Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 92.


Sedangkan di kamar Bapak dan Ibu Irawan. Panasnya kamar akibat gairah mereka tidak kalah dengan pasangan pengantin baru. Ibu Irawan yang semula karena terpaksa lama lama menikmati sensasi baru goyang enak enak di atas tempat tidur mewah. Mereka berdua melakukan bersesi sesi hingga dengkul Ibu Irawan benar benar bergetar karena sudah lemas kecapekan.


“Sudah Pa, kali ini aku sudah tidak kuat lagi.. capek.. haus.. lapar..” ucap Ibu Irawan yang sudah terbaring lemah lemes... sudah terkapar KO total oleh serangan sang suami.


“Ma, ini masih berdiri...” ucap Pak Irawan sambil menunjukkan burungnya yang masih berdiri ingin mematuk matuk dan masuk sarang hangat.


“Hah.. aku sudah capek. Sana masukkan botol saja.. awas kalau Papa ke luar kamar mencari wanita penghibur aku sunat habis itu barang Papa.” Ucap Ibu Irawan sambil mengatur nafas.


“Mama tega benar pada aku. Katanya harus melayani suami dengan baik. Ini aku masih butuh layananmu Ma.. “


“Sudah Pa, capek aku ini juga sudah mau pagi. Salah sendiri jamu buat pengantin diminum. Sana Papa minum air putih banyak banyak biar hilang itu reaksi jamu yang masih ada.” Perintah ibu Irawan dan sang suami pun menurut melangkah menunu ke mini pantry.


“Hmm. Baru kali ini ada orang tua yang anaknya menikah malah ikut ikut menikmati malam pertama..” gumam Ibu Irawan


Dan tiba tiba Ibu Irawan teringat akan sesuatu..


“Waduh.. bagaimana kalau jamu nya ditambahi jamu subur benih laki laki.. kemarin nenek Oji kan ingin agar Alamanda segera hamil anak Tuan Marcel sebagai pengikat cinta.”


“Papa.....” teriak Ibu Irawan panik.


“Ada apa Ma, bikin kaget saja. Untung ini kamar pada peredam suara nomor wahid.” Ucap Pak Irawan lalu melangkah ke tempat tidur sebab dia pun sudah meminum air mineral hampir setengah galon.


“Malu aku kalau Iqbal sudah SMP dan punya adik bayi. Apalagi nanti Alamanda juga hamil.. “


“Malu kenapa?”


“Malu kalau kita sudah tua dan sudah saatnya punya cucu tapi punya anak lagi Pa.. itu jamu pasti dikasih khasiat subur laki laki. Kecebong Papa yang tadi disemprotkan ke perutku pasti tumbuh jadi bayi.”


“Ya kalau punya anak lagi syukur alhamdulillah Ma, kenapa malu. Rejeki Ma namanya.. Sudah ayo tidur.. ga usah dipikir, lagian juga belum pasti.” ucap Bapak Irawan lalu naik ke atas tempat tidur dan mereka berdua pun lama lama terlelap karena kecapekan akibat goyang enak enak bersesi sesi.


Keesokan pagi nya di kamar pengantin. Tampak di tempat tidur yang luas itu, ketiga orang masih terlelap di dalam mimpi mereka. Marcel memeluk tubuh Alamanda dengan sangat posesif. Sedangkan Alamanda memeluk tubuh mungil Charlotte.


Sesaat mata Charlotte terbuka. Dia mencari sosok Papa yang tidak ada di sampingnya karena terhalang Alamanda.


Tadi dini hari setelah mereka berdua puas melampiaskan gairah dan sudah membersihkan diri. Marcel menggendong tubuh Alamanda dibawa ke tempat tidur , lalu mereka pun tidur. Hingga lupa mengatur posisi tidur dan Alamanda yang berada di tengah.


Mendengar teriak Charlotte dan ada nama Millie disebut, Alamanda pun segera membuka matanya yang masih terasa mengantuk.


“Ada apa Sayang?” tanya Alamanda


“Papa hilang Ma...” ucso Charlotte lagi yang tidak sempat melihat tangan Sang Papa yang masih memeluk perut Alamanda.


“Ini tangan siapa?” tanya Alamanda sambil memegang tangan Marcel.


“Papa...” ucap Charlotte sambil tersenyum lebar.


“Kenapa Mama yang ada di tengah?” Tanya Charlotte sambil bangkit dari tidurnya dan melihat sosok Sang Papa yang masih terlelap.


“Mama banyak polah waktu tidur ya? Sampai melompati aku. Untung aku tidak kepenyet.. “ ucap Charlotte sambil menatap tajam wajah Alamanda.


Mendengar ada suara ribut anaknya, Marcel pun terbangun .


“Sayang kalian sudah bangun..” ucap Marcel


“Papa, Mama Alamanda tidurnya banyak polah kayak Mama Patricia. Lihat Mama yang jadi di tengah.” Ucap Charlotte dengan nada serius.


“Ya sudah nanti kamu bobok sama Nanny biar tidak kepenyet tertindih Mama.” Ucap Marcel merasa dapat celah agar Charlotte tidur di kamar terpisah.


“Hmmm aku pikir pikir dulu.” Ucap Charlotte sambil mengetuk ngetuk dahinya dengan ujung jari telunjuk nya sendiri.


Dan waktu pun berlalu, hingga jam sarapan pagi pun tiba. Tampak mereka berada di ruang makan khusus di hotel itu. Satu meja dikelilingi oleh Tuan Nyonya Ernestan, Kakek Nenek Oji juga Jasmine dan Iqbal.


Satu meja lainnya di kelilingi oleh Nyonya Hanson dan kerabatnya, sedangkan Marcel, Alamanda dan Charlotte baru saja masuk ke dalam ruang makan itu. Melihat mereka datang Nenek Oji lalu bangkit berdiri dan mendatangi Marcel.


“Bagaimana khasiat jamu buatan saya Tuan?” tanya Nenek Oji dengan penuh semangat.


Akan tetapi belum juga Marcel menjawab, muncul seorang pegawai hotel bersama dengan seorang gadis yang cantik.


“Selamat pagi semua, maaf saya mengganggu makan pagi Anda semua. Saya hanya ingin mengantar tamu Tuan Ernest dan Tuan Marcel. “ ucap pegawai hotel itu. Semua orang yang berada di ruang makan khusus itu pun menoleh ke arah gadis cantik yang dibawa oleh pegawai hotel itu.