent pun berdatangan termasuk orang orang binaan ( orang jahat yang ditangkap statusnya sudah membaik menjadi orang binaan tidak lagi dikurung di dalam kamar, mereka diberi pekerjaan di markas dan terus dalam pembinaan untuk menjadi orang baik sebelum dikembalikan pada keluarganya).
Satu orang anak buah Bang Bule Vincent segera membuka kunci pintu kamar Tuan Sam itu. Suara erangan kesakitan Tuan Sam semakin terdengar jelas.
Dan betapa kagetnya mereka semua saat melihat tubuh Tuan Sam terkapar di atas kasus dengan ada banyak cairan warna merah yang keluar dari lehernya.
“Orang bodoh!” teriak anak buah Bang Bule Vincent dan segera masuk ke dalam beberapa orang pun segera masuk ke dalam. Ada satu kepingan pecahan gelas yang sangat tajam masih menancap di leher Tuan Sam.
Mereka menggotong tubuh Tuan Sam keluar dari kamar itu dan segera membawa tubuh Tuan Sam ditaruh ke dalam mobil yang sudah siap meluncur ke rumah sakit.
Sedangkan di lain tempat di salah satu ruas jalan raya, sebuah mobil meluncur dengan kecepatan penuh. Bang Bule Vincent berada di dalam mobil itu, dalam perjalanan dari Mansion William ke rumahnya yang digunakan untuk Markas. Bang Bule Vincent yang sedang mengemudikan mobilnya itu mendengar suara dering hand phone miliknya yang dia taruh di holder yang dia tempel di dash board mobil.
“Ada apa..” gumam Bang Bule Vincent saat melihat ada nama salah satu anak buahnya melakukan panggilan suara. Bang Bule Vincent tangan kirinya segera menggeser tombol hijau.
“Bang, Tuan Sam mencoba bunuh diri, ini sedang dibawa ke rumah sakit.” Suara anak buah Bang Bule Vincent dari balik hand phone milik Bang Bule Vincent yang dalam mode speaker.
“Hah? Macam macam saja. Usahakan orang itu tetap hidup, masih perlu kita gali informasi dari dirinya.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada dan ekspresi kaget.
“Baik Bang.” Suara anak buah Bang Bule Vincent lagi. Dan sambungan panggilan suara pun terputus.
Bang Bule Vincent tampak kini tangan kirinya memijit mijit pelipisnya.
“Hmmm tampang saja terlihat garang dan kelakuannya bejat, heh.. tapi takut menghadapi kenyataan hidup... “ gumam Bang Bule Vincent sambil terus melajukan mobilnya kini dia tidak jadi ke markas tapi mengubah arah menuju ke rumah sakit. Bagaimana pun Bang Bule Vincent harus yang bertanggung jawab karena dia sebagai pimpinan organisasinya itu.
Sesaat kemudian hand phone milik Bang Bule Vincent berdering lagi. Bang Bule Vincent menatap layar hand phone miliknya yang masih bertengger pada holder.
“Bang, informasi terkini Tuan Sam melakukan upaya bunuh diri.” Suara Eveline di balik hand phone milik Bang Bule Vincent yang masih dalam mode speaker.
“Iya ini aku juga akan menuju ke rumah sakit.” Ucap Bang Bule Vincent.
“Bagaimana perkembangan kerjamu di situ ?” tanya Bang Bule Vincent selanjut nya .
“Pagi ini aku akan mendatangi orang orang teknisi yang dicurigai membantu Tuan Sam. Mereka tidak tinggal di dalam Mansion Bang. Pagi hari mereka baru datang bekerja. ” Suara Eveline dengan nada serius.
“Okey segera beresi mereka.” Ucap Bang Bule Vincent dan setelah terdengar kata siap dari Eveline panggilan suara itu pun terputus. Bang Bule Vincent terus melajukan mobil menuju ke rumah sakit. Berharap nyawa Tuan Sam bisa tertolong.
Sementara itu di Mansion Ernestan. Eveline berjalan ke luar dari Mansion utama menuju ke Mansion yang lain tempat kerja bagian karyawan karyawan teknisi.
Sesaat tampak sosok Ibu pelayan senior berjalan tergopoh gopoh dari arah taman.
“Non... Non.. Eveline mau ke mana?” teriak Ibu pelayan itu sambil berlari mendekati Eveline.
“Non sudah dapat loh.. Anak kucing yang mirip Comel, tapi kalau diamati dengan teliti dan seksama tetap beda Non. Semoga Nyonya Ernest tidak tahu letak perbedaan itu.” Ucap Ibu pelayan itu saat sudah berada di dekat Eveline.
“Semoga Bu. Aku mau ke gedung tempat ruang karyawan teknisi bekerja.” Ucap Eveline sambil tersenyum menatap wajah ibu pelayan.
“Hati hati ya Non...” pesan ibu pelayan dengan nada serius.
“Ada apa Bu?” tanya Eveline mencoba menggali informasi dari ibu pelayan tentang orang orang teknisi.
“Eeeehhhh itu Non.. itu..” ucap Ibu pelayan dengan ekspresi wajah tampak berpikir pikir.
“Eeehh ayo Ibu antar saja.” Ucap Ibu pelayan itu kemudian sambil menggandeng tangan Eveline dan melangkah menuju ke gedung tempat ruang para teknisi Mansion bekerja.