
“Bagaimana apa kalian sudah menghubungi Tuan Ernest?” tanya Ibu pelayan basa basi sebab dia tadi sudah mendengar saat salah satu orang itu menelepon Tuan Ernest.
“Sudah Bu, tugas kami untuk sementara ditunda dulu alias dibatalkan lebih dahulu. Tetapi Tuan Ernest sudah mentransfer uang pada kami.” Jawab salah satu dari mereka.
“Hmmm sepertinya kalian tadi asyik berbincang bincang dengan Tuan Sam, membahas masalah apa?” tanya Ibu pelayan sambil menatap dua orang suruhan Tuan Ernest itu.
“Ha... ha... tentang sepak bola Bu..” ucap salah satu orang suruhan Tuan Ernest itu, sebab sudah di pesan oleh Tuan Sam tidak boleh berbicara pada siapa pun.
“Sudah kenyang Bu, kami mau cabut dulu.” Ucap yang satunya lalu mereka berdua pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan ruang makan para pelayan itu.
“Hmmm benar benar membuat aku penasaran. Apa yang sudah mereka bicarakan. Tuan dan Nyonya Ernest tidak berada di Mansion lagi. Kenapa Nyonya Ernest sakit mendadak padahal saat makan malam dia baik baik saja. Kata Ners Alamanda juga kondisi tensi stabil.” Gumam Ibu pelayan dalam hati sambil masih duduk bengong di meja makan yang ada sisa piring dan gelas kotor bekas Tuan Sam dan dua orang suruhan Tuan Ernest.
“Maaf Bu, akan saya bersihkan ...” ucap seorang pelayan yang bertugas membersihkan ruang makan itu. Ibu pelayan pun jadi tersadar lalu dia bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan ruang makan itu untuk melanjutkan pekerjaannya akan tetapi hatinya tidak tenang.
Sedangkan di Mansion Hanson, Marcel setelah mandi dia langsung keluar kamar, menuruni anak tangga dan terus melangkah menuju ke kamar Sang Mama. Karena Dokter Willy sudah berada di dalam kamar Nyonya Hanson.
Marcel segera membuka pintu kamar Nyonya Hanson. Tampak Dokter Willy sedang berbincang bincang dengan Nyonya Hanson dan sang perawat sedang menyingkirkan alat infus yang sejak malam masih terpasang.
Hati Marcel tampak bahagia karena alat infus sudah terlepas dari tubuh Sang Mama.
“Selamat pagi Dok...” ucap Marcel sambil terus berjalan mendekati Dokter Willy dan pembaringan Sang Mama.
“Selamat pagi Ma..” ucap Marcel sambil mencium pipi Sang Mama.
“Pagi Tuan Marcel.” Ucap Dokter Willy
“Sepertinya kabar bahagia pagi ini.” Ucap Marcel sambil menatap Dokter Willy lalu pada Sang Mama.
“Benar, kondisi Nyonya Hanson sudah membaik infus sudah kami lepas. Tensi dan gula darah sudah normal.” Ucap Dokter Willy dengan nada serius.
“Pagi ini biar perawat menemani Nyonya Hanson jalan jalan di taman agar tubuh semakin fresh.” Ucap Dokter Willy selanjutnya sambil menatap Nyonya Hanson yang sudah menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Iya Dok, saya harus segera sehat agar bisa berkumpul dengan cucu saya. Saya selama ini sudah menyia nyiakan Charlotte, saat dia dibawa oleh Nyonya Wijaya saya merasa kehilangan.” Ucap Nyonya Hanson terdengar ada nada penyesalan.
“Saran saya musyawarahkan secara kekeluargaan tentang hak asuh Charlotte.” Ucap Dokter Willy yang mendengar kabar tentang perebutan hak asuh Charlotte.
“Saya Papa kandungnya harusnya lebih berhak atas hal asuh anak saya.” Gumam Marcel dengan nada serius.
“Tak ada yang boleh memisahkan saya dengan Charlotte.” Gumam Marcel lagi.
“Semoga Tuan, baiklah saya izin pamit akan segera ke rumah sakit. Saya pikir hari ini kontrak kerja perawat Nyonya Hanson bisa diakhiri.”
Dokter Willy dan perawat itu pun melangkah ke luar dari kamar Nyonya Hanson. Dan kini hanya Marcel bersama Nyonya Hanson yang berada di dalam kamar.
“Ma, aku harap Mama cepat sehat dan kita pikirkan acara lamaran Alamanda.” Ucap Marcel yang sudah tidak sabar untuk melamar Alamanda.
“Iya.. iya, kamu yang siapkan segalanya pokoknya aku hanya datang saja yang bicara akan melamar perawat itu.” Ucap Nyonya Hanson agak ketus sebab dia memang terpaksa mau melamarkan Alamanda buat Marcel agar tidak diusir oleh Marcel.
“Ya sudah Ma, nanti aku siapkan. Aku nanti juga akan menemui Alamanda sekalian aku sampaikan rencana lamarannya.” Ucap Marcel lalu mencium pipi Sang Mama dan dia pun segera keluar dari kamar Sang Mama untuk sarapan dan lalu berangkat menuju ke Hanson Co.
Waktu pun terus berlalu, siang hari di saat jam istirahat. Marcel segera menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.
“Hmmm nanti Charlotte aku ajak makan siang ke apartemen saja. Sudah lama tidak makan masakan Alamanda. “ gumam Marcel dalam hati sambil membuka pintu mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Marcel pun segera melajukan mobilnya menuju ke Mansion Wijaya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah berada di depan pintu gerbang Mansion Wijaya. Mobil Henry yang disuruh menjaga Charlotte juga tidak tampak berada di depan pintu gerbang.
“Hmmm kenapa pintu tidak dibuka.” Gumam Marcel dalam hati sambil menghentikan mobil akan tetapi tidak mematikan mesinnya. Petugas penjaga pintu gerbang itu malah berjalan menuju ke arah mobil Marcel.
Marcel pelan pelan membuka kaca jendela mobilnya.
“Aku mau menjemput anakku. Kenapa pintu tidak dibuka.” Ucap Marcel dengan nada datar.
“Maaf Tuan, saya dilarang membukakan pintu buat Tuan Marcel.” Jawab petugas pintu gerbang dengan takut takut.
“Hah.. aku mau menjemput anakku!” teriak Marcel dengan nada tinggi.
“Nona Charlotte juga tidak ada di dalam Mansion sejak pagi sudah keluar bersama Nyonya dan belum pulang.” Ucap petugas gerbang dengan jujur apa adanya.
“Harusnya jam segini Charlotte sudah pulang.” Ucap Marcel lalu dia mengambil hand phone yang berada di saku jas nya. Marcel segera menghubungi nomor tablet milik Charlotte.
“Hmm untung tersambung.” Gumam Marcel saat sambungan panggilan video nya terhubung.
“Nak, cepat angkat.. Papa kangen pada kamu, Papa mengkhawatirkan kamu.” Gumam Marcel sambil menunggu sambungan panggilan video nya diangkat oleh Charlotte. Akan tetapi lama tidak segera diterima oleh Charlotte hingga beberapa menit dan berulang kali Marcel mengulangi panggilan video nya.
Dan sesaat kemudian...
“Papa...” suara Charlotte di balik hand phone milik Marcel dan wajah Charlotte pun tampak dengan senyum lebarnya di back ground Charlotte tampak banyak bunga bunga segar dan indah sepertinya tidak di dalam kota.
“Sayang kamu sedang di mana, ini Papa akan menjemput kamu, aku akan mengajak kamu ke apartemen Mama Patricia, kita makan siang di sana bersama Ners Alamanda. “ ucap Marcel dengan nada panik dan kecewa menjadi satu.