Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 68.


Petugas penjaga pintu utama Mansion itu tidak menjawab akan tetapi membalikkan tubuhnya dan menuju ke tempat dia berjaga. Tangannya terulur masuk ke dalam laci meja dan setelah nya dia kembali melangkah mendekati Marcel dengan tangan membawa satu buah paper bag yang membuat hati Marcel lega. Sebab paper bag itu, paper bag khusus toko perhiasan.


“Ini Tuan.” Ucap petugas penjaga pintu utama Mansion itu sambil menyerahkan paper bag yang di dalamnya berisi satu set perhiasan.


“Bulan depan kamu naik gaji.” Ucap Marcel menerima paper bag itu dan segera masuk ke dalam Mansion utama.


Keesokan paginya di sebuah sekolah tempat Charlotte berada.


Charlotte wajahnya masih terlihat mengantuk karena dia bangun lebih pagi sebab perjalanan dari villa ke sekolah lebih jauh. Nyonya Wijaya sudah menyuruh Charlotte untuk tidur lagi di dalam mobil akan tetapi Charlotte tetap tidak bisa tidur lagi. Satu satu semangat dia untuk pergi ke sekolah adalah nanti dijemput oleh Sang Papa yang sudah sangat dia rindukan.


“Sayang kamu segera masuk ke dalam kelas, itu teman teman kamu sudah masuk ke dalam kelas.” Ucap Nyonya Wijaya pada Charlotte sebab Charlotte masih berdiri di dekat mobil. Tangan Nyonya Wijaya pun terulur untuk menggandeng tangan mungil Charlotte, sedang sang pengasuh masih duduk di dalam mobil.


“Iya Oma, aku masuk ke kelas setelah Oma pergi.” Ucap Charlotte sambil menatap Nyonya Wijaya yang juga berdiri di dekat mobil.


“Oma akan menunggu kamu di sini sampai kamu selesai.” Ucap Nyonya Wijaya lalu menggandeng tangan mungil Charlotte.


DEG


Jantung Charlotte berdetak lebih kencang. Dia berpikir jika Sang Oma menunggui dirinya pasti Papa nya akan kesulitan lagi untuk menjemput dirinya.


“Oma biar Nanny saja yang menungguku.” Ucap Charlotte sambil mendongak menatap Sang Oma dengan ekspresi wajah ngantuknya penuh permohonan.


“Hmmm ayo Sayang itu sudah terdengar bel masuk.” Ucap Nyonya Wijaya lalu menggendong tubuh mungil Charlotte dan segera berjalan menuju ke dalam kelas.


Dan saat di dalam kelas. Charlotte yang masih mengantuk dan sedih hatinya karena rencana nya gagal itu hanya diam saja di dalam kelas. Charlotte tampak tidak bersemangat mengikuti pelajaran.


“Charlotte kenapa tampak berbeda, meskipun dia sering malas di kelas karena jenuh tetapi tidak seperti hari ini.” Gumam salah satu Ibu Guru yang memperhatikan Charlotte. Ibu Guru itu lalu mendekati meja Charlotte sebab Charlotte hanya diam saja sejak tadi. Tugas tugas nya tidak disentuhnya dan dia tidak mau mengikuti permainan. Sedang biasanya kalau dia malas justru akan lebih cepat menyelesaikan tugasnya lalu dia sibuk dengan tabletnya, setelah mendapat izin dari Guru. Dan selalu mau bergabung dengan teman temannya untuk mengikuti permainan.


“Charlotte apa yang kamu rasakan?” tanya Ibu Guru sambil mengusap puncak kepala Charlotte.


Akan tetapi ibu Guru itu langsung kaget sebab puncak kepala Charlotte terasa panas.


“Sayang kamu sakit?” ucap Ibu Guru sambil telapak tangannya memegang dahi Charlotte. Ibu Guru yang merasa dahi Charlotte panas langsing menggendong Charlotte dan membawanya keluar dari kelas.


Ibu Guru itu langsung mencari orang yang menunggu Charlotte.


“Ada apa dengan cucu saya?” tanya Nyonya Wijaya saat melihat Ibu Guru menggendong Charlotte dengan tergopoh gopoh dan ekspresi wajah panik.


“Nyonya, tubuh Charlotte demam, kita bawa ke UKS di sana ada tenaga medis atau bisa langsung Nyonya bawa ke dokter pribadinya.” Ucap Ibu Guru sambil menyerahkan tubuh Charlotte.


Nyonya Wijaya pun segera membawa Charlotte masuk ke dalam mobil dan mobil berjalan dengan kencang menuju ke rumah sakit untuk menemui Dokter Willy, sebab sang pengasuh sudah menelepon Dokter Willy dan Dokter Willy sedang praktek di rumah sakit.


“Cepat Pak!” perintah Nyonya Wijaya pada Pak Sopir dengan tidak sabar.


“Charlotte kenapa kamu tiba tiba demam Sayang?” ucap Nyonya Wijaya sambil mengusap usap kepala Charlotte, tubuh Charlotte tampak lemas di dalam pelukannya. Dan Charlotte hanya diam saja.


Mobil terus melaju menuju ke rumah sakit.


Sedangkan di lain tempat di gedung Hanson Co. Marcel masih sibuk di depan kerjanya.


“Tuan meeting antar divisi yang dibatalkan akan diganti kapan?” tanya Zena sambil menyerah kan berkas berkas di meja kerja Marcel.


“Hmmm besok sore saja. Hari ini suruh semua kepala divisi mengirim laporan. Aku akan menjemput Charlotte lebih awal. Dan mungkin aku akan melanjutkan kerja dari Mansion. Ini semua berkas sudah aku tanda tangani yang harus selesai hari ini.” Ucap Marcel sambil sekilas melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Zena tampak kecewa sebab jika Marcel kerja dari Mansion dia tidak bisa menatap wajah tampan Marcel.


Setelah Marcel selesai dengan pekerjaannya. Dia segera bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Dia akan segera menjemput Charlotte.


Marcel melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia ingin segera sampai ke sekolah dan segera bertemu dengan puteri semata wayangnya yang sangat dia rindu. Marcel belum tahu jika Charlotte sudah pulang karena sakit. Sebab Sang pengasuh dan Nyonya Wijaya belum menghubungi dirinya entah karena masih sibuk mengurus Charlotte atau memang sengaja belum menghubungi karena takut Marcel akan marah kepada mereka sebab sudah membuat Charlotte sakit.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman sekolah Charlotte suasana tampak masih sepi. Pintu pintu kelas masih tertutup, Anak anak siswa masih belajar di dalam kelas. Hanya tampak beberapa penunggu siswa duduk di tempat tunggu dengan tenang. Sekilas dari dalam mobil Marcel melihat para penunggu siswa itu tidak tampak sosok pengasuh Charlotte. Jantung Marcel berdetak lebih kencang.


“Nanny sudah kupesan agar selalu menjaga Charlotte kenapa dia tidak terlihat, apa dia sedang ke toilet.” Ucap Marcel lalu dia menghentikan mobilnya.


Dan tidak lama kemudian petugas keamanan sekolah dan beberapa penunggu berjalan mendekati mobil Marcel. Jantung Marcel pun berdetak semakin kencang. Perasaannya mulai tidak nyaman. Marcel membuka pintu mobil dengan segera.


“Tuan Charlotte sakit.” Suara mereka saat pintu mobil Marcel sudah terbuka. Marcel yang mendengar kata Charlotte sakit segera melangkah keluar dari mobil dengan tergopoh gopoh dia masih mengira Charlotte berada di UKS bersama pengasuhnya.


“Tuan Nona Charlotte sudah di bawa pulang karena sakit.” Ucap petugas keamanan sekolah sambil mengikuti langkah kaki Marcel yang menuju ke UKS.


“Kenapa aku tidak dihubungi?” ucap Marcel dengan nada tinggi lalu dia kembali melangkah menuju ke mobilnya, akan tetapi dia tampak bingung.


“Charlotte dibawa pulang ke mana?” tanya Marcel pada petugas keamanan.


“Sepertinya di bawa ke rumah sakit Tuan kalau saya tidak salah dengar. Tuan tanya pada ibu Guru atau pada Oma nya yang membawa.” Ucap salah seorang penunggu siswa yang tadi mendengar pembicara Ibu Guru dan Nyonya Wijaya.


Marcel pun lalu mengambil hand phone dari saku jas nya untuk menghubungi Nyonya Wijaya.