
“Mama Wijaya akan mengambil hak asuh Charlotte.” Ucap Marcel dan kembali mengusap wajahnya dengan kasar.
“Mama tahu kan, Charlotte adalah hidupku Ma. Aku melakukan apa pun demi Charlotte, bekerja siang malam demi Charlotte, Masa depanku dan demi Mama yang sudah mengandung dan melahirkan aku.” Ucap Marcel yang kini menangkup wajah dengan kedua telapak tangan kekarnya. Masalah yang datang bertubi tubi benar benar membuat otak Marcel kini membeku sesaat. Beruntung perusahaan lancar lancar tidak ada masalah yang berarti.
“Ya sudah aku rawat di Mansion saja. Agar Charlotte bisa kembali ke Mansion.” Ucap Nyonya Hanson yang tidak tega melihat anak laki lakinya yang baru down itu.
“Benar Ma? Aku akan meminta Dokter Willy menyiapkan segala fasilitas terbaik buat Mama.” Ucap Marcel yang kini membuka kedua telapak tangannya yang tadi menangkup wajahnya.
Nyonya Hanson pun menganggukkan kepalanya.
“Hmmm aku dulu tidak suka dengan Charlotte karena dia cucu perempuan ditambah penyakitan pasti akan menjadi beban keluarga saja. Tetapi Charlotte sekarang sudah sembuh dan dia tampaknya sangat cerdas dibanding anak anak seusianya. Dan kalau Marcel jadi menikah dengan perawat itu pasti keturunan nya ....” gumam Nyonya Hanson dalam hati sambil melihat Marcel yang sedang sibuk dengan hand phone.
“Hah kenapa Marcel tertarik dengan perempuan dari kalangan bawah.. Tidak menyangka aku akan memiliki cucu berdarah kaum marginal...” gumam Nyonya Hanson lagi di dalam hati. Nyonya Hanson belum bisa menerima sepenuhnya jika Marcel akan menikahi Alamanda akan tetapi Nyonya Hanson terpaksa harus memberi restu agar dirinya tidak diusir oleh Marcel. Sebelumnya dia berharap dengan berlama lama di rumah sakit, bisa untuk menunda nunda acara lamaran Marcel pada Alamanda. Akan tetapi tidak menyangka jika sang besan perempuannya akan mengambil hak asuh Charlotte, dan itu akan membuat Marcel, anak laki lakinya menjadi stres.
Sementara di tempat lain, mobil yang membawa Charlotte sudah memasuki pintu gerbang Mansion Wijaya. Mobil terus berjalan pelan pelan mendekati pintu utama Mansion. Charlotte tampak tersenyum senang sebab dia akan bertemu dengan keluarga Mama Patricia, ada sebagian kerinduan pada Sang Mama terobati apalagi wajah Oma Wijaya dan Tante Valecia memiliki garis garis wajah yang mirip dengan sang Mama Patricia.
Pintu utama Mansion pun terbuka dan muncul seorang gadis yang cantik, gadis yang berusia kira kira delapan belas tahun dia lah Valecia adik kandung dari Patricia. Valecia yang juga sudah sangat rindu dengan Charlotte pun lalu berlari menuju ke mobil yang sudah berhenti.
“Charlotte.... I miss you...” teriak Valecia sambil terus berlari dan segera membuka pintu mobil.
“Kamu sudah besar dan gemuk ya sekarang.” Ucap Valecia saat sudah membuka pintu mobil dan melihat sosok Charlotte yang sedang tersenyum lebar, pipinya kini memang sudah gembul tidak lagi tirus seperti pada saat sel kanker masih bersarang di tubuhnya.
Valecia pun segera menggendong tubuh Charlotte.
“Aduh berat sekarang.” Ucap Valecia sambil terus berjalan menuju ke dalam Mansion. Charlotte pun tertawa bahagia. Nyonya Wijaya dan sang pengasuh Charlotte berjalan mengikuti langkah kaki Valecia.
Valecia langsung membawa Charlotte ke ruang makan. Nyonya Wijaya mengantar sang pengasuh Charlotte menuju ke kamar yang sudah di sediakan buat Charlotte dan dirinya.
“Charlotte cantik, Tante sudah siapkan makanan buat kamu. Karena kamu datang mendadak jadi Tante pesankan saja makanan ini dari restoran terkenal.” Ucap Valecia sambil menunjukkan hidangan di meja makan.
Charlotte melihat menu di meja makan yang lebar itu, semua menu sangat mengiurkan. Sate bakar yang terlihat sangat lezat, steak daging merah tampak menggoda dan banyak makanan junk food kesukaan anak anak dan remaja. Tidak ada menu sayuran dan buah segar di meja makan itu. Dan tiba tiba Charlotte teringat pesan dari Ners Alamanda, agar tetap menjaga pola makan biar sel kanker tidak lagi muncul di dalam tubuhnya.
“Terima kasih Tante cantik tersayang, tetapi aku harus diet sehat. Harus makan, makanan yang sehat.” Ucap Charlotte sambil menatap Valecia yang masih menggendong dirinya.
“Iya Oma, tapi kata Ners Alamanda harus tetap makan, makanan yang sehat. Sesekali boleh sih... he.. he...” ucap Charlotte sambil tertawa kecil dia tidak ingin membuat kecewa orang orang yang sudah menyiapkan makanan untuk dirinya. Alamanda pun juga mengatakan pada dirinya jika sesekali boleh.
“Hmmm mungkin perawat itu sengaja agar kamu tidak makan yang enak enak.” Ucap Nyonya Wijaya malah negatif thinking pada Alamanda.
“Belum menjadi Mama tirinya saja sudah ngatur ngatur yang menyiksa.” Gumam Nyonya Wijaya lagi yang tidak paham maksud baik Alamanda.
Sedangkan di luar pintu gerbang mansion Wijaya. Mobil yang dikemudikan oleh Henry berhenti di depan pos penjaga pintu gerbang. Henry menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Pak.” Suara Henry agak keras pada petugas penjaga pintu gerbang itu. Harusnya penjaga pintu gerbang sudah mengenal mobil milik Tuan Marcel yang sering mengantar Charlotte bila berkunjung ke Mansion Wijaya.
Petugas penjaga pintu gerbang itu hanya diam saja dan tetap tidak membukakan pintu gerbang.
“Hmmm dia tuli apa ya.” Gumam Henry lalu mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobil lalu turun dari mobil. Henry berjalan menuju ke pos penjaga pintu gerbang itu.
“Pak, buka pintunya.” Ucap Henry saat sudah berada di depan petugas pintu gerbang itu.
“Maaf, saya diperintah oleh Nyonya Wijaya untuk tidak membukakan pintu kalau mobil milik Tuan Marcel akan masuk ke dalam Mansion.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang dengan nada datar.
“Tapi saya diperintah oleh Tuan Marcel untuk menjaga Nona Charlotte dan mengikuti dia.” Ucap Henry dengan nada panik.
“Jangan khawatir dengan keselamatan Nona Charlotte. Keluarga Wijaya adalah keluarga Mama kandung Nona Charlotte mana mungkin akan mencelakakan Nona Charlotte.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang itu.
Henry masih terus berusaha agar dibukakan pintu buat dirinya. Akan tetapi tetap saja penjaga pintu gerbang itu tidak berani membukakan pintu buat Henry.
“Bagai mana ini aku bisa kena pecat dari Tuan Marcel.” Gumam Henry dalam hati sambil membalikkan tubuhnya untuk kembali menuju ke mobilnya.
“Aku hubungi Tuan Marcel saja.” Ucap Henry dalam hati sambil membuka pintu mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, dia segera mengambil hand phone miliknya yang tadi dia taruh di atas dash board mobil. Henry segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Tuan Marcel.
“Kok hand phone Tuan Marcel, sibuk terus. “ gumam Henry dalam hati karena terdengar nada sibuk terus saat mencoba menghubungi Tuan Marcel.
Sesaat Henry tersentak kaget. Sebab pintu kaca mobil diketuk ketuk dengan keras.