Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 30. Alamanda di Mansion Ernestan


Henry segera meraih hand phone miliknya saat dilihat pada layarnya tampak nama kontak Tuan Marcel yang sedang menghubungi dirinya. Dengan segera Henry menggeser tombol hijau.


“Bagaimana Hen?” suara Marcel terdengar sangat khawatir. Henry pun lalu melaporkan apa yang sudah terjadi pada Marcel. Dan mengatakan jika Alamanda ingin melaporkan pada pihak berwajib.


“Lakukan sekarang juga! Aku akan segera menyusul ke kantor polisi. Share lokasi kantor polisi yang kalian datangi kepada aku.” Ucap Marcel dengan nada serius dan sambungan telepon pun terhenti setelah Henry menyanggupi perintah Marcel.


Henry lalu mengajak Alamanda ke kantor polisi terdekat dan sebelumnya sudah memastikan jika seluruh tubuh Alamanda dalam kondisi baik baik saja. Dengan hati hati Alamanda memegang tas yang sudah terkena air keras itu. Mereka berdua pun berjalan menuju ke mobil. Tampak Henry mengambil kantong plastik lalu memasukkan tas Alamanda ke dalam kantong plastik itu yang sebelumnya Alamanda sudah mengambil barang barang ada di dalamnya. Mobil terus melaju menuju ke kantor Polisi. Dan mereka berdua pun segera melaporkan kasusnya dan beruntung di dua mulut gang itu ada CCTV yang bisa merekam kejadian itu.


Di saat mereka berdua masih berada di kantor polisi. Marcel dan Charlotte datang menyusul mereka. Marcel sepulang dari kantor menjemput Charlotte dan langsung pergi lagi. Jadi belum mandi.


Tampak Marcel berjalan tergesa gesa sambil menggendong Charlotte. Marcel lalu diantar oleh satu orang petugas kepolisian untuk menuju ke ruang di mana Alamanda dan Henry sedang berada. Alamanda tampak kaget saat melihat Marcel dan Charlotte datang.


“Tuan, Nona..” ucap Alamanda sambil menoleh ke arah Marcel dan Charlotte. Henry pun juga menoleh ke arah Marcel dia sangat takut jika mendapat marah dari Marcel.


“Bagaimana apa ada yang sakit di tubuhmu?” tanya Marcel saat berada di dekat Alamanda yang sedang duduk di kursi di depan Bapak polisi yang sedang mengetik berita acara.


Marcel terlihat mengamati dengan serius tubuh Alamanda dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hingga dia menyuruh Alamanda memperlihatkan telapak tangannya bolak balik.


“Benar tidak ada yang sakit?” tanya Marcel yang kini jari jari tangannya memeriksa telapak tangan Alamanda bagai dokter saja.


“Iya Tuan, saya baik baik saja.” Ucap Alamanda yang tiba tiba pipinya merona dan menarik kedua telapak tangannya yang diperiksa oleh Marcel. Charlotte yang masih digendong oleh Marcel tampak tersenyum. Dia juga senang karena Ners Alamanda memakai jaket Papanya. Sedang kaca matanya sudah dilepas dan sudah dikembalikan pada tempatnya.


Setelah mereka selesai melaporkan kasusnya. Marcel menyuruh Henry pulang dan besok kembali menjemput Alamanda. Marcel kini yang mengantar Alamanda pulang.


“Tuan, sekalian saya mau menyampaikan kabar. Jika mulai besok saya akan tinggal di Mansion Ernestan. Saya bekerja merawat Nyonya Ernest.” Ucap Alamanda yang duduk di jok depan sambil memangku Charlotte yang sejak tadi bibirnya terus tersenyum. Akan tetapi tiba tiba senyumannya terhenti setelah mendengar kalimat Alamanda baru saja. Marcel yang sedang mengemudikan mobil pun terlihat menoleh sekilas pada Alamanda dan tampak kaget hingga tidak mampu berkata kata.


“Jadi saya sudah tidak perlu pengawal.” Ucap Alamanda lagi sambil menoleh menatap Marcel sambil mengusap usap rambut kepala Charlotte. Marcel dan Charlotte hanya diam saja, yang sejujurnya mereka berdua tidak rela jika Alamanda tinggal di Mansion Ernestan.


“Ners kenapa bekerja di sana?” tanya Charlotte dengan nada sedih.


“Nona, Nyonya Ernest sedang sakit dan membutuhkan perawat yang tinggal di sana, seperti Nona Charlotte waktu sakit dulu.” Ucap Alamanda dengan nada lembut sambil mengusap usap rambut kepala Charlotte.


“Ners aku tidak merasa memberi pinjaman pada keluarga Ners Alamanda. Jadi jangan pikirkan untuk membayar pinjaman itu.” Ucap Marcel selanjutnya. Alamanda terlihat diam terpaku.


“Saya takut jika suatu saat Nyonya Hanson tahu dan akan marah pada saya.” Ucap Alamanda selanjutnya.


“Ners Alamanda tidak usah takut...” ucap Charlotte sambil menoleh dan mendongak menatap Alamanda dan Alamanda masih terus mengusap usap rambut kepala Charlotte.


Mobil terus melaju untuk mengantar pulang Alamanda, mobil berhenti di tanah kosong milik Pak Er Te. Marcel dan Charlotte pun mengantar Alamanda sampai depan rumahnya dan pulangnya Marcel dan Charlotte diantar lagi oleh keluarga Irawan sampai di mulut gang. Ah jadi antar mengantar di antara mereka, begitulah jika memiliki rumah yang tidak bisa dilalui oleh mobil.


Keesokan paginya. Alamanda masih dijemput oleh Henry. Dan untuk urusan dengan laporan ke polisi Alamanda menyerahkan pada Henry. Sesampai di rumah sakit. Alamanda sudah ditunggu oleh Dokter Willy di ruang kerjanya.


Alamanda dengan membawa travel bag kecil seperti yang dulu dia bawa saat ke Mansion Hanson terus berjalan dengan langkah cepat menuju ke ruang kerja Dokter Willy .


Saat dia akan mengetuk pintu ruang Dokter Willy, pintu sudah terbuka dan muncul sosok Dokter Willy yang sudah siap untuk berangkat.


“Ayo Ners, Tuan Ernest sudah menanyakan terus kita sampai di mana. Terjadi salah paham maksudku jam tujuh pagi dari rumah sakit. Dikira Tuan Ernest jam tujuh pagi sudah sampai sana.” Ucap Dokter Willy sambil melangkah dengan cepat menuju ke tepat parkir mobil.


Mobil yang dikemudikan oleh Dokter Willy itu terus berjalan meninggalkan rumah sakit menuju ke Mansion Ernestan. Alamanda yang duduk di samping jok kemudi itu hatinya berdebar debar karena akan memulai suatu pekerjaan yang baru. Apalagi pasiennya orang tua dengan tingkat emosi yang tinggi.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman suatu mansion yang tidak kalah megah dan luasnya dari Mansion Hanson. Jantung Alamanda berdetak lebih keras dan cepat. Mobil berhenti di dekat pintu utama Mansion Ernestan.


Dokter Willy dan Alamanda segera membuka pintu mobil dan dengan langkah cepat dua orang itu segera melangkah menuju ke pintu utama. Sebelum menekan bel pintu sudah dibuka oleh seorang pelayan perempuan setengah baya. Tampak pelayan itu kaget saat melihat Alamanda.


“Kok, sangat mirip...” gumam Sang pelayan dalam hati masih dengan ekspresi wajah melongo. Dokter Willy yang melihat itu mengernyitkan dahinya.


“Kenapa Bu kaget Perawatnya cantik sekali?” tanya Dokter Willy yang sudah sering berkunjung ke Mansion itu.


“Iya Dok, mari silakan masuk sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya.” Ucap Sang pelayan lalu menutup pintu setelah Dokter Willy dan Alamanda masuk ke dalam Mansion. Sang pelayan itu masih terus mengamati tubuh Alamanda dari belakang sambil membanding badingkan pada seseorang.


“Cara jalannya juga sangat mirip. Tuan dan Nyonya pasti juga sepemikiran sama aku.” Gumam Sang pelayan paruh baya itu sambil terus berjalan di belakang Alamanda.