Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 119.


Saat keluar dari pintu kamar tidur Nyonya Ernest, pandangan mata Marcel langsung tertuju pada ekstra bed yang berada di ruang tamu itu.


“Kosong, di mana Tuan Ernest apa sedang di kamar mandi. Kebetulan aku harus cepat cepat ke balkon.” Gumam Marcel dalam hati yang mengira Tuan Ernest sedang di dalam kamar mandi yang ada di luar kamar tidur Nyonya Ernest . Di sofa pun tidak ada sosok Tuan Ernest.


Marcel tersenyum lega dan memperlebar juga mempercepat langkah kakinya.


“Pa, mau dibawa ke mana aku. Aku sudah ngantuk banget pengen tidur...” gumam Alamanda yang terpejam kedua matanya pasrah di dalam gendongan tubuh kekar Marcel.


“Sabar Sayang, nanti kamu boleh tidur dan menikmati saja.” Ucap Marcel yang sudah tidak tahan ingin melampiaskan hasratnya pada sang istri tercinta.


Sesaat kemudian Marcel sudah berada di pintu penghubung ruang tamu dan balkon. Marcel membuka pintu itu dengan segera. Akan tetapi betapa kagetnya Marcel. Marcel segera menutup pintu penghubung ruang tamu dan balkon itu dengan rapat. Marcel pun segera membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan cepat bahkan setengah berlari sambil terus menggendong tubuh Alamanda.


Marcel kembali masuk ke dalam kamar tidur Nyonya Ernest dan dengan cepat dia menutup pintu kamar itu namun dengan hati hati agar tidak menimbulkan bunyi.


“Hah? Bos Tua itu kenapa malah berada di balkon dan belum juga tidur.” Gumam Marcel dalam hati dan tampak sangat kecewa, impiannya mau enak enakan di balkon gagal total sebab Tuan Ernest sudah menduduki sofa panjang yang berada di balkon.


“Pa ...” gumam lirih Alamanda yang merasa digendong Marcel berjalan dan berlari ke sana ke mari.


“Sabar Sayang..” ucap lirih Marcel sambil mencium puncak kepala Alamanda dan akhir nya Marcel membawa Alamanda ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur Nyonya Ernest. Sebab kamar mandi di luar kamar tidur tidak ada bath up nya, tidak nyaman untuk melakukan kegiatan enak enakan di saat sang istri dalam kondisi mengantuk.


Marcel terus melangkah menuju ke bath up dan selanjutnya membaringkan tubuh Alamanda pelan pelan di dalam bath up.


“Sayang kita lakukan di dalam bath up lagi ya... tadi sebenarnya kalau di balkon sangat romantis ada nuansa di luar ruangan, bunga tabebuya sedang bermekaran dan langit penuh bintang bintang gemerlapan..” ucap Marcel sambil membelai rambut Alamanda. Marcel yang sudah menanti nanti saat bisa berdua dengan sang istri sejak tadi itu pun lalu mencumbui wajah Sang isteri.


Pasangan suami istri itu pun kini sudah berada di dalam bath up tanpa menggunakan sehelai benang sekalipun. Tangan Marcel sudah sangat cekatan untuk melepas semua yang mengganggu maksud dirinya.


Alamanda yang tadi terpejam matanya, kini sudah merem melek menikmati pompaan dari Sang suami.


Dan di saat Marcel sedang asyik asyiknya memompa tiba tiba dia teringat akan sesuatu. Kepala dia pun menoleh ke arah pintu kamar mandi.


“Aku lupa mengunci pintu. Nyonya Ernest tidak mungkin bisa masuk ke sini tanpa bantuan kamu. Semoga Charlotte tidur nyenyak.. Tapi Bos Tua itu..” ucap Marcel sambil mengurangi kecepatan memompa nya.


“Semoga tidur nyenyak..” gumam Alamanda yang tidak tahu jika Tuan Ernestan masih duduk di balkon sebab dia tadi terpejam matanya saat digendong oleh suaminya. Alamanda yang juga sedang keenakan itu enggan dilepas oleh Marcel dan Marcel pun juga sama seperti Alamanda enggan untuk melepas dan dia pun kembali mempercepat pompaan nya.


Sementara itu di balkon. Tuan Ernestan masih duduk di sofa panjang. Tuan Ernest memang sejak menerima sample rambut Alamanda dia membungkusnya dan menaruh ke dalam saku baju piamanya. Kemudian dia berada di balkon untuk menghubungi dokter Willy, agar percakapannya tidak didengar oleh siapa pun.


Dan kini Tuan Ernest sedang bicara serius dengan Bang Bule Vincent lewat sambungan teleponnya.


“Kalau Sam sudah kamu tangkap, aku dan istriku akan segera pulang ke Mansion. Biar Nona Eveline masih berada di Mansion dulu sampai kondisi benar benar aman buat keluargaku.” Ucap lirih Tuan Ernest yang sudah diberitahu tahu oleh Bang Bule Vincent jika Tuan Sam sudah berada di markas Bang Bule Vincent.


“Kami masih melacak orang orang Tuan Sam, Tuan. Lebih baik jangan ke Mansion dulu.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Tuan Ernest.


“Saya sedang berusaha untuk mencari nomor hand phone milik Tuan Sam yang dia pakai dua puluh dua tahun silam. Apa Tuan Ernest mungkin masih memiliki nomor itu?” Suara Bang Bule Vincent lagi di balik hand phone milik Tuan Ernest.


“Hah? Aku tidak tahu itu. Aku sudah tidak bisa berpikir bagaimana cara mencari nomor hand Sam saat itu. Nomor hand phone ku yang tidak pernah berganti ganti. Coba kamu lihat saja data data di nomor ku dua puluh dua tahun silam. Siapa tahu kamu temukan nomor hand phone Sam dua puluh dua tahun silam.” Ucap Tuan Ernest sambil mengerutkan keningnya.