
“Selamat pagi semua...” ucap Tuan Ernest sambil melangkah masuk.
“Selamat pagi Opa Ernest..” suara lantang Charlotte yang masih berbaring di atas tempat tidur bersama Nyonya Ernestan.
“Selamat pagi Tuan.” Ucap Alamanda yang melangkah dari kamar mandi karena harus menyiapkan segala sesuatunya untuk mandi Nyonya Ernest dan Charlotte, meskipun dia sangat mengantuk akan tetapi harus bangun untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai perawat Nyonya Ernest dan sebagai seorang Mama.
Tuan Ernest tampak mendekati istrinya, pandangan matanya menatap gunting yang ada di atas nakas.
“Mari Nyonya katanya mau buang air kecil sekalian mandi ya.. “ ucap Alamanda selanjutnya sambil menyiapkan kursi roda Nyonya Ernest.
“Aku mandi setelah Oma Ernest ya Ma...” ucap Charlotte sambil menatap Alamanda yang kini mulai membantu Nyonya Ernest pindah ke kursi roda.
“Bagaimana kalau Nona Charlotte yang mandi lebih dulu. “ ucap Tuan Ernest agar mendapat kesempatan berdua dengan Sang istri.
“Aku belakangan tidak apa apa Opa Ernest bukannya Oma Ernest ingin buang air kecil, kasihan kalau lama ditahan bisa sakit perut.” Ucap Charlotte dengan suara imutnya dan bibir mengerucut ke depan.
“Hmmm..” gumam Tuan Ernestan sambil garuk garuk kepala.
Sedangkan Alamanda segera mendorong kursi roda Nyonya Ernestan menuju ke kamar mandi.
Akan tetapi tiba tiba Tuan Ernestan muncul suatu ide. Tuan Ernest segera membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan cepat menuju ke kursi roda yang didorong oleh Alamanda.
“Aku juga ingin buang air kecil. Biar perutku tidak sakit.” Ucap Tuan Ernest sambil merebut pegangan kursi roda dari tangan Alamanda dan selanjutnya Tuan Ernest mendorong kursi roda itu menuju ke kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandi itu.
Alamanda tampak bengong karena kaget.
“Apa mereka berdua juga akan melakukan enak enakan di kamar mandi seperti aku dan Kak Marcel.” Gumam Alamanda dalam hati
“Tapi apa kuat Tuan Ernest memindah tubuh Nyonya Ernest dari kursi roda ke bath up..” gumam Alamanda lagi.
“Haduh bagaimana kalau malah terjatuh..” gumam Alamanda lagi lalu dia cepat menuju ke pintu kamar mandi.
TOK TOK TOK TOK
“Mama mau bantu Tuan Ernest buang air kecil?” tanya Charlotte sambil mengerutkan dahinya menatap Sang Mama akan tetapi dia segera sibuk lagi dengan tabletnya.
“Bukan Sayang.. membantu menurunkan Nyonya Ernest..” ucap Alamanda sambil masih mengetuk ngetuk pintu.
Sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tampak sosok Tuan Ernest berdiri dengan senyum puas. Sebab dia sudah mengambil beberapa helai rambut Sang istri dengan cara dicabut karena tidak membawa gunting.
“Tolong segera bantu Oma Ernest ya...” ucap Tuan Ernest sambil tersenyum manis pada Alamanda yang masih tampak bengong. Ingin rasanya Tuan Ernest mencubit pipi Alamanda atau mengacak acak puncak kepala Alamanda karena gemas melihat wajah bengong sang cucu yang belum diproklamirkan itu.
Tuan Ernest terus melangkah pergi dari kamar tidur itu dan tidak lupa mencium Charlotte lebih dulu karena begitu bahagianya dia sudah sukses mendapatkan sampel rambut Sang Isteri.
Saat keluar dari kamar tidur tampak Marcel masih tertidur dengan pulas namun kini dia sudah pindah tempat di ekstra bed dengan posisi memeluk guling dengan sangat posesif. Tuan Ernest hanya bisa geleng geleng kepala.
Tuan Ernest terus melangkah menuju ke pintu dan segera memberikan sample rambut Sang istri pada Dokter Willy. Tampak Dokter Willy menerima dan menulis kode pada label di plastik kecil itu.
“Rambut Tuan malah belum.” Ucap Dokter Willy pada Tuan Ernestan.
“Ahhh iya, lupa lagi maklum orang tua...” ucap Tuan Ernest yang akan masuk untuk mengambil gunting akan tetapi dia batalkan dia akan mencabut beberapa helai rambut nya saja seperti yang dia lakukan pada Sang istri.
“Sakit sebentar demi suatu kebahagiaan yang hakiki...” ucap Tuan Ernest sambil menarik satu helai rambutnya dan tampak lebih susah dari pada mencabut rambut Sang istri yang panjang.
Akan tetapi saat baru sukses menarik satu helai rambutnya dan dia masukkan ke dalam plastik kecil berlabel. Terdengar derap suara langkah kaki mendekat. Tuan Ernest menoleh ke arah sumber suara itu, tampak keluarga Irawan datang dengan formasi yang lengkap. Kakek dan Nenek Oji, Bapak dan Ibu Irawan juga Jasmine dan Iqbal.
“Selamat Pagi Tuan Ernest dan Tuan Dokter. “ ucap mereka semua saat sudah berada di dekat Tuan Ernest dan Dokter Willy. Tuan Ernest tampak menghentikan kegiatannya dan tangannya masih memegang plastik kecil yang berisi satu helai rambutnya. Jasmine dan Iqbal terlihat menatap apa yang dibawa oleh Tuan Ernest itu dan selanjutnya dua anak sekolah itu menatap Dokter Willy pandangan keduanya pun pada plastik kecil yang dipegang oleh Dokter Willy.
“Salamat pagi semua, apa kalian sudah sarapan? Kalian semua sudah rapi.” Ucap Tuan Ernest menetralkan suasana hatinya yang kaget karena kedatangan keluarga Irawan di pagi pagi di luar dugaan nya.
“Sudah Tuan, kami mau pamit pagi ini. Meskipun jadwal check out buat kami siang hari. Karena Jasmine dan Iqbal mau sekolah. Saya mau kulakan, istri saya mau membuka warungnya.” Ucap Bapak Irawan dengan santun.
“Kalau saya mau buat jamu pesanan Tuan cucu mantu dan Nona Kecil.” Saut Nenek Oji dengan senyum lebar.
“Tadi saya lihat dari jauh kok Tuan mencabut rambut, apa Tuan sedang sakit kepala? Nanti saya buatkan jamu sakit kepala Tuan.” Ucap Nenek Oji selanjutnya dan juga menatap plastik kecil yang dipegang oleh Tuan Ernest.