
Marcel terus melangkah menuju ke tempat tidur dan bibirnya terus saja menciumi bibir Alamanda dengan penuh gairah dan Alamanda yang sudah kecanduan dengan bibir sang suami pun membalas ciuman sang suami dan terbawa oleh gelora gairah nya. Kedua tangan Alamanda mengalung di leher Marcel dengan erat sementara wajah mereka berdua saling melekat namun bergerak gerak seirama dengan gairah gelora cinta mereka berdua.
Marcel segera membaringkan tubuh Alamanda dengan tidak sabar akan tetapi tidak memperlakukan dengan kasar. Ciuman mereka berdua pun masih berlanjut hanya berjeda sejenak karena Alamanda mengambil nafas.
Sepasang pengantin baru itu pun sudah berada di atas tempat tidur. Ciuman bibir Marcel sudah tidak lagi di bibir Alamanda, akan tetapi sudah semakin turun ke bawah mencari cari bagian tubuh yang menjadi favoritnya. Tangan Marcel dengan gesit segera melepas semua pakaian sang isteri. Celana panjang diri nya yang sudah terasa sangat sesak pun segera dilepas dan dibuang dengan sembarang. Begitu pun G string nya langsung dia lucuti dan dilempar begitu saja.
Mata Alamanda melotot melihat pemandangan di depannya, Alamanda pun menelan saliva nya jari jari lembut tangannya tidak kuasa menahan untuk menjamah barang kesukaan barunya. Marcel pun dengan bahagia mendapatkan perlakuan itu dari istrinya. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Alamanda pun mendekatkan wajahnya pada barang kesukaan barunya dan dia menikmati nya, yang menurutnya lebih enak dari pada es krim co*****o. Marcel pun merem melek kesenangan dan jari jari Marcel pun tidak mau nganggur diam saja, jari jari dia pun juga sibuk bekerja pada barang favoritnya.
“Aku sudah tidak tahan Sayang...” ucap Marcel dengan suara yang parau lalu dia memosisikan sang istri sebagai mana mestinya agar hajat maksud dan tujuan mereka berdua terlaksana.
Mereka berdua pun menyatu dalam cinta yang menggelora, Marcel benar benar merasa sangat perkasa dan Alamanda merasakan kenikmatan yang tiada tara hingga mereka berdua tidak puas puasnya untuk mengulangi nya lagi, lagi dan lagi hingga Alamanda pun lupa dengan ketakutannya tadi.
“Kak Marcel aku lapar...” ucap lirih Alamanda saat mereka sudah menyelesaikan ronde ke lima nya. Jam makan siang pun telah terlewatkan oleh mereka berdua.
“Aku telepon bagian restoran agar mengantar makanan ke sini Sayang..” ucap Marcel yang masih tampak segar bugar. Marcel mencium wajah Alamanda yang lengket karena keringat namun justru semakin memikat hati Marcel. Aroma harum Alamanda masih tercium meski pun mandi keringat akibat kerja keras di atas tempat tidur.
Marcel tersenyum menatap Alamanda yang terbaring lesu karena kelaparan. Dia mencium lagi wajah Alamanda yang sudah menjadi candunya.
“Terima kasih Sayang, kamu semakin hebat...” ucap Marcel lalu mengacak acak dengan penuh kasih sayang puncak kepala Alamanda lalu dia turun dari tempat tidur untuk melangkah menuju ke pesawat telepon guna menghubungi pihak restoran hotel agar mengantar makanan untuk mereka berdua.
Setelah makan mereka berdua pergi mandi dan melakukan lagi di kamar mandi. Marcel benar benar menepati janjinya tidak membiarkan Alamanda melangkahkan kaki, dia selalu menggendong tubuh Alamanda.
“Okey, kita tidur sebentar nanti kita lanjut lagi lihat ini masih mau lagi..” ucap Marcel sambil memperlihatkan burungnya yang masih meronta. Alamanda hanya tersenyum dengan mata sayu nya dan lama lama matanya pun sudah tidak kuat lagi membuka dan dia pun tertidur.
“Hmmm tanpa jamu saja burungku yang sudah lama berpuasa beringas menghadapi Alamanda, apalagi ditambah minum jamu dia semakin menggila..” gumam Marcel sambil mengelus elus burungnya agar jinak sesaat.
Waktu pun terus berlalu. Di kamar Tuan dan Nyonya Ernest, Dokter Willy memeriksa kesehatan Nyonya Ernest, sebab Nyonya Ernest mengeluh pusing kepalanya.
“Nyonya tadi pagi laporan dari Ners Alamanda tensi Nyonya stabil, normal bagus. Sekarang kok naik. Nyonya memikirkan masalah apa? Tentang Mansion biar anak buah Bang Bule Vincent yang menyelesaikan.” Ucap Dokter Willy setelah memeriksa tekanan darah Nyonya Ernest.
“Tentang perusahaan masih bisa aku pantau dari jauh Ma.” Tambah Tuan Ernest yang tampak sedih mendengar tekanan darah tinggi sang istri kembali naik.
“Bukan itu semua, aku ingin agar Alamanda segera tahu. Papa sekarang panggil Alamanda dan suruh Dokter Willy segera uji DNA anak itu..” ucap Nyonya Ernest, dan Dokter Willy pun tampak kaget mendengar ucapan Nyonya Ernest.
“Nyonya buat apa melakukan uji DNA pada Ners Alamanda?” tanya Dokter Willy. Dan Tuan Ernest pun lalu menceritakan semuanya pada Dokter Willy.
“Tolong Dokter rahasiakan ini dulu. Jangan sampai Alamanda dan keluarganya tahu, termasuk Tuan Marcel. Karena belum kita tangkap orang yang mengancam Alamanda. ” Ucap Tuan Ernest setelah menceritakan pada Dokter Willy.
“Ini benar benar mujijat Tuan jika memang Alamanda adalah cucu Anda. Saya merasa sangat bahagia karena turut berperan dalam mempertemukan anggota keluarga yang sudah terpisah puluhan tahun. Saya juga bisa memastikan jika keluarga Irawan sangat kaget dan sedih bila tahu Alamanda adalah bukan anak kandung mereka.” Ucap Dokter Willy dengan nada serius.
"Tapi aku sudah tidak sabar hiks hiks.." ucap Nyonya Ernest sambil terisak isak dan memijit mijit kepalanya yang semakin terasa pusing, leher belakang dan punggungnya pun semakin terasa menegang dan kaku. Sakit.