
“Memangnya sepeda ini bisa terbang. Ada ada saja. Sudah kita pulang saja, kamu pinjam telepon Maknya Alamanda.” Ucap Kakek Oji lalu dia mengayuh sepedanya untuk ke rumah orang tua Alamanda.
Waktu pun terus berlalu. Di mansion Ernestan. Mobil Bang Bule Vincent sudah memasuki halaman Mansion Ernestan.
Para pelayan dan karyawan menyambut Tuan dan Nyonya Ernest dengan banyak laporan tentang kejadian di Mansion selama Tuan dan Nyonya Ernest berada di rumah sakit menurut pemahaman mereka semua.
Tuan Ernest dan Bang Bule Vincent segera melangkah menuju ke Mansion tempat kamar Tuan Sam berada. Sedangkan Nyonya Ernest sudah lebih dulu dibawa ke Mansion utama dan sudah diurusi oleh Eveline dan Ibu pelayan senior.
Tuan Ernest yang sudah membawa kunci duplikat kamar Tuan Sam itu segera membuka pintu kamar. Tuan Ernest segera melangkah masuk dan Bang Bule Vincent mengikuti dari belakang.
Pandangan mata Bang Bule Vincent langsung tertuju pada meja yang berada di dalam kamar itu. Di atas meja itu tergeletak sebuah pisau kecil yang tampak sangat tajam.
“Hmmm itu sepertinya pisau yang dia gunakan untuk membunuh anak kucing dan tikus.” Ucap Bang Bule Vincent dan Tuan Ernestan tampak setuju.
Pandangan mata Bang Bule Vincent selanjutnya pada sebuah pigura foto di atas meja itu yang kini sedang diambil oleh Tuan Ernest.
“Ini foto yang aku maksud. “ ucap Tuan Ernest sambil memegang satu buah pigura foto ukuran 10 R, foto seorang laki laki muda menggendong bayi perempuan kira kira berusia satu tahun lebih dan seorang perempuan muda berdiri di sampingnya.
“Tuan, apa boleh saya buka pigura itu dan saya lihat mungkin ada informasi di balik foto itu.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Silakan.” Ucap Tuan Ernest sambil menyerah kan pigura foto keluarga kecil Tuan Sam itu.
Bang Bule Vincent menerima pigura foto itu dan selanjutnya dia mengutak atik bagian belakang pigura foto tersebut dan tidak lama kemudian, pigura foto itu terbuka. Dengan tidak sabar Bang Bule Vincent mengambil satu lembar foto yang ada di dalam nya itu.
“Aku juga baru kali ini saja memegang pigura foto ini.” Ucap Tuan Ernestan yang juga penasaran apa ada informasi di belakang foto itu.
Sesaat kemudian Tuan Ernest dan Bang Bule Vincent melihat ada tulisan tangan di balik foto itu.
.... Leli Arzeti istriku dan Millie Amelia puteri ku tercinta.....
Sam.
“Dua puluh tiga tahun lalu.” Gumam Bang Bule Vincent.
“Iya setelah foto itu dibuat kata Sam tidak lama kemudian istri dan anaknya pergi.” Ucap Tuan Ernest setelah membaca tulisan itu.
“Sebenarnya kasihan juga Tuan Sam. Saya bisa berempati bagaimana sedih dia saat itu ditinggal oleh istri dan anak tercinta. Saya yang baru saja punya anak setiap detik rindu pada dia, ingin rasanya selalu mendekap tubuh mungilnya.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada sendu
“Ahhh maaf Tuan saya malah jadi melow ingat Arendo anak saya...” ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sambil tersenyum
“Tidak apa apa Bang, saya malah senang tapi juga harus selalu ingat istri ya.. “ ucap Tuan Ernest sambil menepuk nepuk pundak Bang Bule Vincent.
“Tentu itu Tuan, baiklah saya repro foto keluarga ini lalu saya kirim ke Millie dan Marcel siapa tahu Nyonya Hanson bisa membujuk Nyonya Leli.” Ucap Bang Bule Vincent lalu menaruh satu lembar foto keluarga Tuan Sam itu dan kamera hand phone milik nya dia arahkan pada foto itu sedemikian rupa agar menghasilkan foto yang bagus dan tidak lupa juga memotret bagian belakang yang berisi keterangan.
Setelah mendapatkan dua foto yang sesuai dengan keinginan nya. Bang Bule Vincent segera mengirim dua foto itu pada nomor hand phone milik Millie dan juga kontak nama Marcellino Hanson.
Bang Bule Vincent dan Tuan Ernestan pun segera keluar dari kamar itu. Tidak lupa Bang Bule Vincent mengambil pisau dan beberapa barang bukti yang dibutuhkannya.
Sementara itu, masih di Mansion Ernestan akan tetapi di beda lokasi. Ibu pelayan tampak gelisah.
“Ayo antar aku lihat Comel!” perintah Nyonya Ernest pada Eveline dan Ibu pelayan senior.
“Ehhhmm nanti saja Nyonya, mungkin Comel sedang tidur. Kasihan terganggu tidurnya.” Ucap Ibu pelayan berusaha untuk menunda. Dia sih siap jika kena marah akan tetapi justru tidak siap jika Nyonya Ernest tensi nya naik lagi.
“Aku mau sekarang, aku sudah kangen dengan Comel.” Ucap Nyonya Ernest yang tetap keukeuh ingin melihat Comel anak kucing kesayangan nya.
“Ayo Nona Eveline antar aku.” Ucap Nyonya Ernest sambil menoleh ke arah Eveline yang kini memegang pendorong kursi roda nya. Eveline pun segera menjalankan perintah Nyonya Ernest, mendorong kursi roda itu untuk menuju ke taman belakang tempat kandang Comel berada.
“Kalau kamu sibuk tidak usah ikut tidak apa apa.” Ucap Nyonya Ernest kemudian sambil menoleh menatap Ibu pelayan, yang masih berdiri mematung.
“Saya ikut Nyonya..” ucap Ibu pelayan lalu berjalan di belakang Eveline. Sambil berjalan, tangan ibu pelayan menjawil jawil punggung Eveline karena khawatir Nyonya Ernest tahu yang ada di kandang adalah Comel KW.