Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 49.


Beberapa menit kemudian Charlotte tampak kaget dan panik setelah melihat data data hand phone milik Alamanda yang dia retas.


Charlotte pun segera mengusap usap layar tablet nya untuk menghubungi Papa Marcel.


“Sayang.. bagai mana kabar mu. Oma dan Papa sudah berada di Mansion besok kamu pulang ya Nak, Papa jemput kamu besok.” Suara Marcel setelah menggeser tombol hijau.


“Papa aku baik baik saja jangan risaukan aku Pa, Ners Alamanda yang sekarang dalam bahaya. Papa harus segera menolongnya.” Suara Charlotte dengan lantang.


“Sayang, Ners Alamanda berada di dalam mansion Ernestan. Pasti penjagaannya sangat baik.” Ucap Marcel


“Papa tidak percaya pada aku. Ini aku kirim rekaman percakapan Ners Alamanda terakhir dengan Dokter Willy. “ ucap Charlotte lalu memutus sambungan teleponnya dan selanjutnya mengirim data rekaman percakapan Alamanda dengan Dokter Willy termasuk foto ancaman pada Alamanda.


Marcel setelah mendengar rekaman dan melihat foto ancaman buat Alamanda itu, dia segera menelepon Dokter Willy akan tetapi nomor hand phone milik Dokter Willy sedang sibuk. Marcel mencoba menghubungi nomor hand phone milik Tuan Ernest sama saja juga sedang sibuk.


“Aku coba hubungi nomor Alamanda saja.” Ucap Marcel sambil mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi nomor hand phone milik Alamanda. Akan tetapi nomor Alamanda off alias mati.


“Sial semua orang tidak bisa dihubungi.” Umpat Marcel dengan nada emosi. Dia yang baru saja pulang dari rumah sakit dan masih capek tambah pusing mendapat kabar buruk dari puterinya dan masih ditambah lagi semua nomor hand phone yang akan dihubungi tidak bisa.


Marcel yang akan berganti baju santai pun membatalkan niatnya. Dia lalu melangkah meninggalkan kamarnya. Marcel menuruni anak tangga akan menuju ke kamar Nyonya Hanson yang berada di lantai satu


Dengan segera Marcel membuka pintu kamar Nyonya Hanson. Tampak tubuh Nyonya Hanson terbaring di atas tempat tidurnya. Di temani oleh satu perawat dari rumah sakit yang ikut dibawa pulang ke Mansion untuk merawat Nyonya Hanson.


“Ma, aku keluar sebentar , ada hal sangat penting.” Ucap Marcel saat berada di dekat pembaringan Nyonya Hanson.


“Mau ke mana kamu?” tanya Nyonya Hanson sambil menatap wajah kusut Marcel.


“Hanya sebentar Ma.” Ucap Marcel sambil mencium pipi Sang Mama.


“Kamu jaga Nyonya Hanson dengan baik baik.” Pesan Marcel pada perawat yang berdiri di dekat tempat tidur Nyonya Hanson.


Setelah pamit lagi pada Sang Mama. Marcel segera melangkah keluar dari kamar Nyonya Hanson dan dengan langkah lebarnya Marcel segera keluar dari pintu utama Mansion.


Bersama sopir dan pengawal pribadi nya. Marcel sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju ke Mansion Ernestan.


Sedangkan di tempat lain. Di mansion Ernestan. Tuan Ernestan yang baru saja dihubungi oleh Dokter Willy tampak kaget. Dia tidak menyangka jika perawat yang berada di Mansion miliknya mendapat ancaman pembunuhan.


“Ma, aku ke ruang kerja sebentar. Ada hal penting.” Ucap Tuan Ernestan yang berjalan dari sofa menuju ke pintu kamar. Tuan Ernest tidak memberi tahu pada isterinya tentang kabar yang baru saja diterima oleh Dokter Willy. Tuan Ernest tidak ingin tekanan darah tinggi sang istri yang sudah stabil melonjak lagi.


Nyonya Ernest yang sedang melantunkan doa sambil berbaring bersandar di kepala tempat tidur, hanya mendengar pamitan dari suami nya dan tidak begitu menghiraukan. Dia terus melantunkan doa doa.


Tuan Ernest terus melangkah menuju ke ruang kerjanya. Suasana Mansion sudah tampak sepi.


Saat sampai di depan pintu ruang kerjanya, Tuan Ernest membuka pintu ruang kerja itu dengan cepat. Dia segera melangkah menuju ke meja kerjanya.


“Ibu pelayan sudah dipesan kalau meninggalkan ruang kantor pintu dikunci. Tetap saja sering lupa.” Gumam Tuan Ernestan sambil membuka layar lap top nya. Dia akan melihat rekaman CCTV di seluruh Mansion terutama di kamar Ners Alamanda, ruang kantor ibu pelayan tempat menyimpan kunci duplikat. Dan juga ruang kerja Tuan Sam.


Akan tetapi betapa kagetnya Tuan Ernest saat dia tidak bisa melihat rekaman CCTV di semua ruangan di Mansion nya.


Tuan Ernest mengambil ganggang telepon di atas meja kerjanya, dia akan menghubungi Tuan Sam. Akan tetapi dia membatalkan lalu menaruh lagi ganggang telepon itu.


“Hmmm lebih baik aku tidak menanyakan pada orang orang di dalam Mansion ini. Semua harus dicurigai.” Gumam Tuan Ernest. Dan tiba tiba Tuan Ernestan teringat akan kejadian dua puluhan tahun yang lalu. Di saat musibah besar menimpa CCTV juga mati akan tetapi saat itu yang mati hanya CCTV di garasi mobil dan CCTV di luar Mansion.


Jantung Tuan Ernest berdetak lebih kencang. Telapak tangan kanan Tuan Ernest memegang dada nya.


“Aku harus menghubungi polisi karena ada ancaman di dalam Mansion ku.” Gumam Tuan Ernest dalam hati. Di saat dia akan mengangkat ganggang telepon tiba tiba telepon di atas meja itu berdering. Tuan Ernest pun segera mengangkat ganggang telepon.


“Tuan, saya hubungi lewat hand phone tidak terhubung. Saya telepon kamar Nyonya diberi tahu kalau Tuan di sini.” Suara seorang laki laki di balik ganggang telepon yang dipegang oleh Tuan Ernestan.


“Ada apa?” tanya Tuan Ernestan masih dengan suara bergetar.


“Tuan Marcel ingin bertemu dengan Tuan. Katanya ada hal sangat penting.” Suara laki laki di balik telepon Tuan Ernest yang tidak lain adalah petugas penjaga pintu gerbang.


“Antar dia masuk ke dalam ruangan ku.” Ucap Tuan Ernestan lalu menutup ganggang telepon.


“Bos muda itu kenapa malam malam ke sini. Apa dia dihubungi oleh Dokter Willy atau perawat itu.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya.


Beberapa saat kemudian Marcel pun masuk ke ruang kerja Tuan Ernest bersama sang pengawalnya.


“Ada perlu penting apa Tuan Muda, apa Tuan sudah dihubungi oleh Dokter Willy atau perawat itu?” tanya Tuan Ernest saat Marcel sudah duduk di depan nya. Dia sudah menduga jika Marcel datang ada kaitannya dengan ancaman pada Ners Alamanda.


“Bukan, saya datang ke sini justru karena saya tidak bisa menghubungi Dokter Willy dan Ners Alamanda.” Ucap Marcel sambil menatap Tuan Ernestan.


“Maaf Tuan Ernestan, malam ini juga saya akan membawa pergi Ners Alamanda dari Mansion ini.” Ucap Marcel dengan tegas sambil menatap wajah Tuan Ernest yang tampak sedih dan gelisah. Wajah tua nya semakin terlihat berkerut kerut karena berpikir keras.


“Tuan, saya akan menjaga keselamatan Ners Alamanda karena dia berada di Mansion saya. Saya akan menghubungi polisi untuk menjaga keselamatan Ners Alamanda dan mengungkap kasus yang sedang menimpa kami.” Ucap Tuan Ernest dengan nada sedih.


“Lihat CCTV kami semua mati. Saya yakin ini orang dalam yang melakukan.” Ucap Tuan Ernest sambil memperlihatkan layar lap top yang rekaman CCTV nya mati.


“Saya harus bertindak dengan hati hati, demi kesehatan istri saya.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya. Marcel yang mendengar semakin khawatir dengan keselamatan Alamanda termasuk orang tua di depannya itu.


“Jika diizinkan saya akan mengusulkan sesuatu.” Ucap Marcel selanjutnya.


“Apa itu?” tanya Tuan Ernest dan Marcel pun bangkit berdiri lalu membisikkan sesuatu pada Tuan Ernestan.