
“Tuan Sam, apa yang akan dia lakukan pada kamar Tuan dan Nyonya.” Gumam pemilik sepasang mata itu di dalam hati.
“Aku tanya langsung apa aku amati saja dari sini.” Gumam pemilik sepasang mata itu lagi.
“Hmmm aku lihat saja dari sini.” Gumamnya lagi sambil terus mengawasi gerak gerik Tuan Sam yang berdiri di depan pintu kamar Nyonya dan Tuan Ernest. Keberadaan yang berjarak beberapa meter dan terhalang oleh dinding suatu ruangan tidak terlihat oleh Tuan Sam yang sedang sibuk berusaha membuka pintu kamar Tuan dan Nyonya Ernest.
Beberapa saat kemudian, sepasang mata yang mengintai gerak gerik Tuan Sam itu mendadak melotot sebab melihat Tuan Sam mengeluarkan sebuah obeng kecil dari saku celana panjangnya dan baru saja untuk mencongkel pintu kamar itu.
“Ini tidak bisa dibiarkan, sepertinya maksudnya tidak baik!” gumam pemilik sepasang mata itu lalu dia melangkah dengan cepat menuju ke tempat Tuan Sam berdiri.
TAP! TAP! TAP!
Pemilik satu pasang mata itu melangkah dengan cepat hingga suara langkahnya terdengar oleh Tuan Sam. Dan Tuan Sam menoleh..
“Tuan, apa yang Anda lakukan malam malam begini?” suara pemilik sepasang mata itu yang tidak lain adalah Ibu pelayan senior, dengan suara keras.
“Hmm apa peduli kamu? Dan kenapa juga kamu malam malam ke sini, tidak tidur?” ucap Tuan Sam malah balik bertanya.
“Saaaya .... Sa saya.. .. mengecek keadaan saja karena Tuan dan Nyonya tidak ada di Mansion ini.” Suara ibu pelayan itu dengan terbata bata sebab tidak menyangka jika Tuan Sam malah balik bertanya. Yang sesungguhnya dia tidak bisa tidur karena perasaan yang tidak nyaman sejak kasus kunci kamar Alamanda dan kepergian Tuan dan Nyonya Ernest juga Alamanda yang tiba tiba.
“Aku disuruh Tuan Ernest untuk mengambilkan baju ganti pada mereka. Aku coba kunci tidak bisa maka akan aku congkel pintunya.” Ucap Tuan Sam berbohong.
“Malam ini juga aku harus mengantar baju ganti Tuan dan Nyonya Ernest itu ke rumah sakit.” Ucap Tuan Sam berbohong lagi.
“Tuan kalau hanya mau baju ganti buat mereka, di ruang laundry ada banyak baju mereka yang sudah disetrika rapi dan belum saya bawa ke kamar mereka karena kamar terkunci. Mari ikut saya ke ruang laundry.” Ucap Ibu pelayan senior sambil menatap tajam wajah Tuan Sam. Lalu dia membalikkan tubuhnya akan melangkah menuju ke ruang laundry.
“Sial.” Gumam Tuan Sam dalam hati, dan mau tidak mau dia mengikuti ibu pelayan senior untuk pergi ke ruang laundry.
“Bagai mana pun harus aku sampaikan pada Tuan Ernestan, apa benar dia menyuruh Tuan Sam mengambil baju ganti.” Gumam Ibu pelayan senior di dalam hati sambil melangkah menuju ke ruang laundry. Sedangkan Tuan Sam melangkah di belakangnya sambil berpikir pikir.
“Hmmm nanti aku coba lagi.” Gumam Tuan Sam dalam hati.
Sementara itu di tempat lain di hotel bintang lima tepatnya di kamar pengantin. Alamanda dan Marcel masih berendam air hangat plus minyak esensial aroma terapi di dalam bath up.
Marcel membelai belai wajah Sang istri.
“Sayang apa tadi terasa sakit? Maaf ya...” ucap Marcel sebab tadi melihat Alamanda sedikit meringis bagai menahan rasa sakit, namun Alamanda hanya diam saja tidak merintih atau pun menjerit kesakitan seperti yang dilakukan oleh Patricia dulu.
“Dikit..” jawab Alamanda sambil tersipu malu, sebab dia sudah diberi tahu oleh Sang Mama jika akan merasa sakit untuk pertama kalinya dan pesan dari Sang Mama agar dia melayani suami dengan sebaik baiknya maka dia hanya menahan saja rasa sakit itu.
“Apa enaknya yang banyak?” tanya Marcel sambil senyum menggoda dan Alamanda semakin tersipu sebab apa yang dikatakan oleh Marcel memang benar adanya. Marcel pun gemas melihat Alamanda yang tersipu. Lalu dia kembali mencium wajah sang istri, Alamanda pun semakin berani memberikan balasan ciuman pada sang suami. Bibir Marcel yang sudah menjadi candunya pun segera dilahap dan Marcel pun sangat menyukai itu.
“Kita lagi ya Sayang... “ bisik Marcel sambil mengusap rambut kepala Alamanda setelah mereka puas berciuman. Burung Marcel sudah mulai meronta lagi minta diaktifkan. Alamanda menganggukkan kepalanya. Marcel pun segera menciumi dan tangannya dengan beraktivitas pada bagian tubuh Alamanda yang sangat dia sukai.
“Sayang kalau sakit katakan ya.. jangan ditahan biar aku mengurangi gerakannya.” Bisik Marcel dengan suara parau.
“Enakan cepat...” suara lirih Alamanda dengan mata terpejam sebab menikmati setiap gerakan dan sentuhan dari Marcel. Marcel pun tersenyum dan mempercepat gerakannya pada bagian tubuh Alamanda yang disukainya.