
“Hmmm aman...” gumam Tuan Sam dalam hati yang sudah sukses menyalip mobil di depannya.
“Masih harus menyalip satu mobil lagi agar aku masih bisa memantau mobil Tuan Marcel.” Gumam Tuan Sam lagi lalu dia menambah laju kemudi mobilnya untuk menyalip lagi satu mobil di depannya agar pandangan mata nya pada mobil Marcel tidak terhalangi.
“Hhhm cukup sudah masih ada dua mobil lain tak masalah aku masih bisa melihat mobil Tuan Marcel. Malah bisa untuk menutup agar perawat itu tidak tahu. Dan Tuan Marcel tidak curiga jika ada mobil yang mengikutinya.” Ucap Tuan Sam sambil tersenyum puas saat dia sudah berada lagi pada posisi yang aman.
Sementara itu mobil yang dikemudikan oleh Marcel terus melaju menuju ke apartemen. Marcel dan Alamanda tidak begitu memedulikan keadaan di luar mobil. Marcel fokus mengemudikan mobilnya agar tidak mengalami kecelakaan. Marcel dan Alamanda lebih banyak diam, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing masing yang masih berkutat pada kesehatan Charlotte.
“Pa, aku ada ide...” ucap Charlotte tiba tiba mengagetkan Alamanda dan juga Marcel.
“Apa?” tanya Marcel sambil menoleh sekilas ke arah Charlotte.
“Kenapa Tuan dan Nyonya Ernest tidak dibawa saja ke Mansion kita Pa...” ucap Charlotte dengan mata berbinar binar menoleh ke arah Sang Papa dia melihat Sang Papa dari samping.
“Hmmm bagus juga ide kamu.. Coba nanti aku tawarkan pada mereka dan kita juga harus membujuk Oma Hanson.” Ucap Marcel sambil terus fokus pada laju kemudinya.
Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman apartemen milik Marcel.
Tuan Sam yang masih mengikuti di belakangnya tahu ke mana mobil Marcel berbelok.
“Hmmm mobil itu sudah berbelok...” gumam Tuan Sam dalam hati sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
“Hmmm mereka masuk ke dalam apartemen.” Gumam Tuan Sam saat mobil yang dia kemudikan sudah berada di depan gedung apartemen. Tuan Sam pun juga membelokkan mobilnya akan masuk ke dalam halaman apartemen itu.
“Sial.” Umpat Tuan Sam saat pintu gerbang tidak terbuka otomatis malah ada satu orang petugas keamanan mendatangi mobilnya. Tuan Sam pun menurunkan jendela kaca mobilnya.
“Selamat siang Tuan, maaf tunjukkan id card Tuan dan apa tujuan Tuan datang ke apartemen ini.” Ucap petugas keamanan itu dengan santun.
“Sial, ketat sekali peraturannya.” Gumam Tuan Sam dalam hati lalu dia mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu mengambil id card nya dan selanjutnya diserahkan pada petugas keamanan apartement itu.
“Keperluan Tuan?” tanya petugas keamanan itu selanjutnya.
“Mau menemui teman ada undangan.” Jawab Tuan Sam bohong.
“Apa bisa Tuan menunjukkan undangan nya.” Ucap petugas keamanan apartement itu.
“Undangan lewat telepon.” Jawab Tuan Sam bohong lagi. Hmmm satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan lainnya.
“Bisa sebutkan siapa nama teman Tuan?” tanya petugas keamanan itu lagi.
“Hmmm benar benar ketat sekali. Jika aku bilang Tuan Marcel, belum tentu juga dia penghuni apartemen ini. Kalau benar dia penghuni apartemen ini petugas ini menghubungi Tuan Marcel malah kacau. Kalau aku asal sebut nama orang jika salah ketahuan aku bohong .” Gumam Tuan Sam dalam hati.
“Aku telepon dia saja.” Ucap Tuan Sam selanjutnya. Tampak Tuan Sam mengambil hand phone dari saku jas nya. Dia mengusap usap layar hand phone miliknya, pura pura menghubungi seseorang.
“Kita ketemu di luar saja. Repot sekali aturan masuk apartemen kamu.” Ucap Tuan Sam dengan suara keras agar petugas keamanan mendengar.
“Okey okey aku share lokasi.” Ucap Tuan Sam lagi. Lalu dia memasukkan hand phone ke dalam saku jas nya lagi.
“Sial, aku tunggu saja di tempat yang aman.” Gumam Tuan Sam dalam hati lalu dia tancap gas meninggalkan lokasi itu.
Sedangkan di dalam gedung apartemen itu. Di suatu lift tampak pintunya terbuka, dan muncul Alamanda menggendong tubuh mungil Charlotte dan Marcel berjalan di sampingnya. Sambil berjalan salah satu tangan Marcel memeluk pundak Alamanda dengan posesif.
Sesaat mereka sudah berada di depan pintu kamar apartemennya. Marcel yang sudah mengabari Bang Bule Vincent dan Tuan Ernestan jika dia sudah sampai di apartemen itu segera menekan tombol pass word.
“Bang maaf ya... Menunggu lama.” Ucap Marcel sambil melangkah menuju ke sofa. Di sofa ruang tamu itu tampak seorang Bule yang tampan dan keren sedang duduk dan berbincang bincang dengan Tuan Ernest.
“Santai saja Bro, bagaimana dengan anakmu.” Ucap Bule itu sambil menatap Marcel dan Charlotte lalu menatap Alamanda. Marcel dan Alamanda pun lalu duduk di sofa, Charlotte dipangku oleh Alamanda.
“Iya bagai mana dengan Nona kecil?” tanya Tuan Ernest dengan nada prihatin.
“Hmmm.. begini Tuan Ernest sebelum membahas tentang rekaman percakapan itu, tentang kerja sama dengan Bang Bule Vincent, saya ingin mengatakan sesuatu tentang masalah kami dulu agar saya bisa tenang.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil menatap wajah Tuan Ernestan dan Bang Bule Vincent secara bergantian.
“Katakan Tuan Muda.” Ucap Tuan Ernest dengan serius dan ekspresi wajah penuh empati. Seperti nya Tuan Ernest sudah bisa membaca dari ekspresi wajah Marcel dan Alamanda.
“Sel kanker di dalam tubuh Charlotte muncul lagi...” ucap Marcel dengan nada sedih. Tuam Ernest dan Bang Bule Vincent ekspresi wajahnya juga langsung tampak sedih dan menatap wajah mungil Charlotte.
“Tapi tanganku tidak sakit...” saut Charlotte agar orang orang di sekitarnya tidak bersedih hati. Alamanda tampak mengusap usap kepala Charlotte dengan lembut.
“Karena sel kanker masih sedikit tetapi kita harus waspada agar sel itu tidak berkembang dan harus segera diobati agar hilang...” ucap Alamanda. Marcel pun menoleh dan ikut mengusap usap kepala Charlotte.
“Tuan bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Ernest tinggal saja di Mansion kami dulu. Agar pikiran saya tidak terpecah.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil menatap wajah Tuan Ernestan.
“Atau kontrak kerja Alamanda dengan Tuan dibatalkan.” Ucap Marcel selanjutnya.
“Tuan Marcel jika saya dan istri saya tinggal di Mansion Hanson akan semakin merepotkan keluarga Hanson.” Ucap Tuan Ernest..
“Tidak Tuan...” ucap Marcel lalu Marcel menoleh pada Alamanda dan berbisik agar Alamanda dan Charlotte meninggalkan ruang tamu itu dulu.
Setelah Alamanda dan Charlotte tidak berada di dalam ruang tamu itu, lalu Marcel mengatakan pada Tuan Ernestan dan Bang Bule Vincent kalau dia harus membuat suasana hati Charlotte bahagia.
“Aku sudah tanya apa keinginan dan kemauannya agar dia bahagia. Kemauannya hanya satu tinggal bersama Alamanda dan aku.” Ucap Marcel sambil menatap Bang Bule Vincent lalu Tuan Ernest.
“Bahkan dia maunya tidur pun bertiga.” Ucap Marcel selanjutnya.
“What?” ucap Bang Bule Vincent dengan keras dan ekspresi kaget.
“Bro, itu tidak boleh. Bahaya burungmu yang lama berpuasa itu pasti akan meronta ronta.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius sedang Tuan Ernest menatap Bang Bule Vincent yang berbicara to the point.
“Itulah Bang, aku sangat mencintai Alamanda, aku tidak ingin melakukan sebelum dia sah menjadi istriku.” Ucap Marcel
“Ya sudah nikah kilat saja, demi kebaikan bersama.” Ucap Bang Bule Vincent.