Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 38. Suasana Romantis yang Terganggu


“Aktifkan hand phone kamu sekarang, agar nanti kalau aku akan menghubungi kamu bisa!” perintah Nyonya Ernest pada Alamanda saat mereka sudah di depan ruang periksa.


“Baik Nyonya. Dan saya pamit untuk menengok keluarga Hanson sebentar.” Ucap Alamanda dengan santun setelah menempatkan kursi roda Nyonya Ernest dengan aman di dekat pintu ruang periksa.


“Hmmm...” gumam Nyonya Ernest . Dan Alamanda pun pergi meninggalkan Nyonya Ernest dan Tuan Ernest yang masih menunggu panggilan untuk masuk ke ruang periksa. Mereka berdua ditemani oleh Sang pengawal.


“Pa, kalau cucu kita hidup seusia perawat itu, aku tanya dia usianya dua puluh dua tahun. Bukannya musibah itu dua puluh dua tahun silam...” ucap Nyonya Ernest yang masih menatap punggung Alamanda yang berjalan meninggalkan ruang periksa Nyonya Ernest.


“Sudahlah Ma tidak usah diingat ingat....” ucap Tuan Ernest sambil mengusap usap punggung istrinya melarang mengingat ingat masa lalu akan tetapi dia sendiri juga jadi teringat masa lalu dengan hadirnya Charlotte, balita perempuan dan juga perawat Alamanda di mansionnya.


“Hmmm meskipun tidak diingat ingat ya tetap saja ingat Pa... apalagi perawat itu sangat mirip dengan Debora.” ucap Nyonya Ernest dengan nada sedih.


“Jangan sedih Ma, aku sudah menyuruh orang untuk mencari informasi tentang keluarga perawat itu. Jika dia memang masih kerabat Debora. Bisa kita jadikan dia cucu angkat kita, untuk mengobati hati kita. Bagaimana?” ucap Tuan Ernest masih mengusap usap punggung istrinya akan tetapi Nyonya Ernest belum menjawab petugas ruang periksa itu sudah mempersilahkan Nyonya Ernest masuk ke dalam ruang periksa dan Tuan Ernest pun juga turut masuk ke dalam ruang periksa itu.


Sementara itu Alamanda yang sudah mendapatkan informasi dari teman sesama Perawatnya jika Nyonya Hanson masih di ruang ICU. Alamanda segera melangkah menuju ke ruang ICU.


Saat sudah sampai di dekat ruang ICU. Tampak Marcel sedang duduk di kursi di depan ruang ICU itu. Wajah Marcel terlihat sangat kusut, sepertinya dia tidak tidur semalaman karena menjaga Nyonya Hanson. Charlotte terlihat berdiri di samping Sang Papa dan tampak tangan mungil Charlotte menyuapi mulut Marcel.


“Papa harus makan agar tidak sakit. Kalau Oma sakit, dan Papa juga sakit aku sedih Pa...” suara imut Charlotte sambil menyuapi mulut Marcel.


“Selamat pagi Tuan Marcel. Bagaimana keadaan Nyonya Hanson?” ucap Alamanda setelah sampai di dekat mereka berdua. Marcel yang mendengar suara Alamanda yang sangat dia rindu tampak segera menoleh ke arah suara. Demikian juga Charlotte.


“Oooh Ners Alamanda, tolong ini Papa disuapi sejak malam Papa belum makan.” Ucap Charlotte sambil kedua tangan mungilnya mengambil box tempat makan yang tadi dia taruh di atas kursi tunggu sebab tangan mungilnya tidak kuat membawa jika sambil menyuapi Sang Papa.


“Belum lapar Sayang..” ucap Marcel sambil menatap Charlotte.


“Harus makan!” perintah Charlotte dengan galak. Dan box makan pun sudah dipegang oleh Alamanda.


“Oma belum sadar juga.” Ucap Marcel dengan nada sedih.


“Sekarang Nanny yang di dalam. Aku mau mandi tapi dipaksa oleh Charlotte untuk makan, padahal perutku belum lapar.” Ucap Marcel kemudian.


“Ners suapi Papa dech kalau tidak disuapi pasti tidak mau makan.” Ucap Charlotte sambil menatap Alamanda.


Alamanda yang hanya memiliki sedikit waktu itu pun lalu duduk di dekat Marcel dan terpaksa menyuapi Marcel agar segera selesai perintah dari Charlotte dan dia bisa segera menengok Nyonya Hanson. Charlotte terlihat tersenyum senang saat Alamanda sudah menyuapi Papanya, sesekali Marcel melirik pada Charlotte yang senyum senyum menggodanya.


“Tuan mengunyahnya lebih cepat ya, sebab waktu saya tidak banyak. Saya harus segera ke ruang periksa Nyonya Ernest.” Ucap Alamanda sebab Marcel mengunyah makanannya sebanyak tiga puluh dua kali atau mungkin lebih, hal itu dilakukan agar Alamanda berlama lama menyuapi dirinya. Bukan karena anjuran ahlinya.


“Hmmm kenapa Mama juga harus masuk rumah sakit jadi aku tidak bisa segera melamar dia.” Gumam Marcel dalam hati sambil menelan makanannya di dalam mulut yang sudah ***** lebih dari sempurna.


Sesaat Alamanda menyuapi Marcel lagi. Marcel kini membuka mulutnya dengan menatap tajam wajah Alamanda yang ada di dekatnya hanya berjarak kurang dari satu meter itu. Alamanda yang merasa ditatap oleh Marcel pun secara spontan matanya menatap mata Marcel. Manik manik mata mereka pun saling bertemu pandang. Degup jantung Alamanda berdetak lebih kencang hingga tangannya yang membawa sendok bergetar menyebabkan ada sebagian makanan yang tidak masuk ke dalam mulut Marcel dan masih bertengger di bibir Marcel. Charlotte yang melihat tertawa terkekeh kekeh...


“Maaf...” ucap lirih Alamanda lalu jari jari lembut nan lentik miliknya mengusap dengan pelan makanan yang bertengger di bibir Marcel. Kini bergantian degup jantung Marcel yang berdetak lebih kencang.


Charlotte yang melihat sudah berhenti tertawanya dan kini bibir Charlotte tersenyum dan sinar matanya berbinar binar. Bila digambarkan di mata Charlotte muncul emoji love.. love...love...


Di saat Marcel dan Alamanda masih terdiam terpaku merasakan debar debar enak di jantungnya. Dan Charlotte masih tersenyum dengan mata yang berbinar binar. Tiba tiba..


“Tuan Marcel.” Suara seorang petugas medis di ruang ICU memanggil nama Marcel. Marcel pun langsung tersadar dan bangkit dari tempat duduknya.


“Nyonya Hanson memanggil manggil nama Anda.” Suara petugas medis di depan pintu ruang ICU itu dan dengan cepat dia kembali masuk lagi ke dalam ruang ICU di mana Nyonya Hanson berada. Marcel pun segera berlari masuk ke dalam ruang ICU. Dan bersamaan dengan itu Sang pengasuh Charlotte berjalan dengan cepat keluar dari ruangan dan menuju ke tempat Charlotte dan Alamanda yang masih duduk dengan tatapan penuh kekhawatiran menatap pintu ruang ICU itu.


“Bagaimana Nyonya Hanson?” tanya Alamanda saat Sang pengasuh Charlotte sudah berada di dekatnya.


“Mata masih terpejam tetapi mulutnya memanggil manggil nama Tuan Marcel.” Jawab Sang pengasuh. Alamanda pun lalu menaruh kotak makan yang belum habis itu di atas kursi tunggu dan dia bangkit berdiri untuk ikut melihat kondisi Nyonya Hanson.


“Hmmm Oma tidak sadar saja masih juga mengganggu Papa dan Ners Alamanda.” Ucap lirih Charlotte dengan bibir manyun ke depan.


“Nona, tidak boleh berkata begitu.” Ucap Sang pengasuh sambil menatap Charlotte. Sang pengasuh pun lalu mengangkat tubuh mungil Charlotte dan dipangkunya. Mereka menunggu Alamanda yang juga ikut masuk ke dalam ruang ICU.