Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 121.


Bang Bule Vincent yang sudah berdiri di depan Tuan Sam itu mengepalkan tangannya dengan kuat dan terangkat ke atas, sebatas dada dengan gerakan akan menonjok kepala Tuan Sam. Tuan Sam sudah bersiap siap untuk memundurkan kepalanya. Akan tetapi tiba tiba Bang Bule Vincent mengurungkan niatnya.


“Hmm kamu beruntung, aku sedang tidak ingin mengotori tanganku yang sekarang setiap hari ku pakai untuk menimang nimang anakku.” Ucap Bang Bule Vincent yang sudah menurunkan tangannya.


Bang Bule Vincent lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Tuan Sam dan mendatangi anak buahnya yang tadi bertugas membawa Tuan Sam. Bang Bule Vincent menerima hand phone milik Tuan Sam yang sudah berhasil disita oleh anak buahnya.


Tampak Tuan Sam yang duduk di kursi menatap mereka dengan mata melirik.


“Hmmm untung sudah aku amankan data data nya.” Gumam Tuan Sam dalam hati, sambil berpikir pikir untuk lepas dari ikatan dan keluar dari Markas Bang Bule Vincent. Kedua tangan Tuan Sam yang diikat di belakang pun bergerak gerak terus berusaha agar terlepas ikatannya.


Namun tidak lama kemudian tampak seorang anak buah Bang Bule Vincent lainnya datang dengan membawa satu buah jarum suntik yang di dalamnya sudah diisi obat untuk mengurangi hasrat atau fungsi sexual. Mata Tuan Sam melotot melihatnya dan gerakan tangannya terhenti kini dia berusaha mengangkat pantatnya karena secara reflek dia ingin berlari akan tetapi dia sia saja semua itu tidak bisa dia lakukan. Sebab tubuhnya terikat kuat pada kursi besi yang sudah terpatri di tempat.


“Bang yang sementara kosong ini yang permanen. Bagaimana? Di eksekusi sekarang atau besok menunggu yang obat kebiri sementara datang?” tanya anak buah Bang Bule Vincent sambil menatap Bang Bule Vincent yang sedang serius mengotak atik hand phone milik Tuan Sam.


Tuan Sam yang mendengar berdebar debar jantungnya dan berharap, hati Bang Bule Vincent melunak menggagalkan eksekusi malam ini.


“Lakukan sekarang!” perintah Bang Bule Vincent.


“Tuan, tolong.. ingat jangan kotor tangan Anda...” suara Tuan Sam dengan bergetar karena ketakutan.


“Ha... ha... ha... kamu bisa omong seperti itu .. Yang melakukan bukan tanganku Tuan, tapi tangan dia ha... ha... ha.. “ suara Bang Bule Vincent sambil tertawa.


“Dan besok pagi lakukan hukuman ke dua karena dia sudah membunuh binatang kesayangan Nyonya Ernest.” Perintah Bang Bule Vincent selanjutnya. Bang Bule Vincent lalu berjalan meninggalkan ruang itu. Dia akan segera kembali ke Mansion Willam sebab anak dan istrinya masih harus tinggal di sana demi kesehatan dan kebaikan anak Bang Bule Vincent yang masih bayi merah. Bang Bule Vincent akan melacak dan membongkar data data Tuan Sam yang sudah dilindungi oleh Tuan Sam.


“Tuan Bule... tolong jangan lakukan pada saya.. Maafkan saya... ampunnn Tuan, saya melakukan ini semua karena saya dikhianati oleh isteri saya yang lari pada laki laki kaya meninggalkan saya yang hanya sebagai asisten di keluarga Ernestan ...” teriak Tuan Sam akan tetapi Bang Bule Vincent terus melangkah dan tidak menoleh.


Dan Tuan Ernest pun tidak jadi memecat Marcel sebagai cucu menantu, sebab saat tadi Tuan Ernest masuk ke dalam kamar tidur, tidak mendapati sosok Alamanda, Tuan Ernest sudah paham akan hal itu. Apalagi saat dia menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi terdengar suara Marcel yang mengerang merasa kenikmatan.


“Hmmm semoga Alamanda segera hamil seperti keinginan Nenek Oji, aku pun juga ingin segera punya cicit.” Gumam Tuan Ernestan dalam hati.


Sesaat terdengar suara ketukan pintu. Tuan Ernest pun segera melangkah menuju ke pintu untuk membuka pintu itu. Sebab dia sudah janjian dengan Dokter Willy.


“Selamat pagi Tuan, saya akan mengambil sample rambut itu. Dan saya akan langsung ke rumah sakit untuk membawa ke laboratorium agar bisa segera diuji.” Ucap Dokter Willy saat pintu sudah terbuka.


“Bagus, aku harap hari ini aku bisa langsung mendapatkan hasilnya.” Ucap Tuan Ernest sambil mengambil bungkusan sample rambut Alamanda dari saku baju piamanya.


“Saya juga butuh sample rambut Tuan dan Nyonya Ernest. “ ucap Dokter Willy saat menerima satu bungkusan kecil dari tangan Tuan Ernest. Dokter Willy lalu membuka tas kerjanya dan memberikan dua plastik kecil berlabel.


“Ahhh iya aku lupa, istriku sepertinya masih tidur.” Ucap Tuan Ernest sambil menerima dua plastik kecil dari Dokter Willy.


“Tuan saja tidak apa apa, tapi jika DNA Nyonya Ernest juga sebagai pembanding akan semakin menguatkan bukti jika pihak lain ada yang meragukannya.” Ucap Dokter Willy.


“Okey okey.. Kamu tunggu di luar saja, biar Tuan Marcel kalau bangun tidak curiga.” ucap Tuan Ernest lirih lalu segera masuk ke dalam kamar dan melangkah dengan cepat menuju ke kamar tidur sang istri.


Saat memasuki kamar tidur telinga Tuan Ernest sudah mendengar suara Charlotte dan istrinya sedang berbicara.


“Hmmm anak itu sangat kritis aku harus alasan apa untuk meminta sample rambut istriku.” Gumam Tuan Ernest dalam hati.