
Tampak Jasmine yang berdiri di samping Nenek Oji menyikut pelan tubuh Nenek Oji sebagai kode agar Nenek Oji mengerem mulutnya sebab dia hafal sifat Sang Nenek yang sering bicara ngelantur.
“Iya iya Terima kasih sudah memenuhi undangan kami untuk menginap di sini. Selamat beraktivitas buat semua. Boleh juga Nenek membuatkan jamu buat saya, tapi jangan jamu macam buat Tuan Marcel ya...” ucap Tuan Ernest sambil menerima jabatan tangan dari Kakek Oji dan berlanjut pada yang lainnya.
Keluarga Irawan pun juga menjabat tangan Dokter Willy dan mereka benar benar pamit laly melangkah meninggalkan Tuan Ernest dan Dokter Willy. Setelah melangkah agak jauh tampak Jasmine, Iqbal berbisik bisik pada Nenek Oji.
Sementara itu Tuan Ernest mencabut beberapa helai rambut nya lagi dan setelahnya memberikan pada Dokter Willy.
“Hmm apa mereka curiga dengan sample rambut ini.” Gumam Tuan Ernest selanjutnya.
“Semoga tidak. Tuan harus menyiapkan perasaan mereka dan juga Alamanda.” Ucap Dokter Willy sambil menaruh sample rambut ke dalam tas kerjanya. Tampak Tuan Ernest mengangguk anggukkan kepalanya sambil berpikir pikir.
“Baik lah Tuan saya akan segera ke rumah sakit dan membawa sample ini ke ke laboratorium. “ ucap Dokter Willy sambil bangkit berdiri.
“Ya, aku tunggu hasilnya. Tolong yang cepat super ekspres.” Ucap Tuan Ernest sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke pintu kamar.
Saat sampai di depan pintu kamar, pintu kamar itu terbuka dan muncul sosok Marcel dengan wajah yang habis bangun tidur namun masih saja terlihat tampan dan keren.
“Tuan menguji apa? Apa Nyonya Ernest kondisinya memburuk lagi?” tanya Marcel mengkhawatirkan kondisi kesehatan Nyonya Ernest sebab akan ada kaitan nya dengan tugas Alamanda.
“Dia sudah membaik, aku mau uji gula darahku. Test rutin saja.” Ucap Tuan Ernest bohong
“Tadi saya dengar suara Nenek Oji, di mana dia sekarang?” tanya Marcel selanjutnya
“Hmm meskipun Tuan tidur dengan pulas tetapi tetap bisa mendengar suara Nenek Oji kalau bicara tentang jamu.” Ucap Tuan Ernest sambil tersenyum menatap wajah Marcel.
“Nenek Oji mau pulang akan membuatkan jamu buat aku.” Ucap Tuan Ernest lalu melangkah masuk ke dalam.
“Ahhh aku kira Nenek Oji datang mengantar jamu buat aku.” Gumam Marcel juga turut melangkah mengikuti Tuan Ernest.
Tampak dua anak buah Bang Bule Vincent memapah tubuh Tuan Sam yang kesulitan berjalan. Anak buah Bang Bule Vincent sudah melakukan hukuman keduanya pada Tuan Sam. Kedua kaki Tuan Sam sudah disuntik lumpuh.
“Hiks.. Hiks.. ini gara gara Leli.. gara gara perempuan itu pergi meninggalkan aku.” Ucap Tuan Sam yang menangisi nasibnya. Ditinggal pergi istri tercintanya, dia berusaha dengan segala cara untuk bisa menguasai harta sang majikan untuk balas dendam pada istrinya namun belum juga berhasil malah dia ditangkap.
Tubuh Tuan Sam didudukkan pada sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur standard. Bang Bule Vincent tetap memperlakukan tahanan secara manusiawi. Di dekat tempat tidur itu ada sebuah meja dan ada minuman dan juga satu kotak makan untuk sarapan pagi Tuan Sam.
“Sudah jangan kamu tangisi nasibmu tapi bersikaplah kooperatif agar hukuman lebih ringan. Silahkan sekarang makan. Masih untung tangan kamu tidak dibuat lumpuh. Kalau tangan kamu juga dibuat lumpuh kamu makan langsung dengan mulutmu macam binatang.” Ucap anak buah Bang Bule Vincent lalu pergi meninggalkan Tuan Sam tidak lupa mengunci pintu kamar itu.
Tuan Sam menatap dengan malas, meja yang di atasnya ada makanan dan minuman itu.
“Tidak ada gunanya aku sekarang hidup. Lebih baik aku mati saja.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil mengedarkan pandangan nya pada seluruh ruangan kamar tempat dia berada.
“Leli kalau tahu aku sekarang seperti ini pasti dia akan semakin menertawakan aku.” Gumam Tuan Sam lagi sambil matanya masih mencari cari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengakhiri hidupnya.
Sesaat mata Tuan Sam menatap gelas yang berisi air minum itu. Sebuah gelas kaca.
“Hmmm aku pecahkan gelas itu, dan bisa ku pakai untuk memutus nadiku.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil tangannya mencoba meraih gelas minum itu.
“Toh sama saja aku juga akan dihukum mati, dan kalau nasib mujur dihukum seumur hidup, sama saja.” Gumam Tuan Sam lagi yang kini tangannya sudah berhasil meraih gelas minum itu.
“Kalau mati sekarang aku tidak perlu menjawab segala pertanyaan dan tidak tahu bagaimana Leli akan menertawakan aku.” Gumam Tuan Sam sambil mengangkat gelas itu dan akan membantingnya.
Dan sesaat kemudian...
PYAAARRRRR
Gelas sukses dibanting dan pecah berkeping keping air minum pun tumpah ruah di atas lantai. Tuan Sam tersenyum masam. Lalu membungkukkan badan akan meraih satu kepingan pecahan gelas yang tampak paling tajam.