
Mamanya Alamanda di dalam rumah semakin gemetar ketakutan, mendengar suara teriakan suaminya minta tolong.
“Haduh ada apa dengan Papa, apa dua orang itu menyerang Papa.” Gumam Mamanya Alamanda karena dia mengintip warung dari dalam rumah sudah tidak melihat dua laki laki yang memakai jaket kulit hitam hitam dan berkaca mata hitam.
Pelan pelan Mamanya Alamanda berjalan, dia membuka sedikit pintu. Tampak tetangga tetangga sudah berdatangan mendekati Pak Irawan. Dan Pak Irawan pun sudah tidak lagi berteriak teriak.
“Pak ada apa?” tanya Mamanya Alamanda sambil berjalan tergopoh gopoh mendekati suaminya.
“Dua orang tadi sepertinya temannya orang yang menyiram air keras ke Alamanda.” Jawab Pak Irawan sambil berjalan menuju ke rumahnya. Para tetangga ikut berjalan menuju ke rumah Pak Irawan. Dan mereka menyarankan agar keluarga Pak Irawan lebih waspada dan hati hati.
“Lapor saja pada Pak Er Te agar keamanan lebih diperketat.” Saran dari salah satu tetangga Pak Irawan dan Pak Irawan pun menyetujuinya. Dan setelah Pak Irawan dan isterinya tenang para tetangga bubar pulang menuju ke rumahnya masing masing.
Waktu terus berlalu. Sementara itu di mansion Ernestan. Di dalam ruang kerja Tuan Ernestan, dua orang yang disuruh mencari informasi tentang keluarga Alamanda sedang menghadap Tuan Ernestan. Mereka berdua melaporkan dengan sejujur apa yang dilihat dan yang terjadi.
“Kenapa mereka begitu ketakutan? Mungkin penampilan kalian macam penagih hutang saja.” Gumam Tuan Ernest setelah mendapat laporan dari orang orang suruhannya.
“Kalian cari informasi lagi, tanya saja pada tetangga mereka. Jangan langsung ke mereka.” Perintah Tuan Ernest. Dan setelahnya dua orang suruhan itu pun disuruh keluar dari ruang kerja Tuan Ernest.
Di saat dua orang suruhan itu membuka pintu. Tampak sosok Tuan Sam, sang kepala asisten berdiri di depan pintu ruang kerja Tuan Ernestan. Ekspresi wajahnya terlihat tidak bersahabat.
“Tuan Sam bikin saya kaget saja.” Ucap salah satu dari dua orang suruhan Tuan Ernest itu. Dan keduanya segera melangkah meninggalkan ruang kerja Tuan Ernest. Sedangkan Tuan Sam masuk ke dalam ruang kerja Tuan Ernestan .
“Ada apa Sam?” tanya Tuan Ernest pada asisten kepala itu.
“Hanya akan memberikan laporan saja Tuan.” Ucap Tuan Sam sambil memberikan satu berkas laporan. Lalu dia duduk di kursi depan meja kerja Tuan Ernest.
“Hmmm lebih awal kamu buat laporan.” Gumam Tuan Ernest sambil menerima laporan dari Tuan Sam.
“Sam, apa kamu juga melihat jika perawat itu sangat mirip dengan Debora?” tanya Tuan Ernest saat dia sudah membaca laporan dari Tuan Sam.
“Iya Tuan. Tetapi banyak orang di dunia ini mirip. Kenapa Tuan bingung memikirkan hal itu. Jangan sampai nanti justru mengganggu kesehatan Tuan dan Nyonya Ernest. Atau dimanfaatkan oleh orang orang.” Ucap Tuan Sam dengan nada serius.
“Tidak Sam, aku ingin tahu kejelasan tentang perawat itu. Dia benar benar sangat mirip dengan Debora. Aku dan isteriku baik baik saja.. Dan entah mengapa kehadiran perawat itu di sini membuat hatiku dan hati istriku menjadi senang. Tekanan darah istriku juga stabil sejak hadirnya perawat itu. Anak itu membawa aura baik buat aku dan istriku. “ ucap Tuan Ernest dengan nada dan ekspresi wajah serius.
“Ahai kenapa aku lupa aku bisa juga tanya pada Dokter Willy.” Ucap Tuan Ernestan dengan senyum lebar lalu dia meraih hand phone miliknya yang berada di atas meja kerja. Tuan Ernest akan menghubungi Dokter Willy untuk menanyakan informasi tentang keluarga Alamanda secara mendetail.
“Sudah, kalau kamu sudah selesai segera tinggalkan ruang kerjaku!” perintah Tuan Ernest pada Tuan Sam. Tuan Sam lalu bangkit berdiri. Tampak ekspresi wajahnya menegang telapak tangannya pun mengepal. Dia segera melangkah menuju pintu ruang kerja Tuan Ernest.
“Ini tidak boleh terjadi.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil menutup pintu ruang kerja Tuan Ernest dengan rapat dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruang kerja itu.
Tampak Marcel duduk di kursi dekat tempat pembaringan Nyonya Hanson. Wajahnya sudah terlihat lebih segar, dia sudah mandi dan sudah berganti pakaian.
“Cel, apa Leli mengatakan pada kamu. Kenapa kamu bisa tahu kesalahanku?” tanya Nyonya Hanson dengan suara yang masih lemah.
“Bukan Ma. Tapi dari Charlotte.” Jawab Marcel sambil menatap Sang Mama.
“Hmmm anak itu..” gumam Nyonya Hanson dalam hati karena dia ingat akan cucunya yang bisa menyadap percakapannya.
“Mama harus minta maaf pada Mama Wijaya. Aku akan siap membantu Mama kapan Mama butuh aku untuk mendampingi Mama.” Ucap Marcel sambil mengusap usap tangan Sang Mama. Air mata Nyonya Hanson kembali mengalir dan Marcel menghapus air mata yang mengalir dari kedua ujung mata Sang Mama itu.
“Jika aku sudah keluar dari rumah sakit ini aku ingin langsung ke makam Papa kamu dan makam Patricia.” Gumam lirih Nyonya Hanson dan air mata terus meleleh.
“Iya Ma.. iya....” ucap Marcel sambil terus menghapus air mata Sang Mama.
“Aku khilaf waktu itu Cel, hiks.. hiks... hiks... tapi ini juga gara gara Leli hiks.. hiks.. “ ucap lirih Nyonya Hanson sambil terisak isak.
“Sudah Ma yang penting Mama menyadari kesalahan Mama dan jauhi Tante Leli kalau dia memberi pengaruh buruk pada Mama. Kita berdoa agar Papa dan Patricia damai di surga.” Ucap Marcel sambil terus menghapus air mata yang mengalir dari kedua ujung mata Sang Mama.
Dan beberapa menit kemudian, tampak Nyonya Hanson sudah tenang.
“Ma, aku sudah memaafkan Mama. Apa Mama mau mengabulkan keinginanku.” Ucap Marcel saat air mata Sang Mama sudah tidak lagi mengalir.
“Apa? Perawat itu?” tanya Nyonya Hanson sambil matanya menatap Marcel. Dan Marcel pun menganggukkan kepalanya.
“Hmmm apa kalau aku tidak merestui, aku akan diusir oleh Marcel. Kalau aku diusir aku tidak punya siapa siapa lagi.” Gumam Nyonya Hanson dalam hati karena teringat akan ucapan Leli Donald di teleponnya kemarin.
“Hmmm terpaksa aku harus merestui.” Gumam Nyonya Hanson dalam hati lagi. Tampak ekspresi wajahnya berpikir pikir.
“Bagaimana Ma? Dia gadis yang baik Ma. Sangat sayang pada anakku.” Ucap Marcel sambil menatap Sang Mama dengan ekspresi wajah penuh permohonan. Dan di saat Nyonya Hanson belum menjawab. Pintu ruang rawat Nyonya Hanson terdengar suara ketukan.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
“Sebentar Ma.. Mungkin Dokter Willy itu.. ” Ucap Marcel lalu dia bangkit berdiri. Marcel melangkah menuju ke pintu ruang rawat Sang Mama itu. Dengan cepat Marcel memutar handel pintu dan menarik daun pintu itu dan sesaat Marcel tampak kaget saat melihat sosok orang yang berada di depan pintu itu.