Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 43.


“Aku Oma nya kamu jangan kurang ajar!” ucap Nyonya Wijaya dengan nada kesal.


“Nyonya saya hanya menjalankan perintah Tuan Marcel.” Ucap Henry masih dengan nada santun.


“Apa kalian itu tidak kasihan pada Nona Charlotte yang sendirian di dalam Mansion meskipun ada pengasuh dan banyak pelayan tetapi mereka bukan keluarga. Aku Oma kandungnya, Ibu kandung Patricia orang yang melahirkan Charlotte aku berhak akan hak asuh Charlotte. Kalau kamu melarang aku akan proses hak asuh Charlotte di jalur hukum.” Tantang Nyonya Wijaya sambil menatap tajam ke wajah Henry. Dan Henry pun tampak bingung.


Di saat Henry masih berdiri bingung, Nyonya Wijaya segera melangkah menuju ke mobilnya. Sang pengasuh Charlotte pun ikut melangkah di belakang Nyonya Wijaya.


“Oma, telepon Papa saja bilang kalau mengajak aku ke Mansion Wijaya biar aku tidak sendirian di Mansion Hanson.” Ucap Charlotte yang berada di dalam gendongan Nyonya Wijaya.


“Iya Sayang, nanti saat di dalam mobil.” Ucap Nyonya Wijaya dan segera melangkah masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sang sopir. Setelah Nyonya Wijaya masuk pintu mobil pun ditutup dengan rapat oleh sang sopir. Dan sang sopir lalu membuka pintu depan untuk sang pengasuh Charlotte. Setelah sang pengasuh juga masuk ke dalam mobil, pintu mobil ditutup rapat. Sang sopir melangkah cepat mengitari mobil bagian depan dan dia pun segera masuk ke dalam mobil.


“Cepat!” perintah Nyonya Wijaya pada Sang sopir. Mobil pun melaju meninggalkan Mansion Hanson.


Henry masih berdiri mematung, petugas penjaga pintu utama pun mendekati Henry.


“Kenapa kamu hanya berdiri mematung di sini. Kenapa kamu tidak mengikuti Nona Charlotte.” Ucap petugas penjaga pintu utama Mansion sambil menepuk pundak Henry dengan keras.


“Abang dengar tidak Nyonya Wijaya akan memroses hak asuh Nona Charlotte lewat jalur Hukum. Aku takut salah bertindak.” Ucap Henry yang tampak masih bingung.


“Ya sudah kamu cepat telepon Tuan Marcel. Tidak hanya berdiri saja di sini. Mengganggu pemandanganku.” Ucap petugas penjaga pintu utama lalu dia berjalan menuju ke tempat jaga nya.


Henry pun lantas terlihat mengambil hand phone miliknya yang berada di dalam saku kemejanya dia segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Tuan Marcel.


Sementara itu di rumah sakit, di ruang perawatan Nyonya Hanson, Marcel masih duduk di kursi di dekat pembaringan Nyonya Hanson. Sambil menunggu Sang Mama, Marcel juga bekerja memantau perusahaannya secara on line.


Marcel sejenak melihat Sang Mama yang sedang tertidur.


“Semoga Mama segera sehat dan cepat pulang. Dan akan segera aku ajak untuk melamar Alamanda.” Gumam Marcel yang masih menatap wajah Mamanya yang sedang tertidur.


“Aku sampai lupa tidak melobi Tuan Ernest agar dia membatalkan kontrak kerjanya dengan Alamanda dan diganti dengan perawat lainnya.” Gumam Marcel lalu menutup aplikasi yang dia gunakan untuk bekerja dan akan menghubungi Tuan Ernestan. Dia sudah memiliki nomor kontak Tuan Ernestan karena mereka berdua pernah juga melakukan kerja sama untuk urusan bisnis, meskipun sekarang sudah tidak. Namun Marcel masih menyimpan nomor kontak Tuan Ernestan.


Akan tetapi di saat Marcel masih mengusap usap layar hand phone miliknya. Tiba tiba terlihat layar hand phone miliknya berkedip kedip nama kontak Henry sedang melakukan panggilan suara. Marcel yang ingat akan Charlotte segera menggeser tombol hijau.


“Tuan, Nona Charlotte dibawa Nyonya Wijaya menuju Mansion Wijaya.” Suara Henry di balik hand phone milik Marcel.


“Apa kamu mengikuti Charlotte?” tanya Marcel dengan nada khawatir.


“Kamu ikuti mereka segera. Aku akan menghubungi Mama Wijaya.” Ucap Marcel lalu memutus sambungan teleponnya.


“Hmmm kenapa Mama Wijaya menambah masalah saja.” Gumam Marcel dalam hati lalu dia mengusap usap layar hand phone miliknya untuk mencari nama kontak Mama Wijaya, dia menunda lagi untuk menghubungi Tuan Ernestan.


Akan tetapi berkali kali Marcel mencoba menghubungi nomor hand phone milik Nyonya Wijaya tidak bisa terhubung. Pertama kali terdengar nada sibuk akan tetapi setelah nya nomor itu sudah tidak lagi aktif.


Tidak kehilangan akal Marcel pun lalu menghubungi nomor tablet milik Charlotte. Terhubung akan tetapi tidak diterima oleh Charlotte.


“Kenapa Charlotte tidak menerimanya, apa dia tidak memegang tabletnya. Tidak mungkin dia pergi tidak membawa tablet nya.” Gumam Marcel dalam hati yang mulai gelisah.


“Charlotte satu satunya harta berharga peninggalan Patricia tidak mungkin aku bisa berpisah dengan Charlotte. Mama cepat sembuh Ma...” gumam Marcel dalam hati sambil menunggu panggilan videonya diterima oleh Charlotte.


“Nak... cepat terima panggilan Papa. Papa cemas Nak...” gumam Marcel sekali lagi.


Dan sesaat kemudian panggilan pun diterima oleh Charlotte dan di layar hand phone milik Marcel terlihat wajah Charlotte yang tersenyum.


“Maaf Papa, tablet di dalam tas dibawa oleh Nanny. Nanny lama mengambil tablet nya.” Suara Charlotte selanjutnya nada suaranya terdengar riang karena dia akan berjumpa dengan keluarga Mama Patricia yang sangat dia rindu.


“Sayang, Papa mau bicara dengan Oma Mama.” Ucap Marcel selanjutnya.


“Iya Papa, tadi Oma mau menghubungi Papa tapi hand phone Papa sibuk, terus Oma menghubungi Tante Valecia agar membuatkan makanan buat aku.” Ucap Charlotte masih dengan senyum di bibirnya.


“Tetapi sekarang baterai hand phone Oma Mama habis. Karena Tante Valecia omong banyak dengan aku he... he.. he...” Suara Charlotte lagi sambil tertawa kecil. Lalu menyerahkan tablet miliknya pada Oma Wijaya.


“Apa?” suara Nyonya Wijaya terdengar ketus. Karena tidak suka dia dilarang untuk membawa Charlotte.


“Ma, Mama boleh membawa Charlotte akan tetapi nanti saat saya sudah pulang menunggu Mama Hanson biarkan Charlotte tetap berada di Mansion Hanson.” Ucap Marcel dengan hati hati, dia benar benar tidak ingin kehilangan hak asuh Charlotte puteri semata wayangnya. Nyonya Wijaya hanya diam saja lalu memutus sambungan panggilan video dari Marcel itu.


Marcel mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin dia bangkit berdiri untuk menyusul Charlotte akan tetapi Sang Mama masih membutuhkan kehadirannya.


“Ma, cepat sehat Ma... Aku tidak ingin kehilangan hak asuh Charlotte karena untuk ganti kesalahan Mama di masa lalu.” Ucap Marcel sambil mengusap usap lengan Sang Mama. Nyonya Hanson yang merasa sentuhan tangan Marcel dan suara Marcel pun tiba tiba membukakan matanya.


“Apa kamu bilang?” tanya Nyonya Hanson dengan nada dan ekspresi wajah kaget menatap Marcel yang tampak wajahnya kembali kusut.