
“Beb.. Kan kita baru saja selesai..” ucap Kevin masih dengan mata terpejam sebab mereka baru selesai melakukan goyang enak enak menjelang subuh.
“Satu kali lagi Sayang, habis ini aku mau mandi dan ke Mansion Hanson, aku mau menemui Tante Hanson. Aku akan mengabarkan berita gembira ini secara langsung pasti nanti aku terus diajak belanja belanja.” Ucap Millie yang tangannya mulai menjalar mencari bagian tubuh sensitif milik Kevin. Kevin yang mendapatkan aksi dari jari jari Millie di bagian tubuh sensitifnya pun mulai bereaksi. Tangan Kevin pun mulai mencari cari bagian tubuh Millie yang menjadi favoritnya.
Akan tetapi tiba tiba terdengar bunyi dering hand phone milik Kevin yang berada di tempat tidur. Mereka berdua mengabaikan bunyi dering itu. Akan tetapi lama lama Millie merasa terganggu dan diraihnya hand phone milik Kevin itu, dia akan mematikannya hand phone itu. Saat dilihat di layar hand phone milik Kevin itu tertera nama kontak Kuncung yang tidak lain adalah orang suruhannya untuk mencelakakan Alamanda.
“Ada apa pagi pagi dia menelepon.” Gumam Millie karena dia tahu biasanya orang suruhannya itu bangun siang hari jika tidak ada tugas penting.
Millie lalu menyerahkan hand phone itu pada Kevin. Kevin pun melepas bagian tubuh Millie yang sedang dia gosok gosok dengan jarinya dan sudah mulai basah. Kevin segera meraih hand phone dari tangan Millie.
“Bos gawat ini ada polisi datang. Itu mobil polisi berhenti di depan rumah dan empat orang polisi turun sudah berdiri di depan pintu pagar.” Suara laki laki dengan nada panik dan tergesa gesa, di balik hand phone milik Kevin
“Lari saja atau sembunyi!” teriak Kevin, namun tiba tiba sambungan telepon sudah terputus.
“Sial polisi datang ke rumah kontrak mereka.” Ucap Kevin sambil menaruh hand phone miliknya yang sudah terputus sambungan. Wajah Kevin pun menjadi panik karena dia juga takut ditangkap.
“Sayang hand phone kamu kan sudah kamu lindungi. Polisi tidak bisa melacak keberadaanmu.” Ucap Millie sambil menatap Kevin yang tampak ekspresi wajahnya sangat panik.
“Ayo Sayang kita lanjut lagi...” ucap Millie selanjutnya sambil memeluk tubuh Kevin.
Belum juga mereka mulai lagi aksi dan reaksinya, pintu kamar Millie terdengar suara ketukan dengan sangat keras.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK TOK
“Nona Millie.. Nona Millie .. ada polisi di depan mencari Tuan Kevin.” Teriak sang pelayan sambil masih mengetuk ngetuk pintu dengan keras.
“Beb, polisi mencari aku.” Ucap Kevin yang langsung bangkit berdiri dia mengambil semua pakaiannya yang berceceran tercerai berai di atas tempat tidur dan ada juga yang di atas lantai. Setelah mengambil semua pakaiannya Kevin berlari menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Millie langsung mengambil piama tidurnya dan langsung memakainya. Sang pelayan masih saja terus mengetuk ngetuk pintu sambil memanggil manggil namanya. Millie segera melangkah menuju ke pintu kamarnya.
“Kenapa kamu tidak bilang jika Kevin tidak ada di sini!” suara Millie dengan nada kesal.
Millie lalu melangkah menuju ke pintu depan dan ternyata dua orang polisi sudah duduk di kursi ruang tamu. Kedua polisi itu lantas berdiri dan menganggukkan kepala memberi hormat pada Millie lalu menyampaikan maksud tujuannya untuk menjemput Kevin.
“Yang bapak bapak cari itu tidak ada di sini. Cari di tempat lain.” Suara Millie dengan nada tinggi dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
“Nona jangan melindungi buronan kami. Motor saudara Kevin ada di halaman rumah Nona.” Ucap Pak Polisi dengan nada sopan.
“Nona kami punya surat izin untuk menggeledah isi rumah ini.” Suara salah satu polisi itu.
Akhirnya Pak polisi pun bisa membawa Kevin meskipun harus memakai acara menggeledah rumah orang tua Millie itu. Karena ada upaya lari Kevin pun diborgol kedua tangannya. Kevin bersama dua polisi itu berjalan meninggalkan rumah Millie untuk menuju ke mobil polisi.
“Sial, kenapa juga polisi tahu.” Gumam Millie dengan kesal sambil menatap punggung Kevin.
“Eh.. mungkin Pak Polisi bisa dibayar agar mau melepaskan Kevin.” Ucap Millie lalu dia berlari menyusul langkah kaki pak polisi. Millie pun menawarkan bayaran tinggi pada dua polisi itu, akan tetapi tawaran Millie itu ditolak mentah mentah oleh kedua polisi itu.
Di lain tempat, di ruang kerja Marcel. Dia terlihat tersenyum senang saat mendengar kabar dari Henry jika para pelaku sudah ditangkap oleh Polisi. Marcel pun segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Alamanda. Bibir Marcel masih terus tersenyum sambil menunggu panggilannya diterima oleh Alamanda. Akan tetapi Marcel menelan kekecewaan sebab panggilan suaranya ditolak oleh Alamanda.
“Kok ditolak, apa salah tekan.” Gumam Marcel sambil mencoba menghubungi Alamanda lagi akan tetapi kini nomor hand phone milik Alamanda justru sudah mati.
“Hmmm ada apa dia kenapa panggilanku ditolak dan sekarang malah hand phone off.” Gumam Marcel dengan nada kecewa. Dan dengan hati yang kecewa Marcel lalu melanjutkan pekerjaannya.
Waktu pun terus berlalu, di saat menjelang jam Charlotte pulang sekolah. Marcel meninggalkan ruang kerjanya, dia akan pergi ke sekolah Charlotte untuk menjemput Charlotte.
“Pasti Charlotte akan senang sekali.” Gumam Marcel dalam hati sambil terus melangkah menuju ke lift yang akan mengantar dirinya untuk menuju ke lantai dasar tempat mobilnya terparkir.
Setelah sampai di mobilnya Marcel segera masuk dan menjalankan mobil menuju ke sekolah Charlotte. Marcel sudah menghubungi sopir yang akan menjemput Charlotte kalau dia sendiri yang akan menjemput puteri semata wayangnya.
Sedangkan di lain tempat di Mansion Ernestan. Alamanda yang sedang membantu Nyonya Ernest melakukan terapi jalan kaki, mendapat omelan dari Nyonya Ernest.
“Kalau sedang di waktu kerja, hand phone dimatikan. Jangan kamu ulangi lagi!” ucap Nyonya Ernest dengan nada tinggi, dia tidak suka jika ada karyawan di jam kerjanya malah sibuk dengan hand phone.
“Baik Nyonya, tidak akan saya ulangi lagi.” Ucap Alamanda dengan nada sopan. Alamanda pun sudah mematikan hand phone miliknya, meskipun dalam hati dia sangat kecewa sebab sudah melakukan penolakan pada panggilan suara dari Marcel.
“Bikin kaget orang saja.” Ucap Nyonya Ernest lagi padahal suara dering hand phone milik Alamanda suaranya tidak keras.
“Pasti pacar kamu itu yang nelpon nelpon.” Ucap Nyonya Ernest kemudian namun sudah tidak lagi dengan nada tinggi. Alamanda hanya diam saja sambil terus dengan sabar dan penuh kasih sayang membantu menerapi Nyonya Ernest berjalan.
Sesaat kemudian Nyonya Ernest minta istirahat, Alamanda pun membantu Nyonya Ernest dengan walker menuju ke kursi rodanya.
“Berapa usiamu sekarang?” tanya Nyonya Ernest setelah duduk di kursi roda dengan nyaman.
“Dua puluh dua tahun Nyonya..” jawab Alamanda yang sudah berdiri di belakang kursi roda Nyonya Ernest dan siap mendorong ke tempat yang diinginkan oleh Nyonya Ernest.
“Hmm cucuku kalau hidup juga seusia kamu.” Gumam Nyonya Ernest dengan nada sedih, matanya pun mulai berkaca kaca.