Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 58.


“Selesaikan dulu makan kamu.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap Marcel akan tetapi Marcel sudah terlanjur sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya.


Marcel menghubungi kontak nama Bang Bule Vincent, detektif swasta yang sudah dia kenal dengan baik. Kakak kelasnya waktu sekolah dulu. Terhubung kembali saat mereka datang di acara reuni antar kelas.


“Kok tidak diterima padahal ada nada sambung.” Gumam Marcel sambil masih menunggu sambungan panggilan videonya diterima oleh Bang Bule Vincent.


“Apa aku bilang habiskan dulu makan kamu itu, mungkin teman kamu itu juga sedang sibuk makan.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap Marcel, dan akhirnya Marcel pun membatalkan panggilan video nya pada Bang Bule Vincent lalu dia melanjutkan menghabiskan makannya.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah selesai makan. Tuan Ernest tampak mengangguk anggukkan kepalanya menikmati lebarnya masakan Alamanda.


“Makanya Bos Muda yang sudah patah hatinya ini kini sudah mulai bisa tersenyum ternyata sudah ada seorang wanita yang memikat perutnya....” gumam Tuan Ernest sambil melirik ke arah Marcel lalu ke arah Alamanda tampak pipi mulus Alamanda merona karena malu.


“Dari perut pindah ke hati.” Gumam Tuan Ernest selanjutnya.


“Tidak juga Tuan, tidak semata mata karena urusan perut. Serius saya jatuh hati pada Ners Alamanda karena dia sangat sabar dan tulus merawat Charlotte.. kalau dia ternyata pintar memasak itu bonus he... he.... “ ucap Marcel sambil tertawa kecil lalu menatap Alamanda dengan tatapan penuh kekaguman dan cinta.


“Hmmm sekalian saja saya ucapkan sekarang. Begini Mama saya sudah membaik kesehatannya. Saya rencana mau melamar Alamanda...” ucap Marcel selanjutnya yang membuat jantung Alamanda berdebar debar bahagia.


“Saya ikut senang...” saut Tuan Ernest.


“Terima kasih Tuan, dan saya mohon bantuan dari Tuan dan Nyonya Ernest untuk memberi izin pada Alamanda saat acara lamaran. Saya akan usahakan agar Dokter Willy mencarikan ganti perawat untuk mengurus Nyonya Ernest.” Ucap Marcel selanjutnya.


“Aku izinkan akan tetapi kamu langsung saja omong pada istriku. Dan jangan lupa kamu sudah selesai makan, segera hubungi teman kamu yang detektif itu.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap tajam ke arah Marcel.


“Baik baik...” ucap Marcel selanjutnya lalu dia menghabiskan air minumnya dan selanjutnya dia meraih lagi hand phone miliknya untuk menghubungi Bang Bule Vincent. Sementara Alamanda tampak membereskan meja makan dengan hati yang bahagia karena akhirnya Nyonya Hanson mau untuk melamarkan dirinya untuk Marcel. Sebab syarat dari orang tuanya harus Nyonya Hanson sendiri yang melamar.


Dan sesaat kemudian panggilan video pada Bang Bule Vincent pun sudah diterima.


“Bang kamu kenapa?” tanya Marcel saat melihat rambut Bang Bule Vincent acak acakan dan wajah Bang Bule Vincent tampak sangat lelah apalagi tampak Bang Bule Vincent sedang berada di rumah sakit.


“Apa Cel, aku kira orang tuaku yang menghubungi aku ternyata kamu.” Ucap Bang Bule Vincent tampak ekspresi wajahnya tidak tenang.


“Istriku mau melahirkan. Cepat katakan itu istriku sudah memanggil manggil aku lagi.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sebab memang terdengar sayup sayup suara perempuan memanggil manggil Bang Bule.


“Okey.. okey.. nanti saja Bang Bule Vincent menghubungi aku kalau anak Bang Bule Vincent sudah lahir.” Ucap Marcel lalu dia memutus sambungan panggilan video nya dengan Bang Bule Vincent sebab dia yang sudah pernah menunggui istrinya melahirkan bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Bang Bule Vincent sekarang.


“Maaf Tuan, belum beruntung...” ucap Marcel sambil menaruh lagi hand phone miliknya pada saku jasnya.


“Tidak apa Anak Muda.” Ucap Tuan Ernest yang bisa memahami dan memaklumi keadaan, baginya saat ini yang penting dia dan istrinya sehat, perusahaan masih bisa bertahan.


“Nanti akan saya hubungi Bang Bule Vincent lagi Tuan. Semoga anaknya segera lahir.” Ucap Marcel kemudian. Selanjutnya dua orang laki laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sofa. Marcel lalu mengatakan pada Nyonya Ernest untuk memintakan izin buat Alamanda bila saat acara lamaran tiba. Hal itu justru membuat Nyonya Ernest bahagia.


“Aku izinkan dan aku akan ikut datang ke rumah Ners Alamanda. “ ucap Nyonya Ernest sambil tersenyum sebab dia berpikir itu justru kesempatan dirinya untuk mengenal keluarga Alamanda.


Alamanda yang baru saja datang setelah selesai beres beres meja makan tampak khawatir karena kondisi rumah yang tidak layak untuk didatangi oleh Tuan dan Nyonya Ernest.


“Tapi Nyonya, rumah orang tua saya sangat jelek..” ucap Alamanda sambil mendudukkan di sofa.


“Tidak masalah nanti gampang bisa kembali ke sini atau kalau aku capek bisa menginap di hotel yang paling dekat dengan rumah kamu. Kamu dan orang tua kamu tidak usah repot repot.” Ucap Nyonya Ernest yang juga tidak ingin merepotkan keluarga Alamanda. Tuan Ernest yang mendengar keinginan istrinya tersenyum sebab dia tahu pasti istrinya ingin mengulik tentang Alamanda yang sangat mirip dengan Debora.


“Baiklah kalau Tuan dan Nyonya Ernest memberikan izin, saya tinggal menyiapkan semuanya, saya akan booking hotel yang dekat dengan rumah Alamanda untuk Tuan dan Nyonya Ernest juga untuk keluarga saya.” Ucap Marcel sambil tersenyum senang.


“By the way, kamu memang ingin dilamar pakai kambing macam Juragan Darman kemarin?” tanya Marcel dengan nada serius, sebab dia waktu melamar Patricia tidak membawa kambing.


“Tidak Tuan, yang terpenting membawa hati penuh cinta yang tulus... he... he...” ucap Alamanda sambil tertawa kecil.


“Selevel Tuan Marcel jangan kambing dong.. “ ucap Tuan Ernest sambil tersenyum melihat Marcel yang tampak masih bingung. Sebab dulu saat melamar Patricia, Sang Mama dan Patricia sendiri yang berbelanja dan tentunya memakai uang dari Marcel.


“Jangan kamu bingung Anak Muda, calon istri mu sudah mengatakan yang penting kamu membawa cinta yang tulus, apapun yang kamu bawa kalau itu disertai hati yang tulus akan membuat bahagia yang menerimanya.” Ucap Nyonya Ernest sambil tersenyum dia teringat masa lalu yang sudah puluhan tahun saat melamar Debora untuk Archie anak laki laki satu satunya. Air mata Nyonya Ernestan pun tiba tiba meleleh. Tuan Ernest yang melihat istrinya meneteskan air mata segera bangkit berdiri dan mendekat pada isterinya.


“Ayo kita masuk ke dalam kamar, siapa tahu dua orang ini ingin membicarakan hal penting yang tidak ingin kita dengar.” Ucap Tuan Ernest lalu mendorong kursi roda istrinya menuju ke kamar tidur. Membiarkan dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu berdua.