
“Ma, di mana Charlotte, saya ingin melihat dirinya, saya ingin bicara pada nya.” Ucap Marcel saat sambungan panggilan video dengan Nyonya Wijaya sudah terhubung. Tampak di layar hand phone milik Marcel, wajah Nyonya Wijaya yang tampak kaku dan di layar belakangnya dinding rumah sakit. Marcel sudah hafal jika itu adalah dinding apotik yang berada di dalam lokasi rumah sakit.
“Charlotte sama Nanny sudah ke mobil, ini aku baru mengambil obat.” Ucap Nyonya Wijaya.
“Bagaimana kondisi Charlotte, apa kata Dokter Willy?” tanya Marcel yang sangat mengkhawatirkan kondisi puteri semata wayangnya.
“Tadi sudah diberi suntikan, ini dikasih resep obat demam dan vitamin jika besok sore masih demam Dokter Willy akan datang lagi memeriksa.” Jawab Nyonya Wijaya.
“Semoga saja demam biasa karena masuk angin dan pergantian suhu.” Ucap Nyonya Wijaya lagi
“Ma, tolong bawa Charlotte ke Mansion Hanson.” Ucap Marcel selanjutnya yang ingin segera bisa berkumpul dengan Charlotte apalagi kondisi anaknya itu sedang sakit.
“Iya... iya... ini aku sudah dipanggil untuk ambil obat Charlotte.” Ucap Nyonya Wijaya memang Marcel pun mendengar sayup sayup suara petugas apotik rumah sakit memanggil Nona Charlotte Hanson.
Sambungan panggilan video dengan Nyonya Wijaya terputus. Marcel pun lalu menghubungi nomor tablet milik Charlotte akan tetapi tidak aktif. Marcel lalu menghubungi nomor hand phone milik Sang pengasuh Charlotte.
“Nanny aku ingin melihat wajah Charlotte dan aku ingin mendengar suaranya.” Suara Marcel setelah Sang pengasuh menerima panggilan video nya
“Ini Tuan, Nona Charlotte tidur.” Suara sang pengasuh Charlotte sambil mengarahkan kamera depan pada wajah Charlotte yang tidur dalam pangkuannya.
“Apa sudah dingin tubuhnya?” tanya Marcel yang melihat wajah Charlotte tidur namun ekspresi wajah Charlotte tampak sedih tidak ada lengkung senyuman di bibir mungil nya.
“Setelah mendapat suntikan dari Dokter Willy sudah tidak demam dan dia tertidur.” Jawab Sang pengasuh. Marcel pun lalu memutus sambungan panggilan video nya.
Marcel sedikit lega, karena dia pun berharap Charlotte hanya demam biasa dan dia lega karena Nyonya Wijaya akan membawa Charlotte ke Mansion Hanson.
Marcel segera masuk ke dalam mobilnya, dan dia pun melajukan mobil dengan kecepatan penuh menuju ke Mansion Hanson. Dia pikir kalau pergi ke rumah sakit sekarang juga tidak akan bertemu dengan Charlotte pasti jika dia sampai di rumah sakit mereka sudah pulang.
Beberapa menit kemudian mobil Marcel sudah memasuki halaman Mansion Hanson. Marcel menghentikan mobil di dekat pintu utama. Dia segera melangkah menuju ke pintu utama.
“Segera siapkan kamar Charlotte dan buatkan masakan kesukaan Charlotte!” perintah Marcel pada kepala pelayan yang kebetulan sedang lewat d dekat pintu utama.
“Apa Nona Charlotte akan pulang ke sini sekarang Tuan?” tanya kepala pelayan yang bertubuh gemuk itu.
“Iya, sebentar lagi akan datang. Aku akan memberi kabar pada Mama. Charlotte sakit!” Ucap Marcel selanjutnya lalu tampak Marcel berjalan dengan cepat menuju ke kamar Nyonya Hanson. Sedang kepala pelayan saat mendengar kalimat Charlotte sakit tampak kaget dan langsung tergopoh gopoh untuk melaksanakan perintah Tuan Marcel.
“Ma...” suara Marcel agak keras karena tidak melihat sosok Sang Mama di dalam kamar itu.
“Mama di mana?” teriak Marcel sambil berjalan menuju ke kamar mandi, apa tetapi Marcel tetap tidak mendapat jawaban.
Marcel mengetuk ngetuk pintu kamar mandi itu berkali kali, dan tetap tidak mendapat jawaban dari Sang Mama. Marcel pun lantas membuka pintu kamar mandi itu dan ternyata kosong tidak ada sosok Sang Mama yang dia cari. Marcel segera melangkah menuju ke pintu kamar Nyonya Hanson dan melangkah keluar dari kamar itu.
“Di mana Mama?” tanya Marcel saat ada seorang pelayan yang lewat di dekatnya.
“Mungkin di taman samping atau taman belakang Tuan atau taman depan.” Jawab Sang pelayan itu dengan ekspresi wajah yang tampak ragu ragu dan takut takut apa lagi melihat wajah Marcel yang tampak kaku.
“Ah jawaban tidak jelas.” Ucap Marcel lalu dia mengambil hand phone dari saku jas nya untuk menghubungi sang Mama .
“Baru juga tadi pagi wajah Tuan Marcel berseri seri penuh senyuman jam segini pulang sudah beda tidak ada lagi senyum.” Gumam pelayan itu dalam hati sambil menatap punggung Marcel yang telah berlalu untuk menemui Nyonya Hanson yang sedang berada di taman samping.
“Marcel mana Charlotte?” tanya Nyonya Hanson saat melihat Marcel melangkah tergopoh gopoh seorang diri tanpa Charlotte, sebab tadi pagi Marcel sudah memberi tahu pada Sang Mama kalau dia akan menjemput Charlotte.
“Ma, Charlotte sakit, sudah di bawa Mama Wijaya ke rumah sakit sebentar lagi dia akan sampai ke sini.” Ucap Marcel saat sudah berada di dekat Sang Mama yang sedang duduk di kursi taman.
“Hah? Cucuku kenapa bisa sakit lagi? Bukannya dia sudah sembuh total setelah dioperasi sudah tidak ada lagi sel kanker nya.” teriak Nyonya Hanson yang kini sangat khawatir jika Charlotte sakit sebab Charlotte adalah cucu dari menantu keluarga terpandang satu satunya sebab dia sudah tidak lagi akan mendapatkan cucu dari rahim wanita keluarga terpandang lagi.
“Dan kamu kenapa malah ke sini tidak menjemput Charlotte di rumah sakit?” suara Nyonya Hanson lagi dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke wajah Marcel.
“Ma, mereka tadi sudah selesai periksa sudah mengambil obat dan akan pulang. Kalau aku ke rumah sakit ya sama saja tidak ketemu Charlotte. Ayo sekarang kita ke depan kita tunggu mereka di sana.” Ajak Marcel sambil menarik tangan Sang Mama. Nyonya Hanson pun segera bangkit berdiri.
“Semoga Charlotte hanya demam biasa Ma.” Ucap Marcel saat sudah melangkah di samping sang Mama menuju ke ruang depan untuk menunggu Charlotte datang.
Akan tetapi Marcel dan Nyonya Hanson sudah menunggu selama setengah jam lebih, Nyonya Wijaya dan Charlotte juga tidak juga muncul muncul.
“Harusnya sudah sampai sini Ma.” Ucap Marcel yang mulai gelisah.
“Mungkin macet lalu lintas. Kamu telepon saja mereka.” Ucap Nyonya Hanson yang sudah tidak sabar.